Arsip July, 2013

Farewell Dinner Sabang Merauke

16 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 2

Sebenarnya, sebelum acara farewell dinner, di hari yang sama, ada acara orientasi akhir yang  diperuntukkan untuk Anak Sabang Merauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Family Sabang Merauke (FSM). Tapi sayang kami tidak bisa hadir karena Cha demam. Jadi kami hanya mengikuti farewel dinner di malam hari. Itu pun tadinya sudah mau tidak jadi karena Cha masih demam, tapi ia ingin sekali ketemu kakak-kakak.

Acara farewell dinner dibuka oleh Kak Putri sebagai MC. Lalu ada sambutan dari Bu Yani selaku tuan rumah, Pak Anies Baswedan, dan Kak Ayu Kartika Dewi sebagai perwakilan dari Sabang Merauke. Kemudian acara diisi dengan buka puasa bersama, salat Maghrib berjamaah, dan makan malam.

Sehabis makan malam, ada beberapa tampilan menyanyi dari anak-anak SLB Elsafan dan ASM. KSM pun sempat diminta berbagai pengalamannya selama mengasuh ASM.

Satu yang tak saya perkirakan adalah ada sesi para FSM berbagi cerita. Sambil mendengarkan cerita yang lain, saya pun bersiap-siap untuk berbagi pengalaman. Tapi ternyata, meski yang ingin saya sampaikan masih ada di benak, saya sudah berkali-kali menahan air mata. Jadi saya putuskan untuk tidak berbicara saat itu, cukup diwakili oleh suami, dan bertekad untuk menuliskan pengalaman saya.

 

Kemandirian Spiritual Seorang Anak 14 Tahun

Ada satu pesan dari seorang guru yang insyaAllah akan terus saya ingat. Semangatnya berjalan dan naik turun angkot untuk menyebar kebaikan, meski harus berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat, tidak akan saya lupakan. Di sebuah kajian, ia menyampaikan dengan semangat –salah satu ciri khasnya ketika berbicara–, “Jadi seorang muslimah itu harus memiliki kemandirian spiritual. Kita nggak tahu suami seperti apa yang akan kita dapatkan nanti. Kalau ia bisa menjadi imam yang baik, alhamdulillah. Tapi kalau ia masih suka lalai dalam melaksanakan salat dan belum tergerak untuk mengaji, kita jangan lantas mengikutinya. Kita harus bisa bangkit sendiri. Menunaikan salat tepat waktu dan belajar terus tentang agama. Syukur jika nanti suami akan beriringan dengan langkah kita.”

Saat itu memang konteksnya adalah muslimah karena yang saya ikuti adalah kajian muslimah. Tapi menurut saya, pesannya itu bisa digeneralisasikan menjadi: Setiap orang, tak peduli agama, suku, dan usia, harus memiliki kemandirian spiritual.

Di hari pertama Villa (ASM asal Pasuruan) tinggal di rumah kami, saya seperti biasa bangun sekitar pukul setengah empat pagi, lalu melakukan berbagai aktivitas. Sekitar pukul enam lewat, Villa membuka pintu kamar dan saya menyambutnya, wajahnya terlihat segar. “Eh, sudah bangun?”

“Sudah dari tadi, Bu,” sahutnya.

“Oh.” Saya sedikit terkejut.

“Iya, tadi sekitar pukul empat sembahyang soalnya.” FYI, Villa beragama Hindu, sedangkan kami Islam.

“Terus nggak tidur lagi?” tanya saya.

Villa menggeleng.

Rasa kagum saya muncul seketika. Tadinya saya memperkirakan Villa akan bangun siang, apalagi jika mengingat bahwa ia masih SMP, biasanya masih hobi bangun siang, dan ia baru sampai wisma di Jakarta Jumat hampir tengah malam, lalu di hari Sabtu ada acara penuh dari pagi hingga malam. Ternyata meski jauh dari orang tua dan saya belum mengetahui jadwal sembahyangnya, Villa bisa mandiri bangun pagi dan sembahyang. Ingatan akan nasihat di atas pun kembali datang.

Minggu pagi pertama kami isi dengan cerita-cerita. Ketika waktu sembahyang siang tiba, Villa pun langsung izin masuk kamar untuk bersembahyang. Begitu pula di waktu malam dan hari-hari seterusnya. Selama dua minggu Villa tinggal di rumah, tidak pernah sekalipun saya mengingatkannya untuk sembahyang, ia yang selalu tepat waktu melaksanakan ibadah.

