Arsip October, 2013

Menyelami Sejarah Tionghoa Tangerang di Museum Benteng Heritage

25 Oct 2013 Gita Lovusa Jalan-jalan, Tangerang 4

Ada museum di Tangerang? Yang bener!

Lokasinya di Pasar Lama? Tempat aku beli kue ape, rujak buah, es cincau hijau, dan aneka makanan lain kesukaanku? Masa iya?!

Jl. Cilame? Di mana itu?

*tanya ke teman yang rumahnya di Pasar Lama.

Katanya museumnya deket Vihara Boen Tek Bio?

Oh, ya ampun, berarti di dalam pasar? Apa ada?

 

Yah, kira-kira demikianlah perbincangan batin saya ketika tahu bahwa di Tangerang ada museum. Tepatnya di Pasar Lama, tempat jajahan sejak masa kecil. Tempat beli komik Topeng Kaca pertama kali waktu SD. Harga komik waktu itu masih 2000-3000. Tempat beli makanan-makanan enak. Tempat nyuci foto, hihihi. Kalau sekarang ke sana sama Cha, main ke Tiang Art Gallery; galeri lukis milik Om Melukis (ini nama pemberian Cha) aka Om Yayat Lesmana, tempat beli aneka macam bahan prakarya, tempat beli opak manis, dll, dsb.

Karena penasaran banget, keesokan harinya Cha dan saya langsung menuju museum ini. Kami sampai di Pasar Lama sekitar pukul 10 pagi. Masuk ke dalam pasar dan ketemu dengan museum yang dimaksud. Sampai sana, ternyata museum belum dibuka. “Buka jam 11!” kata seorang ibu yang berjualan di depan museum.

Akhirnya kami keliling cari makan. Sebelum pukul 11 balik lagi ke museum dan tetap belum buka. “Bentar lagi kayanya,” ujar ibu yang sama.

mbh3

Dalam kebingungan mau ke mana, Cha mengajak saya ke tempat seorang anak yang berjualan ikan. “Mau liat ikan, Mi. Ada kura-kura juga,” sahut Cha yang bersemangat. Kami pun berkenalan dengan anak tersebut. Dika namanya. Kak Dika sangat ramah dan asyik diajak ngobrol. Selain sekolah setiap hari, Kak Dika juga mengurus lima puluh ekor kura-kura, sekian ular, ikan, kelinci, dan musang untuk dijual kembali. Kalau pagi sekolah, siang sampai sore ia berjualan di pasar. Kalau Sabtu dan Minggu, ia berangkat pukul 4 pagi dari rumah agar pukul 5 subuh sudah bisa buka lapak di pasar. Mendengar cerita sang kakak, Cha terkagum-kagum. Berkali-kali bilang, “Keren, keren. Kakaknya pinter banget ya, Mi!”

Ah, makasih ya, Kak Dika. Waktu menunggu jadi terasa bermakna sekali.

 

Masuk ke Museum

Pukul 12 siang, museum dibuka. Horeeee! Kami segera menuju ke sana dan membeli tiket. Sapaan Ibu penjaga loket membuat mata saya mengerjap-ngerjap kebingungan. Antara senang dapat diskon 50 %, pengen ketawa karena geli, sama mikir: berarti antara gue SMP sama sekarang udah jadi emak-emak nggak ada bedanya ,ya?

“Adeknya sepuluh ribu. Kakaknya masih SMP atau SMA? SMP kayanya ya? Sepuluh ribu juga. Jadi berdua, dua puluh ribu,” sahut si ibu dengan senyum yang paling cemerlang. Sepertinya ia bahagia melihat seorang kakak mengajak adik kecilnya ke museum di hari Sabtu. Kakak langka, mungkin pikirnya begitu.

Nggak lama berselang, seorang pemandu museum datang dan menerangkan bahwa sistem di Museum Benteng Heritage (MBH) adalah guided tour. Jadi jika kita datang, akan selalu didampingi oleh seorang pemandu. Saya girang karena jika ada pemandu, keliling museum jadi lebih menarik. Tahu cerita lebih banyak mengenai isi museum.

Pertama kami diajak menonton video mengenai sejarah Tangerang. Sesi ini dibawakan oleh Pak Udaya, pemilik museum. Sejak kecil, saya sering mendengar istilah Cina Benteng. Istilah ini ditujukan untuk warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Tangerang. Tapi orang sekitar saya nggak ada yang mengerti kenapa sampai ada istilah seperti itu. Dari sesi ini diketahui bahwa asal-usul penamaan tersebut sederhana saja, yakni karena dulu di Tangerang, di sekitar Pasar Lama, ada sebuah benteng.

