Arsip September, 2013

Menggambar Seru!

16 Sep 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Karya Tangan 2

Sejak kecil, Cha senang bereksplorasi dengan aneka macam peralatan menggambar. Pernah beberapa kali gambarnya terlihat ‘wow’ buat saya, terutama ketika usianya di bawah empat tahun. Seiring bertambahnya usia Cha, kadang harapan saya terhadap kemampuan menggambarnya meningkat. Saat usianya lima tahun dan masih menggambar orang dengan garis-garis [kepala bulat, badan garis satu ke bawah, tangan garis dua ke samping, dan kaki garis dua ke bawah], saya sempat khawatir. Teringat ucapan dosen saat kuliah, “Kalau anak lima tahun masih menggambar orang dengan garis, berarti ada yang salah dengan perkembangan psikologisnya.”

Hasyah, entah kenapa ucapan ini terekam banget. Ada kalanya saya juga terintimidasi dengan gambar anak lain yang lebih kecil daripada Cha, tapi sudah tidak garis-garis dan lebih bagus serta berbentuk.

Huuft, karena kekhawatiran-kekhawatiran itu, saya jadi berusaha mengajari Cha menggambar orang dengan menggunakan berbagai bentuk, misal kepala lingkaran, badan segitiga, kaki agak persegi panjang, dan seterusnya. Beberapa kali berhasil, tapi Cha nggak suka. Ia kembali ke kesukaannya dalam menggambar, yaitu garis-garis.

Untung angin ‘eling’ menghampiri. Ini karena suatu ketika saya melihat logo dengan garis-garis seperti yang Cha dan anak-anak pada umumnya suka buat. Logonya lucu dan saya tahu bahwa yang menggambar itu adalah orang dewasa.

“Apakah itu artinya orang tersebut terganggu perkembangan psikologisnya?”

Ah, saya nggak yakin iya.

“Nah, kalau begitu, kenapa anakmu yang lima tahun nggak boleh menggambar seperti itu?”

Sejak saat itu, saya singkirkan jauh-jauh ucapan dosen tersebut dan membiarkan Cha asyik menggambar serta coret-coret.

Saya kembali mengajaknya berkolaborasi dalam menggambar, lalu kami bercerita dan tertawa.

Saya kembali mengajaknya coret-coret di mana saja; di tembok rumah, di kertas besar, di kertas kecil, di kardus, dll.

Lalu Cha menjadikan sebuah agenda sebagai buku gambarnya. Ia menggambar yang diamati. Menggambar dino. Menggambar hal yang sudah dilakukannya hari itu. Menggambar imajinasinya juga.

Saya berikan spidol warna-warni satu per satu, tidak sekaligus banyak. Hal ini ternyata membuat semangat menggambarnya semakin tinggi.

Kadang saya suka menuliskan pesan di buku gambarnya itu, “Terus semangat menggambar ya, Cha. Love, Ummi.” atau “Ummi sukaaaa sekali gambar Cha. Bagus! Lucu!” Pesan-pesan ini berbalas pelukan erat dan gambar yang semakin banyak.

 

gambar

Gambar Cha ketika sedang mengamati tukang AC bersihin AC di rumah. Iya, ada dinonya juga. :D

 

gambar1

Gambar Cha sebagai salah satu bentuk narasi setelah berkeliling ke beberapa tempat di TMII; Taman Burung, Taman Reptil, Taman Kupu-kupu, Dunia Ikan Air Tawar, dan Keong Mas.

Saya berusaha kembali menyadari bahwa menggambar adalah salah satu sarana anak dalam menuangkan segala macam emosi, pikiran, dan imajinasinya. Bukan harus bagus, harus begini, dan harus begitu.

Main Wayang

11 Sep 2013 Gita Lovusa Karya Tangan 0

Beberapa bulan lalu, kami lagi senang membaca buku Clara Ng yang berjudul Wayang Sebelum Tidur. Buku ini adalah buku cerita bergambar untuk anak-anak. Saat itu saya ingin sekali membuat wayang serupa agar kami bisa memainkannya. Cha menyambut antusias keinginan saya.

Kami pun mengambil bahan-bahan yang ada di rumah, yaitu kertas, gagang es krim, pensil, dan lem. Cha dan saya berusaha mengikuti gambar punakawan yang ada di buku. Lalu Cha bertugas menggunting dan menempelkan kertas yang sudah di gunting ke gagang es krim.

Malam harinya, kami mematikan lampu kamar dan menyalakan senter. Setelah letak senter diatur sedemikian rupa, Cha mengambil wayangnya dan mulai berperan menjadi dalang cilik.

 

wayang

 

 

Permainan ini sederhana, tapi bisa mengasah kreativitas dan daya imajinasi si kecil. Juga mengenalkannya pada wayang punakawan. Ada yang tahu siapa saja nama wayang yang ada di foto?