Pernah suatu ketika ia pulang lebih malam bersama Ayah. Sesampainya di rumah, saya tanyakan, “Tadi Villa sembahyang gimana?” Karena sekitar pukul enam sampai tujuh malam mereka masih terjebak macet di jalanan Ibukota. “Di dalam mobil. Berdoa saja dalam hati.”

Huaaaa, kemandirian spiritual yang dimilikinya keren menurut saya. Selain itu, Villa pun tidak pernah saya bangunkan di pagi hari. Ia selalu rutin bangun sendiri sekitar pukul empat pagi, sembahyang, dan bersiap-siap untuk berangkat pagi.

Kerap saya bertanya dalam hati, bagaimana bisa ia memiliki kemandirian dan kemandirian spiritual sebagus itu? Saya menduga ada peran penting orang tua di dalamnya. Saya pun berharap semoga suatu hari bisa belajar banyak secara langsung dari orang tua Villa.

 

Pengalaman sebagai FSM yang ikut beberapa kegiatan ASM

Setiap harinya kesepuluh ASM memiliki kegiatan dengan tema berbeda. Ternyata, Cha sebagai Saudara Sabang Merauke (SSM) pun boleh mengikuti kegiatan tersebut. Karena Cha masih mengikuti sebuah program liburan dan masih kecil, akhirnya saya mendaftarkan Cha hanya di tiga kegiatan, yaitu Fun Day, Social Day, dan Art Day. Sebenarnya si bocah ingin sekali bisa setiap hari ikut bergabung dengan kegiatan ASM. Berhubung Cha masih perlu pendampingan, maka saya pun ikut menemaninya di tiga kegiatan tersebut.

Di Fun Day, kami mengunjungi Dufan. Meski sudah berusaha sok kenal sok dekat dengan beberapa kakak, di awal-awal ternyata masih ada perasaan kikuk karena ibu-ibu sendiri. Yang lainnya ABG dan mahasiswa. Sebagian lainnya  panitia Sabang Merauke.

Tapi syukurlah, lama-lama semakin cair dan kegiatan hari itu bisa dilalui dengan ceria.

Di Social Day, ternyata saya mulai merasa baur dan nyaman, meski tetap menjadi satu-satunya FSM. Saya menikmati cerita beberapa ASM mengenai kegiatan akhir pekannya bersama FSM. Saya pun mulai lebih lebur berbincang dengan para kakak. Saat di SLB Elsafan, saya semakin menikmati kebersamaan itu. Apalagi saat bernyanyi-nyanyi bersama. Ketika seorang anak dari Elsafan menyanyikan lagu Diamonds dari Rihanna dan saya sedikit-sedikit bisa menyanyikannya, Kak Laura –salah seorang KSM– bertanya, “Wah, Tante apal lagunya, ya?” Ups, jadi malu. :D

Di Art Day, semuanya semakin terasa akrab.

sm

Di acara farewell dinner, saya duduk dekat dengan ASM, KSM, dan para relawan. Saya larut dalam keceriaan mereka. Ikut bernyanyi ketika mereka bernyanyi. Ikut bertepuk tangan ketika mereka ramai bertepuk tangan. Ikut bersorak ketika mereka bersorak. Seketika saya merasa kembali muda. :D Sempat saya sampaikan hal ini kepada Kak Ritter –salah seorang relawan SM–, Kak Ritter berkomentar, “Wah, bagus itu!” :D

 

Setitik Isi Hati

Penghujung acara farewell dinner diiringi air mata, begitu pula keesokan harinya ketika kami turut mengantarkan Villa dan beberapa ASM lain di Bandara. Hari Senin kemarin, saya menuliskan ini:

 

Mengapa Ada Air Mata?

Kala hati-hati telah terpaut

Kala sekat-sekat kekakuan sudah terkikis

Kala jari-jemari saling melengkapi

Saat itulah air mata hadir

Ia muncul mewakili rasa

Ia datang mewakili asa

Ia ada mewakili cinta

***

Sebelum kami pamit pulang dari farewell dinner, seorang bapak menghampiri kami dan memperkenalkan diri. “Bu, saya yang dulu mewawancarai Villa. Saya nggak salah pilih kan, Bu?”

