Arsip December, 2013

Ujian Kenaikan Tingkat Wushu Genta Suci 2013

12 Dec 2013 Gita Lovusa Wushu 8

Hari Minggu kemarin merupakan hari yang menyenangkan buat Cha karena untuk pertama kalinya, Cha mengikuti ujian kenaikan tingkat yang diadakan sasana Genta Suci. Cha mulai latihan wushu umur 5 tahun di Salsabila Wushu Indonesia (SWI) lalu pindah ke Genta Suci. Awal ketertarikan Cha dengan wushu melalui film Kungfu Panda. Setelah menonton film tersebut Cha senang sekali ciat-ciat dan menggunakan ranting pohon sebagai pedang atau toya.

Ketika pindah ke Genta Suci, Cha harus mulai latihan jurus dari awal karena jurus dasarnya ternyata berbeda dengan yang diajarkan di SWI. Setelah latihan jurus satu, dua, dan tiga, Cha berlatih jurus tradisional yang diujikan di ujian kenaikan tingkat ini.

Di ujian kenaikan tingkat, berkumpulah murid-murid Genta Suci dari empat sekolah di Tangerang. Ketika penguji dari pusat (Bogor) sudah datang, acara ujian kenaikan tingkat langsung dilaksanakan. Ada ujian tulis, menyebutkan nama jurus dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Lalu ujian gerakan dasar dan jurus tradisional. Untuk murid junior, ujian jurus tradisional dilakukan per kelompok, tidak seperti senior yang sendiri-sendiri.

Selesai ujian dilakukan, tiga senior menampilkan jurus yang sudah mereka pelajari. Lalu ada pengumuman bahwa pada bulan Mei 2014, Genta Suci mengadakan home tournament. Waaah, Cha senang sekali mendengarnya. Semoga kegiatan seperti ini bisa memotivasinya untuk semakin disiplin dan rajin berlatih.

 

IMG-20131208-01642 (1)

Sabang Merauke di Kick Andy

10 Dec 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 0

Senang membaca respon banyak orang mengenai Sabang Merauke di FB dan twitter, setelah mereka menonton tayangan Sabang Merauke di Kick Andy, Jumat 29 Desember lalu. Seperti Yayan dan Teguh, dua teman saya, yang bersemangat ingin menjadi relawan Sabang Merauke, padahal mereka tidak tinggal di Jabodetabek.

@Rhenald_Kasali di akun twitternya menyampaikan:

– Saya menyaksikan @SabangMeraukeID di Kick Andy. Saya bangga dengan komunitas ini, kita rindu hal2 seperti ini.

– Selamat atas program pertukaran pelajar yg sangat indah. Perbedaan itu untuk saling mencintai dan melengkapi.

Belum tahu tentang Sabang Merauke dan kegiatannya? Ketinggalan tayangan tentang Sabang Merauke di Kick Andy? Jangan khawatir, siarannya bisa ditonton di:

Kick Andy Programs: Kreativitas Anak Muda Indonesia

dan lanjutannya di:

Kick Andy Programs: Kreativitas Anak Muda Indonesia

Sebentar lagi, Sabang Merauke akan membuka pendaftaran untuk relawan. Simak infonya di @SabangMeraukeID, FB: Sabang Merauke, dan sabangmerauke.org.

quote volunteer

Sewaktu International Volunteers Day beberapa hari lalu, Kak Aichiro menuliskan kalimat di atas. Kak Aichiro bilang pernah membacanya di suatu tempat. Setelah saya cari, ternyata kalimat tersebut ditulis oleh Sherry Anderson.

Saya bersyukur kami sekeluarga bisa menjadi Family Sabang Merauke. Salah satu pengalaman yang indah dan mengayakan.