mbh1

Pak Udaya juga menampilkan video dan menjelaskan kisah sebelum museum ini dibangun, selama proses pembangunan, sampai selesai. Sesi ini menarik, tapi sayang perhatian saya harus terbagi karena Cha terus memainkan gelas-gelas kecil yang ada di meja (sempet kena tegur Pak Udaya :D) dan menanyakan, “Kapan selesai? Aku mau ke atas.” Untung saja saya bawa buku dan pulpen, jadi Cha asyik menggambar burung dan naga yang menjadi ornamen di ruang tengah museum. Ketika Cha khusyuk menggambar, saya bisa menyimak paparan Pak Udaya. Dari sesi ini juga saya ketahui bahwa ternyata Tangerang mempunyai topi anyaman khas Tangerang. O ow, selama 23 tahun tinggal di Tangerang, saya nggak pernah tahu tentang keberadaan topi itu. -.-

mbh2ini adik kecil saya ^_^

Setelah sesi menonton video selesai, kami diajak ke atas dan dipandu oleh seorang pemandu muda. Sang pemandu menceritakan berbagai macam koleksi museum dan cerita yang tersimpan di baliknya. Cha senang ketika melihat golok, pedang, toya seperti yang dilihatnya ketika latihan wushu. Sang pemandu sempat bingung, “Kok adeknya tau benda-benda ini?”

Ketika di lantai atas, Cha sempat memanjat sebuah kotak agar bisa melihat ke luar melalui jendela. Lalu, kakak pemandu bertanya, “Ada yang bisa nebak itu apa?” Pas dibuka, ternyata isinya mirip dengan toilet. Yak, kotak itu ternyata WC yang bisa dibawa-bawa. Hihi..

Dari yang disampaikan pemandu, banyak info yang baru saya ketahui. Tapi di sisi lain, saya merasa, yang disampaikan pemandu seperti terlalu berdasarkan teks dan terburu-buru. Kesannya formal sekali. Tidak santai. Entah ini karena dibatasi waktu atau karena pemandu tersebut adalah pemandu baru.

Jika dari segi bangunan dan penataan koleksi museum, saya suka sekali. Tampilannya rapi dan cantik. Jika ingin tahu ciamiknya kaya apa, boleh lho, mampir ke situs Museum Benteng Heritage. Ketika acara keliling museum selesai, kami masuk ke dalam toko souvenir. Di sini dijual berbagai buku dalam bahasa Mandarin dan benda-benda lain bernuansa Tionghoa. Juga dijual Kecap Benteng. Kecap paling terkenal di Tangerang. Pabriknya di dekat museum.

Kalau ada yang mau ke sini, bisa ajak-ajak saya. Dengan senang hati kami ingin kembali ke museum ini.

 

Dari Stik Es Krim, Benang, Sampai Kaus Kaki

20 Oct 2013 Gita Lovusa Buku, Karya Tangan 3

Bikin-bikin atau prakarya bukan keahlian saya, tapi entah kenapa saya suka ajak Cha bikin-bikin, mencoba membuat sesuatu yang baru. Juga kalau Cha yang ajak bikin-bikin, saya pasti suka. Sore itu Cha ingin bikin-bikin, tapi belum tahu mau membuat apa. Saya ajak Cha membuka kotak prakarya dan membiarkannya memilih mau bikin-bikin dari bahan apa. Cha memilih stik es krim. Ia membuat aneka bentuk dari stik es krim dan saya juga membuat sesuatu dari stik es krim itu.

Ide dadakan pun datang. Saya susun empat stik es krim, lalu menggunting kertas sesuai ukuran. Lalu menggunting burung hantu dari kertas scrapbook yang dikasi Mbak Ing, lalu menempelnya di kertas. Tadaaa, jadilah hiasan pintu. Cha juga ingin membuat seperti itu. Saya hanya membantu mengukur kertas agar sesuai ukuran dan menggunting bagian burung hantu yang kecil-kecil. Selebihnya Cha yang mengerjakan. Jika punya saya ditempel di pintu rumah, Cha ingin memberikan hasil karyanya untuk nenek dan kakeknya.

pajangan burung hantu

 

Beberapa waktu lalu, kami membeli buku seri Childcraft  dari Mbak Ayu, Idea Bookshop. Seri Childcraft ini ada 15 buku. Ternyata buku yang diambil oleh Cha pertama kali adalah yang bertema Make and Do. Awalnya Cha suka membuat gambar funny faces seperti yang ada di buku itu. Ia juga betah membolak-balik buku tersebut. Lama-lama saya penasaran. Aiiiih, ternyata isinya menarik! Saya melihat bagian membuat boneka dari benang dan kayanya cukup mudah. Saya ajak Cha membuat itu karena kami punya cukup banyak stok benang rajut.

Saya gunting karton bungkus odol, memanjang. Lalu melilitkan benang secara memanjang di karton tersebut. Gunting benang saat dirasa sudah cukup. Ikat bagian atas untuk membuat kepala. Gunting beberapa helai benang di bagian kanan dan kiri untuk membuat tangan. Ikat bagian tengah untuk membentuk badan. Yang terakhir, bagi benang bagian bawah menjadi dua untuk membentuk kaki kanan dan kiri, lalu ikat. Jadi, deh. Yang pink punya saya, yang pink tua karya Cha.