Langsung saya jawab dengan mantap sambil mengacungkan jempol, “Sama sekali nggak, Pak!”

Bersahabat dengan Al-Quran

10 Jul 2013 Gita Lovusa Happy Ramadhan with Kids 5

Itulah tema yang kami pilih untuk Ramadhan kali ini. Tema ini saya ambil karena terinspirasi tulisan Mbak Vienna Alifa yang berjudul Bersabar Bersama Al-Quran.

Mengapa harus bersabar bersama Al-Quran?

Mengapa harus bersahabat dengan Al-Quran?

Karena Allah menjadikan manusia yang gemar belajar dan mengajarkan Al-Quran menjadi sebaik-baik manusia. Amat sangat nyaman sepertinya jika bisa bersahabat dengan Al-Quran. Lagi senang, lari ke Al-Quran. Lagi sedih, segera baca Al-Quran. Setiap waktu diisi dengan kemesraan bersama Al-Quran.

Sejak mengikuti kelas tahsin dan tahfiz saat kuliah hingga saat ini, pertanyaan mengenai, “Bagaimana cara mudah membaca Al-Quran? Bagaimana cara cepat menghafal Al-Qur’an?” selalu terdengar. Dan jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah harus rajin belajar ilmu membaca Al-Quran dan membaca ayat Al-Quran. Jika ingin menghafal harus rajin mengulang hafalan Al-Quran. Sependek pengalaman saya, guru atau pembimbing berperan penting dalam memperbaiki bacaan atau mendengarkan hafalan surat kita.

Bukan hanya cepat dan mudahnya yang ingin diraih, tapi juga kebersamaan terus menerus bersama Al-Quran yang mesti dijaga.

Saat saya mengusulkan tema Bersahabat dengan Al-Quran, Cha setuju dan kami pun menyusun agenda kegiatan yang berkaitan dengan Al-Quran.

Cha

1. Saya bertugas untuk mengenalkan makhraj dan sifat huruf hijaiyah melalui salah satu ‘lagu’ yang saya suka. ‘Lagu’nya seperti ini: a i u ba’, u an ani a’na minal mu’ni maian a ni a. Sehabis me’lagu’, kami belajar menuliskan huruf a, i, dan u. Rencana kami sehari satu huruf hijaiyah. Misal hari ini a i u, keesokan harinya ba bi bu, keesokan harinya lagi ta ti tu, dan seterusnya.

2. Dalam menghafal ayat Al-Quran, kami menggunakan metode one day one ayat [metode Ust. Yusuf Mansyur] atau yang biasa kami sebut ODOA. Jadi kalau tiba saat menghafal, saya akan berujar, “Cha, yuk, kita ODOA.” Sambil mengulang hafalan surat yang sudah-sudah agar tidak lupa [intinya menghafal Al-Quran adalah pengulangan].

 

Begitu untuk Cha, bagaimana dengan saya?

1. Saya harus memperdalam makhraj dan sifat huruf agar pelafalan pun semakin baik.

2. Jika Cha ODOA, maka saya ODFA [One Day Five Ayat]. Lima ayat ini minimal, mohon doa agar bisa lebih. Juga harus mengulang hafalan di pagi dan sore hari.

3. Di Ramadhan kali ini saya ingin sekali selain memberikan 30 hadiah Ramadhan juga memberi 30 Pesan Cinta Ramadhan. Pesan ini saya tulis dan berikan ke Cha di waktu Zuhur. Karena temanya Bersahabat dengan Al-Quran, saya ingin pesannya juga berkaitan dengan Al-Quran, puasa, dan atau nilai-nilai kebaikan lainnya.

4. Mengaji lebih banyak dari hari-hari sebelum Ramadhan. Semoga bisa konsisten dan terus meningkat jumlah halaman per harinya.

Di hari pertama ini, alhamdulillah berjalan lancar. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan memberi keberkahan di hari-hari selanjutnya.

 

 

Social Day with Sabang Merauke

08 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Hari ini Villa, Cha, dan saya mengikuti kegiatan Sabang Merauke. Ya, setiap hari kerja, anak-anak Sabang Merauke memiliki kegiatan dengan tema berbeda setiap harinya. Dan Cha mendaftar di tiga kegiatan, yaitu Sport and Fun Day ke Dufan minggu kemarin, Social Day hari ini, dan Art Day insyaAllah Kamis besok.