Miong Tetap Hidup di Hati

09 Dec 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Enam belas hari sejak kematian Miong, anak kucing yang kami pelihara. Ia datang ke halaman rumah, mengeong dalam keadaan badan dan kaki penuh luka, serta dikerubungi lalat. Cha meminta kami, untuk menolong anak kucing tersebut. “Hatiku retak liatnya, Mi. Kasian.” Kami membantunya sebisa mungkin. Ayah membersihkan lukanya dengan air hangat, sedangkan saya menyiapkan segala keperluan untuk itu, seperti lap, kain, air, plastik, dan lain-lain. Saya pun bertanya ke beberapa teman mengenai pertolongan selanjutnya, “Bagaimana cara memberi susu atau makan? Di mana praktik dokter hewan di Tangerang?” karena kami belum pernah mengurus anak kucing sebelumnya.

Anak kucing itu diberi susu yang ada di rumah dengan menggunakan sedotan. Ia tidak menyedot susunya dengan sedotan karena sepertinya tenaganya belum sanggup untuk melakukan itu. Ayah memfungsikan sedotan seperti pipet, dengan membuka dan menutup ujung sedotan dengan jari. Setelah itu kami membawanya ke klinik dokter hewan di Kembangan, dokter menyatakan bahwa luka si anak kucing parah sekali. Dokter hewan membersihkan luka dan membekali kami dengan beberapa obat, susu kucing, pipet, dan lainnya. Keesokan harinya kami ke dokter hewan yang praktik di Cipondoh, di dekat rumah. Luka-luka Miong dijahit, badannya disuntik, dan kami kembali dibekali obat-obatan.

Kami mengurus dan mengobati lukanya sebisa mungkin atas saran dokter hewan. Di hari keempat berada di rumah, Miong belajar untuk berdiri dan jalan, meskipun awalnya terjatuh-jatuh, akhirnya ia bisa berjalan, meski dengan kondisi tiga kakinya patah. Hari ke hari keadaannya semakin membaik, jalannya semakin cepat, makannya pun banyak. Cha senang sekali mengajaknya bermain cilukba, main bola, bahkan kandang Miong pernah dihias dedaunan oleh Cha. “Biar kandangnya cantik, Mi.”

IMG-20131119-01564

 

Miong selalu antusias ketika kami bangun tidur atau pulang ke rumah. Ia akan mengeong nyaring sekali. Miong juga senang mencari kaki, berharap kami akan mengelusnya dengan kaki. Hihi.. Namun, di hari ke delapan belas Miong berada di rumah, ia mulai menunjukkan gejala yang berbeda. Makan sedikit dan terlihat lemas. Kami membawanya ke dokter hewan untuk periksa sekaligus kontrol mingguan. Dokter mengatakan kaki depan Miong sudah kaku, kemungkinan infeksi sudah menyebar ke darah. Dokter sempat mengatakan, “Kalau Miong ada kejang atau badannya panas, kemungkinan tetanus, Pak, Bu. Kalau benar tetanus, Miong harus disuntik mati agar tidak membahayakan.”

Saya tidak membayangkan kalau itu terjadi dan berharap setelah diberi obat baru, keadaan Miong akan lebih baik. Keesokan harinya, pada Minggu subuh, saya keluar kamar dan menyalakan lampu, Miong tak mengeong, padahal biasanya ramai sekali. Ketika saya tengok, rupanya tubuhnya semakin tak berdaya. Ia sudah tak mampu berdiri. Sekitar pukul 8 pagi, Miong mati.

Bukan hanya Cha yang menangis, Ayah pun tertunduk dan diam, air mata saya mengalir. Kami menguburnya di halaman rumah, tempat Cha melihatnya pertama kali.

Seperti yang disampaikan Mas Alan, suami Mbak Shant, “Duka itu pendek. Yang panjang adalah rasa rindu.”

Ucapan itu betul sekali seperti yang kami rasakan. Meski hanya anak kucing, meski hanya sembilan belas hari, kami merasa sangat dekat dan menganggap Miong seperti anggota keluarga sendiri. Cha masih suka menangis tiba-tiba dan bilang, “Kangen Miong, kangen Miong.” Ayah masih menitikkan air mata jika kami bercerita tentang Miong, padahal cerita lucu tentang Miong, atau ketika Cha menirukan suara ngeong Miong.

