Arsip June, 2013

Jadi Family Sabang Merauke

28 Jun 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 6

Sabang Merauke.

Dua kata yang memenuhi benak saya selama beberapa minggu ini. Awal perkenalan saya dengan Sabang Merauke adalah saat Lalu Abdul Fatah yang biasa dipanggil Fatah mengunggah foto Sabang Merauke di facebook. Di foto tersebut disebutkan kalau Sabang Merauke sedang mencari Anak Sabang Merauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Family Sabang Merauke (FSM).  Membaca deskripsinya, saya tertarik! Fatah pun menawarkan untuk mengirim formulir ke saya via email. Yay, saya senang banget! Setelah berdiskusi dengan suami mengenai hal ini, kami pun sepakat untuk mendaftar sebagai FSM. Iyalah, daftar sebagai anak dan kakak sudah nggak mungkin soalnya. Mungkin nanti Cha yang akan jadi ASM dan dikirim ke daerah lain di Indonesia. Aamiiin.

Beberapa minggu kemudian, sebuah email dari Sabang Merauke datang. Mereka mengabarkan kalau kami lulus seleksi berkas dan akan dikunjungi oleh salah satu Tim Seleksi. Saya pun berjanjian dengan Kak Tidar karena beliau yang akan ke rumah kami. Kak Tidar bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas keluarga dan yang utama adalah apakah kami bersedia jika ASM yang menginap di rumah kami berasal dari suku dan agama yang berbeda? Alhamdulillah, kami sepakat untuk menerima dari mana pun mereka berasal.

Selain itu, kami juga mengobrol banyak hal mengenai Sabang Merauke. Saya tak henti-hentinya terperangah mendengar cerita Kak Tidar. Saya kaget ketika tahu bahwa orang-orang yang ada di Sabang Merauke adalah para pekerja penuh waktu dan menggunakan waktu setelah bekerja untuk mengurus Sabang Merauke. Soalnya tadinya saya mengira mereka memang bekerja di Sabang Merauke. Kak Tidar juga bercerita pengalaman serunya sewaktu menjadi pengajar muda di Indonesia Mengajar dan ketika menyeleksi anak-anak Sabang Merauke.

Tak lupa Cha juga memeriahkan wawancara malam itu dengan aksi dinonya. Maaf ya, Kak Tidar. Baru pertama kali ketemu, langsung disambut oleh dinosaurus. ^_^

Tak lama setelah kunjungan Kak Tidar ke rumah, saya menerima email kalau kami terpilih menjadi Family Sabang Merauke. Waaah, alhamdulillah, tak terkira senangnya. Kalau kata Fatah, “Bakal jadi pengalaman kece banget, Mbak!”

 

Orientasi Awal

Hari Minggu kemarin, KSM dan FSM diundang Sabang Merauke untuk menghadiri orientasi awal. Saya dan suami menyesal banget datang ke acara ini. Menyesal karena nggak membawa Cha. Bayangan saya acara ini akan resmi sekali, jadi saya pun menitipkan Cha ke nenek dan kakeknya. Ternyata oh ternyata, acaranya seru!

Setelah acara pembukaan, kami semua diajak berkenalan dengan permainan. Membuat lingkaran, lalu setiap orang menghitung satu dua, satu dua, sampai selesai. Instruktur akan memberi aba-aba yang harus diikuti. Kami harus melompat, balik kanan/kiri sesuai nomor, miringkan kepala sambil senyum, berjabat tangan, dan bertanya, “Halo, apa kabar? Saya baik-baik banget.” sambil melompat-lompat. Di sesi ini pipi rasanya pegal karena tertawa.

Belum hilang pegalnya, kami harus menulis nama hewan atau tumbuhan di sebuah kertas dan minta tolong teman untuk menempelkan kertas tersebut ke punggung. Lalu setiap orang akan memperkenalkan diri sesuai nama hewan atau tumbuhan yang ditulis. Ada yang mengatakan “Saya kutu!” “Saya hamster” “Saya beringin!” “Saya melati!” Pipi pun semakin pegal karena tertawa melihat aksi yang lucu-lucu.