Di pagi hari, kami mengunjungi kandang rusa UI dan bertemu dengan komunitas Garda Satwa. Komunitas Garda Satwa adalah komunitas penyayang binatang. Mereka mengurus anjing dan kucing yang dibuang atau sakit. Cha senang sekali bisa bertemu anjing jinak jenis shih tzu. Anjing kecil yang cantik ini dielus-elus dan diajak main oleh Cha. Hadeuh, saya yang pernah dikejar anjing beberapa kali waktu kecil, sampai ngeri melihat Cha asyik mengelus-elus anjing.

Yang menyenangkan lagi bagi kami semua adalah ketika diperbolehkan masuk ke kandang rusa UI yang besar dan boleh memberi makan. Kakak-kakak dari Garda Satwa membawa kangkung, wortel, dan ubi. Seluruh anak dan kakak Sabang Merauke asyik memberi makan rusa. Cha dengan bahagia keliling dari satu rusa ke rusa lainnya. Rusanya pun diusap-usap dan disayang-sayang.

Setelah dari UI kami melaju menuju SLB Elsafan di Klender. SLB Elsafan adalah sekolah untuk anak-anak tuna netra yang didirikan oleh tujuh orang yang juga tuna netra. Waduh, di tempat ini air mata saya menitik beberapa kali.

Pertama, saat kami dari Sabang Merauke dan teman-teman dari Elsafan diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rasanya kok, ya beda dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari Senin saat sekolah dulu ya? Saat menyanyi, ada perasaan haru dan bangga sebagai warga Indonesia. Hal ini juga terjadi ketika orientasi awal Sabang Merauke. Sebelum orientasi dimulai, kami diminta berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hadeuh, merindiiiiing..

Kedua, saat mendengar Kak Mutiara dari Elsafan menyanyikan lagu Rossa. Masya Allah, suaranya baguuuuuus sekali.

Ketiga, saat anak-anak Sabang Merauke dan teman-teman dari Elsafan menyanyikan lagu Laskar Pelangi untuk persiapan farewell dinner Sabtu besok ini. Melihat wajah anak itu satu per satu, rasa sayang yang sudah ada semakin menggunung. Tapi, jika mengingat farewell dinner tinggal lima hari lagi, kok rasanya sedih ya? Kesepuluh anak itu akan kembali ke daerah masing-masing dan membawa banyak pengalaman baru serta akan menebar benih kebaikan di tempat tinggalnya. Dan rasa rindu itu pada anak-anak itu, pada kebersamaan ini, sudah terbayang di depan mata… Tapi saya juga mesti mengingat bahwa Sabang Merauke adalah Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. Jadi, mereka memang harus kembali!

sm1

Setelah acara di Elsafan selesai, kami pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya mengecek email dan membaca undangan Farewell and Appreciation Dinner dari Sabang Merauke. Air mata yang tadinya hanya menitik, kini mengalir semakin deras. Ya, saya memang cinta pada kesepuluh anak itu, pada seluruh kakak-kakak Sabang Merauke, pada kebersamaan kami, dan pada tema yang mereka usung. Apalagi ketika mengingat bahwa anak-anak itu dan semua kakak sangat ramah sama Cha. Cha dipeluk, diusap, diajak main, diajak bercanda, dan diperhatikan.

Alhamdulillah. Terima kasih saya untuk semua.

 

Hari Pertama Bersama Villa, Anak Sabang Merauke dari Pasuruan

07 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Jika di welcoming dinner Sabang Merauke adalah pertemuan pertama kami, maka keesokan harinya menjadi hari pertama bagi kami untuk berkegiatan bersama.

Anak Sabang Merauke (ASM) yang menginap di rumah kami selama dua minggu bernama Villa; seorang anak perempuan berusia 14 tahun, beragama Hindu, dan berasal dari Desa Tosari di Pasuruan. Salah satu komponen utama dalam program Sabang Merauke adalah toleransi. Sebisa mungkin ASM akan menginap di keluarga yang berbeda suku serta agama dengannya. Villa adalah anak suku Tengger asli.