Boneka ini sederhana, mudah membuatnya. Tapi bisa membuat imajinasi anak 6 tahun melanglang buana dan terciptalah aneka cerita.

boneka benang

 

Masih dari seri Childcraft, buku Make and Do. Ketika ada kaus kaki Ayah yang sudah tidak terpakai, saya ajak Cha membuat boneka dari kaus kaki seperti petunjuk di buku.

Gunting bagian ujung kaus kaki, lalu tempelkan karton di bagian mulutnya (saya pakai bungkus odol). Beri mata dan tanduk (pakai bungkus odol juga). Seperti biasa ketika bikin-bikin, Cha dan saya membuat prakarya masing-masing. Ketika boneka kaus kaki selesai, saya nggak puas karena menurut saya hasilnya nggak rapi dan nggak bagus. Tapi Cha tetap antusias menyelesaikan kerjaannya. Dalam hati, saya ada rasa malas main dengan boneka ini. Tapi ketika melihat Cha mengambil bonekanya dan boneka saya, lalu bermain dan bercerita dengan dua boneka barunya.. Ooh, saya jadi berubah pikiran. Rapi atau bagus itu persepsi saya. Buat Cha, bagaimana pun hasilnya, ia akan tetap bisa berimajinasi dengan boneka kaus kaki.

boneka kaus kaki

Hadir di Launching Buku dan Trailer Film Sokola Rimba

18 Oct 2013 Gita Lovusa Buku, Sokola Rimba 6

Dalam perjalanan menuju lokasi launching, yakni di Gramedia PIM, saya terkenang saat usai membacakan buku Sokola Rimba ke Cha. Sambil terus membalik-balikkan halaman buku dan memandangi foto, dia berujar, “Mi, aku mau ketemu Ibu Butet. Aku mau ke rimba.”

Saya dalam hati ngebatin, “Gini deh, kebiasaan Cha Cha. Kalau habis baca buku atau nonton film yang disuka, selalu pengen ketemu tokohnya dan pergi ke sana.” Untung yang keluar dari mulut saya, “Iya, boleh. InsyaAllah. Aamiiin. Cha Cha berdoa, ya.”

Saat itu saya sama sekali belum terpikir cara untuk mempertemukan Cha dan Ibu Butet. Dalam bayangan saya, Ibu Butet pasti sibuk. Keliling Sokola Rimba dan pergi memenuhi undangan bicara dari berbagai negara. Tapi ya, memang rezeki itu Allah yang ngatur, ya. Ketika baca pengumuman via facebook kalau ada launching buku dan trailer film Sokola Rimba, saya langsung memberi tahu Cha. Cha pun bersorak, “Mauuuuu! Mau ketemu Ibu Butet.”

 

Gramedia PIM

Begitu sampai di lokasi acara sekitar pukul 13.10, sebagian besar kursi sudah terisi penuh. Hanya ada tiga sampai empat kursi yang kosong. Saat saya semangat mengajak Cha duduk di kursi depan yang kosong, ternyata kursi-kursi itu untuk orang dari media. Hiks. Akhirnya kami memutuskan berdiri di depan. Sambil berdiri sambil main dan ngobrol dengan Cha. Ketika Cha mulai merasa pegal dan pengen duduk, saya menawarinya duduk di atas sepatu saya. Cha kesenangan. Cha duduk di kaki saya sambil menggambar. Ketika ini  saya berpikir, “Jika undangannya juga untuk umum, kenapa sama sekali tidak disediakan kursi untuk umum, ya?”

Saya pun teringat peristiwa beberapa minggu lalu di Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Ketika Cha dan saya harus berdiri karena kehabisan tempat duduk, sesama sukarelawan memberikan tempat duduknya untuk kami. Di tempat ini tidak ada yang menawari kami duduk. Sebagian dari mereka hanya memperhatikan kami. Oh ya, pasti karena kami bukan dari media. Eh, harusnya saya bilang, “Saya dari serusetiapsaat.com.” Hihi, nanti Mbak yang bertugas di pendaftaran bingung.

Ternyata acara diundur menjadi pukul 14.05, padahal di jadwal seharusnya pukul 13.30. Jika mengenai ketepatan waktu, saya salut dengan SabangMerauke, Festival Gerakan Indonesia Mengajar, dan Ibu Profesional yang berusaha mulai tepat waktu jika mengadakan acara. Pasti ada organisasi atau komunitas lain yang juga tepat waktu, tapi saya belum kenal.