Dari awal sampai akhir acara, permainan terus ada. Namun ada juga sesi serius tapi santai. Terutama saat kami diminta membuat kelompok dan membahas mengenai pendidikan, keIndonesiaan, dan toleransi. Juga saat kami diminta untuk membuat daftar peran sebagai KSM, FSM, dan SSM (Saudara Sabang Merauke). Sehabis makan siang, ada Mas Adam dan Mbak Hani yang bercerita mengenai pengalamannya sebagai host family. Di sesi ini Kak Tidar kembali membuat terharu dengan ceritanya mengenai pengalamannya menangani anak-anak di daerah.

Di hari itu saya belajar banyaaaaak sekali. Belajar mengenai kepedulian para pendiri, perumus, dan pendukung Sabang Merauke pada anak-anak Indonesia. Mereka tak ingin kebencian hadir hanya karena sesuatu hal yang turun-temurun. Seperti cerita Kak Ayu yang pernah mengajar di suatu daerah yang 100% Islam. Penduduk di sana takut pada orang dari satu agama tertentu, padahal mereka belum pernah ketemu dengan orang dari agama tertentu itu. Orang-orang hebat di balik Sabang Merauke berpikir bahwa toleransi itu tidak hanya diajarkan, tapi harus dirasakan. Saya sangat setuju dengan hal ini. Filosofi ini pun sejalan dengan lomba menulis mengenai xenophobia yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Saya belajar untuk mengenal anak-anak Indonesia dari cerita-cerita Kak Tidar.

Saya belajar mengenai keseriusan Sabang Merauke dalam mengorganisir sesuatu. Mereka rapi serta detil dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Di hari itu, kami mendapat nama ASM yang akan tinggal di rumah kami selama dua minggu. Ia seorang anak perempuan aktif dan cerdas yang berbeda suku serta agama dengan kami. Semoga, semoga, semoga, kami bisa menjadi keluarga yang baik untuknya. Dari kemarin Cha sudah sibuk bertanya, “Kapan kakakku datang?” dan tadi sore Cha menggambar sesuatu untuk kakaknya itu serta bertekad, “Besok kalau ketemu, mau aku peluk, ya.”

Malam ini, anak kami tersebut, kakak Cha, sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Ia akan bertemu ASM lain dan bertemu panitia dari Sabang Merauke. Menumpuk sekali rasa salut saya untuk kakak-kakak panitia Sabang Merauke. Semoga semua yang direncanakan akan berjalan dengan indah dan memberi kebaikan serta manfaat bagi banyak pihak.

 

orientasi SM

 

Bermain Kata dan Liukkan dengan Rima

11 Jun 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

caca2

Dua minggu lalu, di grup Komunitas Penulis-Bacaan-Anak saya mengikuti kuis yang diadakan oleh Mbak Agnes Bemoe. Kuisnya sederhana, tapi menarik. Para peserta diminta membuat ajakan atau larangan dengan menggunakan kalimat berima, seperti ini Nice to see nice to hold. Once it’s broken consider sold.” Mbak Agnes membaca kalimat tersebut di sebuah toko pernak-pernik di Singapura.

Sambil menemani Cha makan siang, saya bercerita mengenai kuis menarik ini. “Apa ya, Cha?” tanya saya sambil memikirkan membuat kalimat dengan rima. Lalu, muncullah kalimat ini, “Taruh rokok, ambil permen. Bikin badanmu berotot, tampilan makin keren!” Kalimat ini terinspirasi dari kesukaan Cha untuk mengampanyekan anti-rokok ke orang-orang yang ditemuinya dan artikel yang saya baca agar mengganti rokok dengan permen bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok. Cha tertawa mendengar kalimat itu. “Bagus, Mi!”