Ketika hujan turun, Cha berteriak, “Ummi, ujaaan. Nanti Miong kebasahan nggak? Kalo Miong kena petir gimana?”

Ketika saya sampaikan bahwa Miong sudah sehat dan main-main sama Allah sekarang, Cha berkomentar, “Kalo Miong udah sehat, kita gali aja kuburnya.”

Ketika datang berita tentang meninggalnya seseorang, Cha bertanya, “Kenapa banyak yang meninggal ya, Mi?”

“Kenapa memangnya, Cha?”

“Iya, kemaren bapaknya Pak Satpam, dulu Miong. Kenapa banyak yang kembali ke Allah?”

Ketika Cha ingat kembali dengan Miong, ia bertanya, “Ummi, kalo aku meninggal kaya Miong, orang-orang bakal cari aku enggak, ya? Bakal kangen aku nggak, ya?”

Pertanyaan atau pernyataan seperti ini membuat hati menjadi gerimis. Sambil menahan air mata, saya berusaha menjawabnya. Menjelaskan sedikit mengenai roh, menjabarkan bahwa selain banyak yang meninggal, banyak juga bayi yang baru dilahirkan, sesederhana mungkin mengenalkan prinsip keseimbangan. Tanggapannya mengenai prinsip keseimbangan adalah dengan berdiri di pinggir sofa, merentangkan kedua tangan, dan berjalan pelan. “Aku seimbang,” sahutnya sambil tersenyum ceria.

Kemarin, saat kami sedang membaca surat Az-Zalzalah dan membaca arti ayat 6: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka.”

“Keluar dari kubur? Berarti Miong nanti juga keluar?” tanya Cha.

“Mungkin, Cha. Nanti Miong kalo keluar, insyaAllah dalam keadaan sehat, ya. Miong kan, baik ya. Ntar Miong keluar cari-cari Cha. ‘Mana ya, anak kecil yang baik hati, yang dulu tolong aku?'” Saya berkata seperti ini dengan maksud menyenangkan hati Cha dan menegaskan bahwa yang dilakukannya sungguh baik. Namun reaksi Cha di luar dugaan. Bibir Cha bergetar.

“Lho, kenapa Cha?”

Tangisnya pun pecah. “Kangen Miong, kangen Miong. Kalo Miong keluar dari kubur, ketemu Cha Cha, Miong harus ke sini lagi. Main lagi di rumah Cha Cha.”

Saya memeluknya. “InsyaAllah, Cha. InsyaAllah.”

Setahun yang lalu, Cha pertama kali belajar tentang kematian dari meninggalnya Abdullah [saya tulis kisahnya di Kembali ke Sang Pencipta]. Hari ini ia  bersama kami mengulangi kembali pelajaran itu.

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

***

Tulisan ini pernah dimuat di Leisure, Republika, di rubrik Buah Hati, 28 Januari 2014.

leisure

Kembali ke Sang Pencipta

Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Sewaktu duduk di kelas 5 SD, saya pernah menjadi takut tidur ketika mengetahui bahwa siapapun bisa meninggal. Tak peduli muda atau tua, sakit atau sehat. Sebelumnya, saya pikir hanya bayi yang baru dilahirkan dan orang lanjut usia yang sudah sakit-sakitan yang bisa meninggal. Pemahaman saya terkoreksi begitu melayat saudara sepupu yang meninggal pada usia 17 tahun. Di rumah duka, saya mendengar percakapan, “Memang ya, usia itu nggak bisa ditebak. Masih muda dan dalam keadaan sehat saja bisa meninggal.” Seketika saya diselimuti rasa takut dan pikiran bahwa ternyata saya juga bisa meninggal kapan saja.