 

Acara Bincang-bincang

sr

Acara dimulai dengan perbincangan antara moderator dan Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba. Lalu dilanjutkan dengan pemutaran trailer film Sokola Rimba. Waaah, trailer film ini bikin semakin kepengen nonton filmnya. Nantikan penayangannya mulai 21 November 2013. Dari empat pengisi acara, yakni Riri Riza selaku sutradara film, Mira Lesmana; produser film, Prisia Nasution; yang memerankan Butet Manurung di film, dan Butet Manurung, saya menggarisbawahi beberapa hal:

1. Miles Production ingin menampilkan wajah Indonesia dalam film yang digarapnya. Dari awal mereka membaca buku Sokola Rimba, Mira Lesmana serta Riri Riza tertarik untuk memfilmkannya. Keinginan mereka pun disambut baik oleh Butet Manurung. Prosesnya pun panjang, terutama ketika mereka harus meyakinkan pada orang rimba bahwa film ini baik untuk masyarakat Indonesia dan tidak akan merugikan mereka. Seorang peserta bertanya, “Bagaimana jika nanti film ini akan membuat rimba jadi terekspos?” Butet menjawab bahwa tidak mudah untuk masuk ke rimba. Jalan menuju ke sana berat dan mereka tidak akan membiarkan orang asing masuk, kecuali datang bersama Butet atau teman-teman Sokola Rimba lainnya.

2. Kata Riri Riza, rimba adalah tempat yang kondisinya di luar bayangan; tidak ada kamar mandi dan tidak ada rumah yang terbuat dari batu bata serta semen. Oleh karena itu, artis yang dipilih pun tak hanya yang memiliki kemampuan akting yang baik, tapi juga yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.

3. Oh ya, menurut Riri Riza dan Mira Lesmana, buku dan film adalah dua media yang berbeda. Jika membaca buku, akan ada film imajinasi di setiap benak pembaca, maka produser serta sutradara film Sokola Rimba ingin membuat film baru yang berbeda dari film imajinasi pembaca. Tapi tentu saja masih mengacu pada buku aslinya. Jadi aneh jika kedua media ini dibandingkan.

4. Mengapa Prisia Nasution yang menjadi Butet Manurung? Karena ia memiliki kriteria yang disebutkan di nomor 2. Selain itu, Prisia juga bisa mengendarai motor seperti Butet. Terbukti Prisia juga memiliki kemampuan adaptasi berbahasa yang sangat baik. Di antara semua kru film, Prisia yang paling cepat menguasai bahasa Rimba. Hal ini sangat diperlukan karena orang rimba hanya bisa berbahasa Rimba.

5. Jika berbicara mengenai pendidikan, pendidikan antara orang kota dengan orang rimba tidak bisa disamakan. Pendidikan yang didapat orang rimba haruslah yang bermanfaat untuk mereka.

6. Salah satu kalimat paling romantis -menurut saya- yang diucapkan Butet Manurung mengenai orang rimba adalah “Atap orang rimba adalah langit. Temboknya adalah pepohonan. Orang rimba bisa tidur jika mendengar suara hewan-hewan tertentu, lalu merasakan angin membelai rambut, lalu rambut membelai mata. Hingga akhirnya mereka tertidur.”

7. Butet berkeinginan untuk bekerja di hutan sejak usia 11 tahun. Saat itu ia belum tahu akan jadi apa, yang penting bekerja di hutan. Ia kagum akan keindahan hutan dan yakin akan menyukainya melalui buku, majalah, koran yang dibacanya. Juga dari film yang ditontonnya.

 

Mendukung Keinginan Anak

Beberapa waktu lalu saya membaca perbincangan antara beberapa ibu mengenai keinginan anak. Menurut seorang ibu, jika seorang anak memiliki banyak keinginan, jangan langsung dianggap negatif. Ajak anak untuk bisa mempertahankan mimpinya dan mempresentasikan keinginannya. Agar keinginannya itu bisa bermanfaat positif. Berdasarkan pengalamannya dengan tiga anak, anaknya yang paling berprestasi adalah anak yang memiliki keinginan paling banyak.

Saya teringat dengan Cha yang juga memiliki banyak keinginan. Salah satunya adalah bertemu dan bertanya mengenai lebah kepada Ibu Butet. Mungkin terdengar sederhana ya, tapi saya yakin perkataan dan keinginan adalah doa. Demikian yang saya dapatkan jika menyimak perbincangan dua anak muda, Yayan dan Fatah. Kedua anak muda ini ingin sekali jalan-jalan keliling Indonesia dan menjelajah ke berbagai negara lain. Karena pada akhirnya keinginan sederhana Cha bisa terwujud.

Berdasarkan pengalaman seorang ibu dan keyakinan kuat dari Yayan serta Fatah, saya pun berusaha untuk mendukung keinginan Cha, selama itu baik.

Begitu meninggalkan lokasi acara, Cha berbisik ke saya, “Mi, tadi kan, ketemu Ibu Butet cuma sebentar. Boleh nggak nanti aku main ke rumahnya?”

“Waah, mau ngapain, Cha?”

“Yaa mau tanya-tanya.”

Hooo, meski saya sempat kaget dengan keinginannya dan belum tahu cara mewujudkannya serta belum tahu yang ingin Cha tanyakan. Tapi saya meyakini bahwa Ibu Butet adalah salah satu inspirasi buat Cha. Cha pasti akan banyak belajar dari Ibu Butet jika benar-benar bisa leluasa ngobrol dengan Ibu Butet. Saya berujar, “Iya, boleh. InsyaAllah. Aamiiin.”

InsyaAllah, Allah akan menunjukkan caranya ya, Cha.