Saya mencoba membuat kalimat lain lagi. “Masuk masjid kaki kanan, keluar kaki kiri. Berdoa yang tenang, jangan ribut sendiri.” Cha mengangguk-angguk sambil mengunyah makanan.

Ternyata Cha pun ingin ikut mencoba. “Dino lagi makan, terus teriak roooar!” Saya pun menyahut, “Caca ayo makan, habis itu kita ke mal!” Wahaha, kami tertawa bersamaan.

Sahut-sahutan kalimat berima di antara kami terus berlanjut. “Anak cantik nggak usah takut disuntik. Sakitnya.. cuma sedikit.” Hihihi, Cha melipir mendengar kalimat ini. “Tapi, aku masih takut disuntik,” sahutnya lucu.

“Tak perlu malu kalau kau pakai baju. Tapi kau perlu malu kalau tak punya ilmu,” sahut saya.

Cha pun masih semangat bermain kata. “Genteng bocor, ambil permen. Jadilah hujan permen.” Saya tertawa mendengarnya. Meski belum berima, kalimatnya tetap lucu.

“Naik mobil, bisa terbang. Jadilah mobil terbang.” Hihihihi, perut saya semakin sakit mendengar ocehan sekaligus khayalan Cha yang ingin punya mobil terbang. :D

Keesokan harinya saat sedang jalan-jalan ke sekitar rumah, Cha menemukan mainan baru, lalu berkata, “Besok mainan ini akan kubawa. Biar teman-temanku pada tertawa.” Spontan saya berteriak, “Waaah, itu rima, Cha.”

Kesukaan Cha membaca buku Dr. Seuss terutama yang Fox in Socks membawa kami pada kalimat-kalimat rima yang lain. Apalagi di buku ini, sampul depannya bertuliskan, “This book is DANGEROUS!” Rimanya ampun-ampun kreatifnya. Sepertinya semakin berbahaya, Cha semakin suka. Tinggal lidah saya yang rasanya sepertinya terlilit dan pipi pegal setelah membaca buku itu.

“Cha, kalau fox, socks, box, knox di buku Dr. Seuss itu berima. Apa kata yang serima sama kotak, ya?”

Cha menyebutkan kata-kata yang sebenarnya tidak berima dengan kotak. Saya memberi contoh. “Seperti ini, Cha. Kotak, pitak, botak.”

Hahaha, Cha tertawa dan mengulang-ulang kalimat tersebut. “Kotak, pitak, botak. Kotak, pitak, botak.”

Sesuatu di dalam otak masih bertanya-tanya, “Gimana cara Dr. Seuss bisa menulis cerita berima dengan rima yang sedemikian kreatifnya, ya?” Dulu saya pernah baca kalau Dr. Seuss mencari ratusan bahkan ribuan kata berima, baru menuliskannya. Hmm, kalau saya membuat cerita berima, paling hanya mengumpulkan belasan kata berima. >.<

Kemarin sore, sehabis main hujan-hujanan, Cha mandi dengan air hangat. “Ayo, mandi dengan air hangat. Kakak pintar tetap semangat.” Kalimat ini spontan saja keluar dari mulut saya. “Wah, rima lagi,” sahut saya sambil tersenyum.

Semoga besok, besoknya lagi, dan besok besoknya lagi, kami akan terus menikmati permainan ini: bermain kata dan liukkan dengan rima. Yuk, main bersama!

 

 

 

Konflik Bocah dan Penyelesaiannya

10 Jun 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

caca1

Sudah beberapa lama Cha dan saya heran dengan tingkah laku tetangga kecil yang berinisial N, 5 tahun. Ketika kami sedang jalan, dia sering melotot ke arah Cha, bahkan kadang membentak Cha dengan tiba-tiba. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Cha menjadi ketakutan dan setiap kami berpapasan lagi dengan N, saya meminta Cha untuk tidak melihat ke arah N.