Sejak saat itu, saya tak mau tidur. Saya ingin terus terjaga agar kemungkinan meninggal itu tidak akan datang. Ibu saya menjelaskan bahwa meninggal itu kejadian alami, tidak perlu ditakutkan, kita seperti pergi ke tempat lain dalam waktu lama. Perlahan, saya mulai kembali berani tidur.

Peristiwa itu merupakan salah satu kejadian masa kecil yang lekat di ingatan. Setelah menjadi ibu, saya memikirkan cara untuk menjelaskan pada anak kelak jika ia bertanya soal tutup usia. Saya tak ingin ananda merasakan ketakutan akan kematian, seperti yang pernah saya rasakan.

Allah SWT memang Mahabaik. Saya diberi kesempatan untuk mengenalkan makna meninggal dengan cara tersendiri. Beberapa bulan lalu, putri saya yang biasa dipanggil Cha Cha kenal seorang anak bernama Abdullah (6 tahun), putra teman baik saya. Saat itu Abdullah masuk rumah sakit dan ditempatkan di ICU anak-anak. Cha Cha mulai bertanya tentang Abdullah. “Abdullah kenapa? Sakit apa?” Meluncurlah cerita saya tentang yang dialami Abdullah. Saya pun mengajak Cha Cha berdoa untuk Abdullah.

Beberapa hari setelahnya, saya dapat kabar Abdullah berpulang. Dengan polosnya, Cha Cha bertanya, “Abdullah meninggal? Berarti Abdullah sudah disembuhin sama Allah?” Saya yang tadinya bercucuran air mata mendadak diam beberapa detik, berusaha mencerna pertanyaannya. Saya akhirnya bisa menjawab, “Benar, Cha. Benar. Abdullah sudahdisembuhin Allah.”

Ternyata kejadian itu membuat Cha Cha banyak bertanya. Akhirnya kami berdiskusi mengenai aneka tema, mulai dari sakitnya seseorang, doa, tentang kasih sayang dan kuasa Allah, soal perasaan, meninggal, alasan orang meninggal dimasukkan ke tanah, mengenai makhluk hidup, dan lainnya.

Beberapa hari setelah meninggalnya Abdullah, Cha Cha tiba-tiba bilang, “Ummi, aku mau ke langit dulu, ya.”

Saya yang lagi mencuci piring, terkejut mendengarnya, “Mau ngapain, Cha?”

“Aku mau ketemu Abdullah di langit. Abis Abdullah mainnya lama sama Allah.”

Beberapa detik kemudian. “Ummi, kayanya Allah suka deh, main sama Abdullah,” sahut Cha Cha sambil tersenyum.

Di lain waktu, Cha Cha menatap langit, lalu berteriak, “Abdullaaaaahh…”

“Cha, kenapa?” tanya saya.

“Aku ingin main sama Abdullah, Mi. Gimana caranya aku ketemu Abdullah? Aku naik ke langit? Naiknya gimana?”

Saat kami sedang di kendaraan, Cha Cha kembali bertanya. “Kenapa Abdullah meninggal ya, Mi? Padahal kan, ibunya sayang sekali sama Abdullah.”

Pertanyaannya tak terjawab spontan oleh saya. “Betul, Cha. Ibunya memang sayang sekali sama Abdullah, tapi Allah jauh lebih sayang.”

Cha Cha diam beberapa saat, lalu mengangguk. “Oh, Allah juga sayang sekali ya, sama Abdullah.” Saya mengiyakan pernyataannya.

Keinginan untuk bertemu Abdullah dan pertanyaan seputar meninggalnya Abdullah terus keluar dari mulut mungilnya. Meski Abdullah dan Cha Cha tidak pernah bertemu, Cha Cha pun hanya mengenal Abdullah melalui cerita saya, saya tak ragu untuk menyebut mereka sebagai sahabat hati. Dua sahabat yang dipertemukan Allah dalam rangka untuk semakin mengenal-Nya.[]

 

[Tulisan ini pernah dimuat di Leisure Republika Selasa 11 Desember 2012]

leisure

Kuis: EBook Cerita Anak Bergambar

04 Dec 2013 Gita Lovusa e-book 8

Di awal tahun 2013 saya menonton sebuah video dari TED yang berjudul Before I Die, I Want To … Video yang disampaikan oleh Candy Chang itu membuat saya tidak bisa tidur dan terus berpikir, “Apa yang mau saya lakukan sebelum meninggal?”