Menikmati Little Africa di Taman Nasional Baluran

17 Oct 2013 Gita Lovusa Jalan-jalan 2

Bulan November 2012, aku pertama kali naik kereta api malam ke Surabaya bersama Ummi. Di rumah, Ummi sudah bilang kalau perjalanannya akan lama dan kami akan tidur di kereta. Tapi, begitu kereta api jalan, aku sudah menanyakan, “Kapan sampai?” Aku bertanya seperti itu terus-menerus. Akhirnya Ummi menuliskan angka satu sampai tiga belas di kertas. “Setiap satu jam, kita bulatkan angkanya, ya.” Aku mengangguk.

Aku nggak bisa mandi di kereta, jadi sebelum berangkat aku sudah mandi. Di kereta aku hanya makan, nonton, dan ngobrol sama penumpang lain. Bapak yang duduk di belakangku membawa pohon, aku bertanya tentang pohon itu.

Sudah empat angka yang dibulatkan di kertas, Ummi memintaku tidur agar ketika bangun esok hari, tinggal satu angka yang dibulatkan.

Aku pun tidur dan benar saja, begitu bangun tinggal satu angka yang harus dibulatkan. Di Stasiun Surabaya Gubeng, aku dijemput oleh temanku, Fair, dan ibunya, Tante Lyly. Kami menginap di rumah mereka. Fair seumur denganku, yaitu lima tahun dan kami sama-sama bersekolah di rumah (homeschooling). Surabaya ternyata kota yang panas. Keringatku terus mengucur, meski aku sudah mandi.

Keesokan harinya, bersama Fair, Tante Lyly, dan Oom Ahmad, kami pergi naik mobil ke Taman Nasional Baluran (selanjutnya disingkat TN Baluran). TN Baluran terletak di wilayah Situbondo, Jawa Timur. Kami berangkat sekitar pukul 10.00 dan sampai malam hari di Baluran. Kami sempat mampir ke rumah makan, Pantai Pasir Putih, dan main ke rumah teman Oom Ahmad.

Sesampainya di TN Baluran, semua gelap karena kami berada di tengah hutan. Aku sempat ketakutan, tapi Fair malah senang. Dari dalam mobil, ia mengamati pohon-pohon dan nggak lama Fair melihat seekor tupai melintas. Dari gerbang TN Baluran, kami harus menempuh empat puluh lima menit untuk sampai ke penginapan Bekol. Aku sudah lelah sekali sehingga aku tidur di mobil sebelum sampai di penginapan.

Keesokan paginya, Ummi membangunkanku dan langsung menggendongku. Saat aku melihat pemandangan di luar kamar penginapan, aku langsung bersorak, “Wow, cantiknyaaaa!” Aku melihat Gunung Baluran dan padang sabana yang luas. Pagi itu aku bertemu teman-temanku yang lain. Kami langsung naik mobil ranger dan bersiap menuju Pantai Bama.

Gunung Baluran

 Di perjalanan menuju Pantai Bama, aku melihat sekelompok kijang yang sedang duduk-duduk santai, burung merak, dan juga ayam hutan. Di sana nggak ada gajah dan kangguru seperti yang kubayangkan. Aku mencari macan tutul, tapi ternyata macan tutul adanya di dalam hutan, tidak keluar ke padang sabana.

kijang

 Di Pantai Bama, kami makan dulu sebelum berenang di pantai. Dua temanku, Hanun dan Asha, bermain di pasir. Sementara Fair dan aku berenang di pantai.

pantai bama

Setelah asyik berenang di pantai, kami keliling hutan bakau dan padang sabana. Kami diharuskan menggunakan kaos lengan panjang, celana panjang, sepatu, dan topi. Di hutan bakau aku melihat akar pohon bakau yang meliuk-liuk di atas tanah. Aku sempat memegang ranting pohonnya dan bergelantungan di sana. Teman-temanku dan aku juga sempat duduk di akar pohon bakau dan berfoto bersama.

 Ketika masuk ke padang sabana, cuaca terik sekali. Semua gersang karena sedang musim kemarau. Padang sabana yang luas yang membuat TN Baluran dikatakan sebagai Little Africa. Saat masuk ke hutan, kami mendengar suara merdu aneka burung dan melihat lutung yang asyik duduk di atas pohon. Di sini kami diganggu oleh monyet-monyet. Mereka mengambil plastik berisi makanan milik teman kami. Pak Hendri, bapak polisi hutan yang memandu kami, sudah mengatakan sebelumnya kalau jangan membawa plastik. Monyet-monyet tahu kalau plastik itu berisi makanan. Pak Hendri juga bilang kalau tingkah laku monyet yang berani disebabkan oleh ulah manusia yang suka memberi makan monyet-monyet. Padahal seharusnya monyet-monyet itu dibiarkan mencari makan secara alami di hutan.

Kejadian monyet menyerang teman kami membuat aku ketakutan. Aku nggak mau jauh-jauh dari Pak Hendri dan Ummi. Kami menyusuri Pantai Bama dan kembali ke lokasi semula. Aku main pasir bersama Fair, Hanun, dan Asha, lalu makan siang.