Suatu siang, kami lagi berada di kamar depan karena mau tidur. Tiba-tiba terdengar suara N bersama temannya. Dia memanggil-manggil tetangga depan rumah. Tapi ternyata tetangga itu tidak sedang di rumah. Lalu terdengar N berkata ke temannya, “Ini rumahnya Cha Cha. Tapi, aku nggak suka sama dia.”

Deg! Buat saya, perkataan itu cukup menyakitkan, tapi namanya anak-anak, ya. Saya pun berusaha eling alias diam saja menunggu reaksi Cha. Apakah dia sedih, marah, atau …? Ternyata respon Cha agak di luar dugaan. Sambil santai berbaring, Cha bilang, “N kenapa ya, sekarang nggak suka sama Cha Cha? Padahal dulu kan, N baik.”

Saya ikut bertanya. “Iya ya, kenapa ya? Apa Cha pernah berbuat nggak baik ke N, jadi N marah?”

“Nggak,” katanya pasti.

“Oke, kalau N nggak suka nggak apa-apa, yang penting kita tetap baik. Sip?” Dalam hati saya bersyukur bisa berkata seperti ini, meski dalam hati ada saja gangguan untuk bilang, ‘Udah, Cha, ngapain main sama N? Suka ngebentak, teriak-teriak, melotot, kadang gedor-gedor pagar lagi. Udaaah, cari temen lain aja.

“Sip!” sahut Cha sambil mengerlingkan mata.

Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, Cha masih takut kalau ketemu N. Dia memilih lari masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di kamar, lalu bilang, “Ummi, ada N. Tutup pintunya, Mi.”

Kemarin sore, di rumah kami lagi ada beberapa tukang. Tiba-tiba N berteriak memanggil Cha, tapi Cha sedang di kamar mandi. Saat Cha selesai mandi dan mengintip ke luar, N sudah nggak ada. Cha melihat beberapa temannya sedang asyik main bola. Cha pun izin ingin ikut main.

Ketika hampir maghrib, Cha pamit ke temannya mau pulang. Lalu temannya itu menawarkan agar Cha main ke rumahnya. Cha jawab, “Besok lagi aja, ya. Udah mau maghrib. Aku mau salat.” Ahiiiiy, alhamdulillah, dari dalam rumah, saya senyum lebar mendengarnya. Soalnya dulu-dulu Cha kalau main ke rumah kawan, meski sudah maghrib, ogah diajak pulang.

Sesampainya di rumah, Cha cerita. “Mi, tadi ada N, tapi kayanya wajahnya sedih. Dia nggak ada temen main.”

“Oh iya? Terus gimana dong, Cha?”

Cha diam sebentar, lalu bilang, “Ah, aku tau!” Belum sempat Cha melanjutkan ucapannya, N memanggil dari depan rumah. Entah kenapa, kali ini Cha berani keluar.

“Cha, aku mau main boleh nggak?” tanya N. Tuh kan, bocah ya. Kemarin membentak dan bilang nggak suka, tapi tahu-tahu ngajak main.

“Tapi ini udah mau maghrib.”

“Oh, kalo gitu, besok ya.”

“Oke, besok ya.” Cha sudah mau masuk rumah, tapi terus berbalik. “O iya, N. Kalo main sama temen, yang baik, ya. Jangan suka marah-marah, teriak-teriak.”

Glek! Saya kaget campur senang mendengar Cha bicara seperti itu.

“Hmmm… Oke,” jawab N sambil lari ke rumahnya.

Masuk ke rumah, Cha senyum ceria sekali. “Nah gitu, Mi, caranya. Aku tau sekarang. Kalo N marah-marah lagi, aku bilang aja, “N, kalo sama temen yang baik.””

Cha pun mengajak saya tos.

Aaaah, senangnya. Saya bersyukur sekali bisa nggak terlalu banyak bicara dan mengatur, meski godaan itu terus hadir. Membiarkan Cha menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya.

Jika biasanya Cha suka bertanya, “Jadi, gimana masalahnya?” mungkin nanti pertanyaannya akan diubah menjadi, “Jadi, gimana penyelesaiannya?”