Hari Minggu pagi, Cha bangun lebih cepat daripada biasanya. Ketika bangun, hal pertama yang ditanyakan adalah “Ummi, Kak Villa udah bangun belum?” Ia tak sabar ingin bermain dengan kakak barunya.

Minggu pagi pertama diisi dengan obrolan seputar daerah Villa berasal. Saya terkejut ketika Villa cerita bahwa rumahnya hanya setengah jam dari Bromo. Waaaw, asyiiiik! Kami jadi makin semangat mengadakan kunjungan balik ke rumah Villa. Apalagi ternyata Ayah bilang kalau September, kantornya akan jalan-jalan ke Bromo.

Obrolan selanjutnya adalah seputar tata cara sembahyang Villa. Villa cerita kalau ia sembahyang tiga kali sehari. Pagi hari sekitar pukul empat sampai pukul lima, pukul dua belas siang, dan antara pukul enam sampai pukul tujuh malam. Ia sudah membawa semua perlengkapan sembahyang dan sembahyang bisa dilakukan di kamar. Kami juga berdiskusi mengenai pantangan makanan dalam agama Hindu. Sepengetahuan Ayah,  umat Hindu tidak boleh makan daging sapi, ternyata itu terjadi jika si anak sudah diberkati di usia tujuh belas tahun. Jadi saat ini Villa tidak ada pantangan makanan apa pun.

Selaku Family Sabang Merauke (FSM), sudah sepatutnya kami memperlakukan ASM seperti anak sendiri. Hal-hal penting seperti ini harus dibicarakan agar kami bisa menyiapkan segala sesuatu dengan baik agar Villa pun merasa nyaman.

Pagi itu, Cha asyik mengajak Villa bercerita, menggambar, lalu bermain kartu domino. Villa pun selalu menanggapi Cha dengan baik. Saya senang melihat mereka asyik bermain bersama, meski usianya terpaut delapan tahun. Sekitar pukul dua belas, setelah makan siang, kami masing-masing beribadah dan beristirahat.

Sekitar pukul dua siang, kami pergi karena Cha ingin sekali mengajak Villa menonton film Leher Angsa di bioskop. Leher Angsa adalah film besutan Alenia Pictures. Film-filmnya saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga karena biasanya bercerita tentang anak dan daerah di Indonesia. Film Alenia Pictures sebelumnya yang Cha dan saya tonton adalah Di Timur Matahari, film yang berkisah mengenai anak dan daerah Papua.

IMG_20130706_122641

Sambil menunggu pintu teater dibuka, Villa berujar ke saya, “Cha Cha anaknya aktif banget ya, Bu. Suka nanya juga.” Hihi, saya tertawa mendengarnya. Sewaktu welcoming dinner, saya sudah sampaikan hal ini biar Villa tidak kaget dan Villa pun menyampaikan bahwa ia suka anak seperti itu. Hubungan antara Cha dan kakak barunya ini pun perlu dijaga dan dikomunikasikan agar semua pihak bisa merasa nyaman.

Sebelum menonton Leher Angsa, saya hanya tahu kalau film ini bercerita tentang suatu desa yang tidak memiliki jamban sehingga warganya buang hajat di sungai. Awal film, kami disuguhi adegan perkenalan tokoh yang disajikan dengan unik. Melihatnya kami sudah tertawa-tawa. Ternyata sampai akhir film, kami selalu tertawa. “Filmnya lucu banget ya, Cha,” ujar Villa yang duduk bersebelahan dengan Cha, di tengah film.

Setelah film selesai, kami langsung pulang karena besok pagi Villa akan mengikuti kegiatan pertama bersama Sabang Merauke. Agar Villa tidak terlalu lelah dan cukup istirahat. Cha yang tadinya masih ingin mengajak Villa main di playground, alhamdulillah bisa mengerti kebutuhan kakaknya. Terima kasih, Cha. ^^

 

Welcoming Dinner Sabang Merauke

01 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Sabtu kemarin menjadi hari penting untuk kami. Sejak pagi Cha sudah melonjak-lonjak riang karena akan menjemput Anak Sabang Merauke (ASM) yang akan menginap di rumah. Saya pun selalu mengecek timeline @SabangMeraukeID di twitter untuk mengetahui kegiatan para ASM. Kami berangkat sore hari, tak lupa Cha membawa dua hasil gambarnya untuk ASM yang dipanggil Kak Villa. Di sepanjang perjalanan Tangerang – Bendungan Hilir, Cha selalu bertanya, “Kok kita belum sampe? Kenapa jauh? Aku mau ketemu kakakku.”