Setelah itu kami bersiap untuk pulang ke Surabaya. Keesokan harinya Ummi dan aku naik kereta api lagi ke Jakarta. Tapi kali ini aku sudah tidak menanyakan, “Kapan sampai?” ke Ummi. Begitu kereta jalan, aku menyantap makan malamku, dan tertidur.[]

*ditulis berdasarkan ocehan Cha Cha yang waktu itu berusia 5 tahun. dilengkapi oleh saya.

Menjadi Relawan di Festival Gerakan Indonesia Mengajar

Sebelum menulis ini, saya iseng meluncur ke KBBI untuk mengecek arti relawan. Eh ternyata, relawan itu bukan bahasa Indonesia yang baku, lho. Yang benar adalah sukarelawan; orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).

Sewaktu Indonesia Mengajar pertama kali diluncurkan, saya tertarik, tapi sayang sudah tidak memenuhi syarat. Huhuhu.. Makanya saya senang sekali waktu tahu acara ini. Yes, akhirnya bisa terlibat secara langsung di kegiatan Indonesia Mengajar! Saya pun mengajak Cha (6 tahun) untuk bergabung di kegiatan ini. Cha yang selalu suka kegiatan ramai-ramai, langsung mengiyakan. Saya ajak Cha mendaftar via online dan melihat berbagai wahana yang dijelaskan di Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM).

 

Bergabung di Kerumunan Positif

fgim

 

Bukan hanya slogan, saya pun merasakan aura positif ini dari pertama kali tiba di Ecovention Hall, Ancol, sampai pulang. Selain panitia-panitia yang ramah dan santun dalam menjelaskan, saya juga bertemu berbagai sukarelawan yang baik. Seperti ketika Cha dan saya mengantri untuk masuk. Saya sampaikan ke Cha. “Cha, jalannya pelan-pelan aja karena ramai sekali. Kita sabar antri, ya.” Tak lama, kami diberi jalan untuk masuk oleh seorang sukarelawan. “Silakan, Bu, duluan.”

Sewaktu berada di Kelas Orientasi; kelas yang menjelaskan mengenai kegiatan FGIM ini, kami tidak kebagian tempat duduk. Sebenarnya nggak masalah jika kami berdiri, tapi seorang sukarelawan menegur saya. “Bu, silakan duduk sama adiknya di sini.”

Huwaaa, baik sekali!

Ketika bergabung dengan kelompok-kelompok dalam beberapa wahana, meski menjadi sukarelawan paling kecil, Cha selalu dilibatkan oleh sukarelawan lain. “Cha, tolong gunting ini, ya.” atau “Cha, tolong masukin karton-karton ini ke plastik ini, ya.” atau “Cha ambil buku di sini lima, ya. Pilih yang mana aja. Nanti bawa ke tempat kita tadi.” atau “Ayo, Cha, kita lipat karton ini jadi dua terus digunting.” Pun ketika Cha menggunting karton agak melenceng, seorang sukarelawan bilang, “Wah, makin seru niy, Cha. Ntar kakak-kakak yang main puzzle kita makin tertantang.” Dan ketika pekerjaan selesai, mereka mengajak Cha tos dan bilang, “Yeah, kita berhasil!”

Saya senang karena bukan hanya saya yang mengajak Cha ini dan itu. Dengan dilibatkannya Cha oleh sukarelawan lain, saya yakin Cha lebih merasa diterima dan merasa bahwa ia juga bisa turut kerja bakti. Terima kasih ya, para sukarelawan yang baik.

Ketika sudah pukul tiga sore, kami memutuskan pulang dengan menggunakan taksi. Awalnya saya pikir akan ada pul taksi di sekitar lokasi acara, namun ternyata nggak ada. Saya bertanya ke satpam. Satpam bilang kalau ada pul taksi di depan Dufan.

“Cara ke sana lewat mana, Pak?” tanya saya.

“Ada ojek siy, Bu. Tapi yuk, saya anterin aja.”

“Eh, nggak usah, Pak. Nggak apa-apa saya naik ojek ke Dufan. Ojeknya di mana, Pak?”

“Nggak apa-apa, Bu. Yuk, dianterin aja.”

Akhirnya kami meluncur dengan motor Pak Satpam ke Dufan. Pas turun, saya sampaikan terima kasih ke Pak Satpam dan Cha menambahkan, “Bapak baik banget!”

Huwaaa, benar-benar ada di kerumunan positif. 

 

Wahana di FGIM

Sebelum hari-H, kami sudah membaca-baca mengenai kegiatan di wahana tersebut dan mencatat wahana yang bisa kami ikuti.