Refleksi Ramadhan 1434 H

06 Sep 2013 Gita Lovusa Happy Ramadhan with Kids 0

Saya tahu bahwa saya tidak bisa dan tidak boleh membiarkan blog ini sepi, tanpa kabar terbaru apa-apa. Banyak cerita yang ingin disampaikan, ada perenungan yang ingin ┬ádituliskan, jadi saya akan memulainya berdasarkan dua tulisan terakhir di sini, yaitu mengenai mengenai rencana di bulan Ramadhan 1434 H –Bersahabat dengan Al-Quran

Rencana kami tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di tiga hari pertama Ramadhan, Cha berhasil sahur pukul enam sampai pukul tujuh pagi. Selanjutnya puasa selama empat jam, ini atas dasar kesepakatan dan diskusi kami. Lalu Cha berbuka dan mulai puasa lagi pukul dua siang agar bisa ikut berbuka di waktu maghrib. Konon, ikut berbuka di waktu maghrib memberikan rasa syukur dan bahagia yang berbeda. Di tiga hari ini, kami berbicara mengenai arti puasa, tata cara puasa, dan lain sebagainya. Saya menggunakan buku 101 Info Tentang Shaum dari DAR! Mizan sebagai panduan. Buku ini ditulis oleh Ayuk (panggilan untuk kakak dalam bahasa Palembang) saya yang bernama Dewi Cendika atau yang biasa dipanggil Ichen.

Di tiga hari ini juga Cha memulai kembali latihan wushu setelah dua sampai tiga bulan vakum. Latihan wushu dimulai sore hari. Ia bilang kuat latihan, meski puasa. Selesai latihan sekitar pukul lima sore, Cha mulai bilang haus dan sedikit merengek ingin minum. Alhamdulillah, tak lama Pak Kurir datang membawa pesanan buku dari tobuk online langganan kami; Halaman Moeka. Tanpa diminta, Cha langsung asyik dengan buku-buku anak yang saya pesan dan melupakan rasa hausnya.

Hari keempat Ramadhan, Cha demam. Saya memintanya untuk tidak puasa, Cha sempat menolak karena ingin sekali puasa. Saya sampaikan kalau Allah memberi keringanan bagi orang yang sakit. Jika sudah sembuh, boleh puasa lagi. Sudah tiga hari, demam Cha masih tinggi dan mulai ada ruam-ruam merah di badan, lantas kami membawanya ke dokter. Ternyata Cha terkena sakit tampek. Ia diminta untuk di rumah selama kurang lebih dua pekan. Ketika ruam sudah hilang dan demam mereda selama sehari, saya yang terkena serangan batuk pilek serta demam. Jadilah rencana kami di awal Ramadhan semakin berantakan. Saya yakinkan diri bahwa ini bagian dari pelajaran, bagian dari kenikmatan Ramadhan.

Ketika saya mulai reda demam serta batuk pileknya, Cha kembali demam dan bibirnya yang kering semakin parah, lidahnya pun berbintil-bintil merah. Kami kembali membawanya ke dokter. Alhamdulillah, beberapa hari setelah itu Cha pulih. Kami tetap beristirahat di rumah, tak main ke mana-mana selama beberapa hari ke depan.

Hampir dua minggu sisa Ramadhan kami. Yang terpikir oleh saya adalah pembaharuan semangat dan perubahan jadwal agar kami tetap antusias. Hadiah Ramadhan tetap saya berikan, tapi Pesan Ramadhan saya putuskan tidak lagi. Karena Cha belum lancar membaca sehingga rasanya kurang asyik kalau pesan itu tetap saya bacakan.

 

Keliling Masjid di Sore Hari

Saya tercetus ide untuk mengajaknya keliling masjid di sore hari untuk mengaji dan mengulang serta menambah hafalan surat di sana. Cha pun setuju. Masjid yang pertama didatangi tentu saja Masjid Quba di belakang rumah. Kami jalan sekitar sepuluh menit, lalu sampai, deh. Di sana Cha tidak hanya mengaji dan menambah/mengulang hafalan, juga bermain dengan burung dan kucing karena halaman masjid cukup luas. Rencananya sebelum maghrib kami sudah pulang ke rumah, tapi ternyata beberapa kotak nasi dan makanan berbuka yang diantarkan warga ke masjid, cukup menggoda Cha. “Kita buka di sini aja ya, Miii. Makanannya sepertinya lezat.” Hihihi, tumben Cha tertarik dengan makanan. Akhirnya saya pun meluluskan keinginannya untuk lanjut berada di masjid.

Ta’jil di Masjid Quba membuat Cha tak mau pindah ke lain masjid. Akhirnya kami tidak jadi keliling masjid, melainkan tetap di Masjid Quba setiap sore. Hanya ada satu kali kami ke Masjid At-Taqwa, itu pun karena saya ada janji dengan seorang guru. Ketika saya selesai dengan guru dan hari hampir maghrib, Cha pun celingukan mencari. “Mana makanan bukanya?” tanyanya polos dan berhasil bikin saya nyengir.

Hari-hari seterusnya agenda ini terus berjalan sampai kedatangan para sepupu Cha dari Malaysia. Cha lebih memilih main bersama sepupunya. :D

Sore hari sampai sebelum Isya di masjid memang terasa menyenangkan. Kenapa tidak lanjut sampai tarawih? Karena sebenarnya saya pun sedang halangan saat itu, jadi kami memutuskan sebelum Isya sudah jalan pulang ke rumah. Cha bertemu beberapa teman baru dan juga memberi roti buat burung serta kucing di sana. Saya pun sempat berbincang dengan pengurus masjid atau warga yang datang ke masjid. Melihat lalu-lalang orang yang keluar masuk masjid, kami pun berdoa agar hati kami selalu didekatkan pada masjid.

Banyak hal yang harus kami perbaiki di Ramadhan ini, semoga Ramadhan berikutnya menjadi Ramadhan yang lebih baik.