Sesampainya di Restoran E*** F****, restoran makanan laut, ternyata kami menjadi orang yang pertama hadir. Sambil menunggu, kami asyik keliling melihat ikan-ikan hidup dan ikan segar yang dijual di sana. Nah, ketika sedang keliling sama Ayah, Cha melihat ada ikan hiu dijual. Cha langsung lari menghampiri saya. “Ummi, ada ikan hiu dijual. Ikannya masih kecil-kecil. Kasihan kan, Mi? Ayo, kita bilang bapaknya supaya nggak jual ikan hiu.” Jiwa aktivitis dan peduli lingkungannya pun keluar.  Cha menarik-narik tangan saya agar mau menemaninya memberi pesan ke bapak agar tidak lagi menjual ikan hiu. Sayang, bapak yang bertugas di sana tidak menggubris kami.

Sekitar pukul enam malam lewat, dua Family Sabang Merauke (FSM) bergabung bersama kami. Kami pun duduk bersama dan berbincang-bincang. Tak lama kemudian, dari pintu masuk, terlihat ASM dan Kakak Sabang Merauke (KSM) masuk ke restoran. Cha berteriak, “Kakaaak!” Kami pun menyambut mereka dan bersalaman serta berkenalan. Rasanya ketika bertatap muka dengan mereka.. tak terkatakan!

Cha langsung mengambil duduk di sebelah Kak Villa dan memberi dua hasil gambarnya. Keinginannya pun langsung dilaksanakan: Cha berpelukan dengan Kak Villa. Seperti layaknya Cha, ia pun dengan semangat bercerita aneka macam ke kakaknya. Yang seru adalah ketika beberapa KSM dan panitia Sabang Merauke mengetahui kalau Cha amat sangat menyukai dinosaurus. Mereka menegur Cha dan berbincang mengenai dinosaurus. Nggak lupa juga mengikuti gaya Cha ketika menjadi dino. :D

Acara welcoming dinner dibuka oleh Mas Victor selaku fasilitator dari Sabang Merauke. Mas Victor inilah yang mengisi orientasi awal para ASM, KSM, serta FSM. Saya merinding ketika Mas Victor meminta para bapak FSM, para ibu FSM, para Saudara Sabang Merauke (SSM), donatur SM, dan panitia SM berdiri secara bergantian. Terutama saat Mas Victor meminta para pendiri dan perumus SM berdiri, lalu berkata, “ASM nggak akan ada di sini tanpa mereka.” Saya dengan semangat berkata, “Betuuuuuul!” sambil bertepuk tangan dengan keras.

Setelah selesai perkenalan, acara makan malam pun dimulai. Sambil menikmati hidangan, FSM, KSM, ASM yang duduk di sekitar saya berbincang aneka macam. Seorang bapak FSM yang menerima ASM Apipa menyampaikan salut atas keberanian Apipa berangkat sendiri dari sebuah desa di Pontianak menuju Jakarta. Tentu saja itu bukan perjalanan mudah, menurutnya. Karena dia pun belum pernah merasakan perjalanan seperti itu. Saya pun salut jika membaca catatan perjalanan para ASM yang disampaikan Kak Ayu setiap harinya melalui email. ASM yang berasal dari Papua dan Sabah bahkan berangkat hari Senin agar bisa tiba hari Kamis atau Jumat di Jakarta. Kesepuluh ASM tak hanya melewati perjalanan udara, tapi juga darat dan laut. Keren!!

sm

Setelah sesi foto-foto dan bincang-bincang lagi, sekitar pukul delapan malam, kami berpamitan pulang karena masih perlu waktu lumayan untuk sampai ke rumah. Di sepanjang perjalanan ke rumah, Cha masih asyik bercerita ke Kak Villa. Saya pun mengingatkan Cha bahwa ketika sampai rumah, semua langsung siap-siap tidur dan menjelaskan bahwa Kak Villa capek karena dua hari ini kegiatannya lumayan padat. Alhamdulillah, Cha mengerti.

Selamat datang di rumah, Kak Villa. ^_^

***

 Merantaulah…

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ‘kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafi’i ~