1. Kotak Cakrawala

Di sini kami bergabung dengan dua sukarelawan lain untuk mengemas buku. Kami diberikan catatan buku apa saja yang harus diambil dan jumlahnya. Kami keliling mengambil buku-buku tersebut, lalu mengemasnya di kardus. Buku-buku yang disediakan bagus-bagus dan bermutu. Ketika harus mengambil kamus, saya memilih thesaurus untuk dikirim ke daerah. Saya senang karena saya juga menemukan beberapa buku yang ditulis oleh teman saya. ^^

2. Kepingpedia

Kami kembali bergabung dengan tiga sukarelawan lain untuk menulis pesan dan menggunting karton bertema serta bergambar untuk dijadikan puzzle. Setelah digunting, potongan karton dimasukkan ke plastik dan dimasukkan ke kotak yang sesuai dengan daerah tujuan pengiriman. Membaca nama-nama daerah tersebut, saya merasa asing. Sama sekali nggak tahu daerah itu ada di pulau apa. -.-

Saya senang di wahana ini karena kakak-kakaknya interaktif menghibur sukarelawan. Mereka menyanyikan lagu yang diciptakan sendiri. Suasana jadi semakin asyik. Setelah selesai, Cha mendapat stiker Juara! dari seorang kakak panitia. Ah, makin senanglah ia.

3. Upacara Bendera di Aula Indonesia

Baru kemarin saya menghadiri upacara bendera yang dihadiri oleh ribuan peserta upacara. Baru kemarin saya mengikuti upacara bendera yang pesertanya nggak pakai seragam. Baru kemarin saya menitikkan air mata ketika bendera dinaikkan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, juga ketika mengheningkan cipta dimulai. Baru kemarin saya merinding dan terharu ketika mendengar Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila dibacakan oleh murid serta guru dari Halmehara Selatan, ditampilkan melalui video. Baru kemarin juga saya mengikuti upacara bendera sambil menggendong Cha yang ingin melihat jelas videonya.

*tarik napas

Indonesia, semangat dan optimis! Harapan itu terbentang luas.

4. Surat Semangat untuk Guru dan Kepala Sekolah

Pagi hari sebelum berangkat, saya sudah membuat surat semangat di rumah. Jadi di sana sebenarnya tinggal masukkan surat ke amplop dan kirim. Tapi ternyata Cha juga ingin berpartisipasi. Ia menggambar rumput, pohon, dino, matahari, dll di kertas yang sudah disediakan. Di surat semangat ini saya bercerita mengenai kegiatan saya sehari-hari dan pekerjaan saya. Saya senang karena panitia meminta sukarelawan mencantumkan alamat rumah, agar guru-guru di sana bisa membalas surat kami.

5. Kemas-kemas Sains

Cha suka dengan percobaan sains, jadi ia semangat sekali ke wahana ini. Kami bergabung dengan kurang lebih sepuluh sukarelawan lain dan menyiapkan bahan untuk percobaan katrol sederhana serta kompor matahari. Ternyata kit yang dibutuhkan banyak sekali. Jadi pengerjaan di wahana ini agak lama. Cha sempat bosan dan ingin ke wahana lain. Saya mengingatkan bahwa sebaiknya kita menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai. Saya juga menyemangatinya dengan mengatakan kalau paket-paket yang disiapkan ini untuk teman-teman di daerah. Alhamdulillah, Cha mampu menyelesaikan tugasnya di wahana ini.

kemassains

6. Senam Bergembira di Aula Indonesia

Sehabis mengisi perut, ke kamar mandi, dan salat Zuhur, kami mengikuti senam bergembira. Cha yang senang bergerak, sangat menikmati kegiatan ini. Kegiatan senam ini saya pikir mampu meredam keletihan yang mungkin dirasakan oleh sebagian sukarelawan dan panitia.

7. Surat Semangat untuk Adik-adik

Wah, saya pikir surat semangat hanya untuk guru dan kepala sekolah, jadi saya belum menyiapkan surat untuk adik-adik. Cha dan saya mendapat dua kertas dan dua alamat kirim yang berbeda. Cha untuk teman di Paser, saya untuk adik-adik di Fakfak. Cha seperti biasa menggambar dan saya yang menuliskan sedikit mengenai kegiatan Cha di sini. Harapannya sama, semoga ada surat balasan dari adik-adik di Paser dan Fakfak.

Kami belum mengikuti wahana Kartupedia, Sains Berdendang, Melodi Ceria, Video Profesi, dan Teater Dongeng. Jika FGIM diadakan lagi, semoga kami bisa bergabung di lebih banyak wahana.