Setelah sekian hari merenung dan berdoa, akhirnya saya dapatkan jawabannya. Ada dua hal yang ingin saya lakukan sebelum meninggal, yang pertama adalah sesuatu yang bersifat pribadi, jadi mohon maaf, tidak bisa disampaikan, dan yang kedua adalah saya ingin berbagi eBook cerita anak bergambar dalam bahasa Indonesia kepada para orangtua dan pembaca cilik.

Kenapa eBook cerita anak bergambar? Karena semakin sering saya membaca picture book, saya semakin suka dan ingin menekuni dunia ini.

Kenapa dalam bahasa Indonesia? Karena melihat banyaknya eBook cerita anak bergambar dalam bahasa Inggris yang bisa diunduh gratis dan saya bertanya dalam hati, “Ooh, mana yang berbahasa Indonesia?” Mungkin ada, tetapi saya belum tahu. Satu hal yang saya yakini, yaitu saya ingin ikut andil, saya ingin membuatnya.

Dan inilah, saat ini ada 19 eBook cerita anak bergambar yang bisa teman-teman unduh gratis. Terima kasih saya untuk para penulisnya; Cha, Nasya, dan Teh Febi ‘Yudith Fabiola’. Juga untuk para ilustrator, yang telah membuat cerita anak yang ditulis, terlihat semakin menarik; Mbak Nita Candra, Mbak Tyas Shinta, Mbak Ratna Kusuma Halim, dan ilustrator cilik, Fair.

Harapan saya, kehadiran eBook ini bisa berlangsung lama; jumlahnya terus bertambah, ceritanya semakin berkualitas, dan ilustrasinya semakin indah.

 

Oleh karena itu, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada teman-teman, antara lain:

1. Apa pesan kesan teman-teman mengenai eBook cerita anak bergambar yang ada di serusetiapsaat.com? Dari mana teman-teman mengetahuinya?

2. EBook manakah yang paling disuka? Apa alasannya? [Boleh disebutkan dari pendapat orangtua maupun anak. Boleh menyebutkan lebih dari satu judul eBook, maksimal tiga.]

3. Apa saran teman-teman untuk pengembangan eBook cerita anak bergambar ini?

 

Teman-teman bisa menjawab di kolom komen di bawah ini.

 

Jawaban saya tunggu sampai hari Jumat, 13 Desember 2013 pukul 12 malam.

Silakan ajak teman-teman lain untuk mengikuti kuis ini dan membaca eBook cerita anak bergambar yang ada di sini. Agar keberadaannya semakin  bermanfaat luas.

Pemenang insyaAllah akan diumumkan hari Senin, 16 Desember 2013. Untuk enam orang yang beruntung akan mendapatkan voucher belanja di Idea BookShop sebesar @Rp.50.000. Saya suka beli buku di Idea BookShop karena bukunya bagus-bagus dan Mbak Ayu, pengelolanya, dapat dipercaya. Terima kasih untuk kerjasamanya ya, Mbak!

ideabookshop - Copy

 

Saya sering teringat ucapan tetangga saya yang sukses berwirausaha. “Jangan pernah lupakan yang pertama.” Maksudnya adalah orang-orang pertama yang membuatmu mengenal jalan yang ditempuh saat ini dan hal pertama yang dilakukan saat sedang meniti usaha/karir. Terima kasih saya untuk  Mbak Maria Magdalena yang waktu itu menjual eBook milik Pandu, putranya, dan Mbak Ines Puspita, yang banyak mengajarkan saya mengenai eBook.