 

Korps Donatur Publik

Bagi teman-teman yang ingin berdonasi untuk kegiatan Indonesia Mengajar, bisa menghubungi alamat email: kdp@indonesiamengajar.org

 

Bertemu Kakak-kakak SabangMerauke

Yihaaa, inilah salah satu yang kami nantikan.Alhamdulillah, bisa berjumpa dengan Kak Noni. Terima kasih sudah menyapa duluan ya, Kak. Bisa dadah-dadahan heboh sama Kak Rey dan Kak Putri. Soalnya kami masih di bawah, menanti gerbang dibuka, sedangkan dua kakak tersebut di atas. Lalu kami bertemu Kak Levin, kakak yang dicari-cari Cha. Haha.. Terus pas di Kotak Cakrawala, ketemu Kak Aisy. Di Surat Semangat, ketemu Kak Tika, Kak Marika, dan Kak Furi. Di Kemas-kemas Sains ketemu Kak Rosa. Pas mau makan siang, ketemu keluarga Bu Agnes dan Kak Levin (lagi). Senangnyaaa, jadi bisa duduk dan ngobrol bareng. Setelah makan, kami mau naik ke lantai 2, lalu ada yang manggil Cha. Eh ternyata ada Kak Fuad. Pas sampai di lantai 2, Kak Vietta menyapa. Senang, senang, senang! Oh ya, kami juga ketemu Mbak Hani dan Mas Adam, yang pernah sharing di acara Orientasi Awal SabangMerauke.

Semoga kita bisa bertemu di kegiatan baik lainnya ya, Kaaaak…

 

Salut buat semua yang sudah terlibat di FGIM. Semoga kegiatan baik dan keren semacam ini bisa rutin dilakukan. Ayo, nyalakan lilin!

Bereksperimen dengan Paket Sains

03 Oct 2013 Gita Lovusa Paket Eksperimen Sains, Percobaan 7

Saya kenal dengan Planet Sains setahun lalu, ketika Cha mengikuti lomba mewarnai celengan dinosaurus di Bandung. Waktu itu kami juga mendapatkan paket eksperimen sains yang judulnya Jejak Fosil Dino. Cha memainkannya dengan amat seru. Maklum, doi pengen pisan jadi paleontolog.

Saat saya dapat kabar kalau Planet Sains akan membuat box edition untuk paket-paket eksperimen sains-nya, Cha dan saya sangat tertarik. Lalu kami mencoba paket eksperimen yang ada di paket 1. Dalam setiap paket terdapat sepuluh judul kegiatan dan di setiap kegiatan ada alat serta bahan untuk sekali percobaan, petunjuk cara menggunakan, dan penjelasan sains.

 

Biji Menari

Kami pernah mencoba ‘permainan’ ini sendiri. Dengan menuangkan air soda ke gelas, lalu memasukkan aneka biji-bijian; biji kacang hijau, biji kedelai, biji kacang tanah. Jika di paket ini, kami mendapatkan dua bahan yang harus dilarutkan di air, yang fungsinya mirip dengan air soda. Dapat menimbulkan gas dan membuat biji-biji itu berputar dan naik turun. Di paket 1 hanya diberikan biji jagung. Karena di rumah ada biji kacang hijau, kami pun memasukkan biji kacang hijau ke dalam gelas. Biji-biji ini semakin seru menari. Yang saya amati, jika dibandingkan air soda,dua bahan tadi yang dilarutkan ke dalam air menimbulkan gas lebih banyak sehingga biji akan menari semakin lama.

biji menari

 

Setelah gas habis, Cha bertugas membereskan gelas dan minta izin untuk ‘membuangnya’ ke tanah berkonblok di halaman belakang. Saya menyetujuinya. Waaah, ternyata beberapa hari kemudian, Cha mengabarkan kalau biji-biji kacang hijau yang ‘dibuangnya’ tumbuh. Senangnyaaaa… sekarang tanaman-tanaman kecil itu disayang sekali oleh Cha.

 

Jejak Fosil Dino

Meskipun Cha pernah mencobanya, ia tetap tertarik untuk bereksperimen dengan gips, minyak, dan air lagi. Kali ini Cha bisa menekan dino kecil secara perlahan hingga menimbulkan jejak fosil pada gips yang sudah mengeras. Setelah jejak fosil terlihat, naluri paleontolognya tetap muncul. Cha mengetuk-ngetuk gips, membolonginya sampai akhirnya, “Mi, liat! Aku punya kamera baru.” Bocah kecil itu pun bergaya. Haha, ini naluri paleontolog, naluri fotografer, naluri keisengan, atau naluri kekreatifan ya? :D

 

kamera

 

Kapsul Ajaib

Membaca instruksinya, saya penasaran, apa yang ada di dalam kapsul-kapsul tersebut? Di eksperimen ini terdapat beberapa bahan serta empat buah kapsul. Kami diminta  menyediakan air hangat untuk merendam kapsul. Karena penasaran, kami juga menggunakan air biasa (langsung dari keran) untuk merendam kapsul. Akan terlihat perbedaan reaksi di antara keduanya. Setelah beberapa menit, ada busa yang keluar dari dalam kapsul. Cha membukanya dan tadaaaa, ini dia isinya.

 

angka

 

Inilah tiga dari sepuluh kegiatan yang ada di paket 1 eksperimen sains dari Planet Sains. Tujuh percobaan lain tentu menarik dan membuat si kecil penasaran. Jika ada yang berminat dengan paket eksperimen sains ini, bisa hubungi saya untuk info lebih lanjut dan pemesanan.
Lho, ujung-ujungnya kok jualan? Iya, sambil menyelam minum air. Semoga nggak keselek. ^^

 

1380349_10201404767417789_860853357_n

 

Gracias!