Arsip April, 2014

Pertemuan Perdana Relawan Ruang Belajar

28 Apr 2014 Gita Lovusa Ruang Belajar 0

Saya daftar jadi relawan Ruang Belajar di hari terakhir karena baru baca email pemberitahuan dari Festival Gerakan Indonesia Mengajar (fyuh, untung aja nggak terlambat). Lihat-lihat portalnya dan suka karena berisi aneka macam metode pengajaran dari para pengajar muda di seluruh Indonesia. Alhamdulillah, saya terpilih jadi salah satu dari sekian relawan Ruang Belajar di periode kedua ini. Nah, hari Minggu kemarin, saya datang ke pertemuan perdana Ruang Belajar yang diadakan di kantor Indonesia Mengajar (IM). Ihiy, akhirnya masuk ke kantor IM. ^^

RB

Pertemuan dimulai tepat pukul 10 pagi. Cha ikut ke pertemuan tersebut. Ikut pakai label nama dan menyimak penuturan dari Kak Shally Pristine.

RB1

Kertas di atas adalah kertas di sesi perkenalan. Cara berkenalan di Ruang Belajar – Indonesia Mengajar cukup unik. Para peserta diminta untuk menyebutkan dua kata sifat sesuai inisial nama panggilan masing.-masing. Setiap peserta harus berkeliling dan berkenalan dengan peserta lain sambil menyebutkan seperti ini, “Halo, saya Caca, cakep cantik.” atau “Halo, nama saya Koko, keriting keren.” Kalau sudah berkenalan dengan peserta lain, kami harus minta tanda tangan dari orang tersebut. Ketika saya berkenalan, yang kepikiran adalah “Halo, saya Gita, gilanya tanggung.” Hihihi, bukan dua kata sifat sih, tapi nggak kepikiran sifat lainnya.

Setelah waktu perkenalan sesi, kami ditanya siapa yang mengumpulkan tanda tangan paling banyak. Ada yang dapat sepuluh atau sebelas tanda tangan [saya lupa jumlah pastinya], tapi saya hanya dapat lima dan Cha dapat satu. Meski hanya dapat satu tanda tangan, Cha senang sekali di sesi ini.

RB4

Tibalah saatnya membicarakan inti pertemuan, yaitu perkenalan tentang Ruang Belajar dan yang harus dilakukan para relawan. Seperti yang tampak di http://belajar.indonesiamengajar.org, Ruang Belajar berisi berbagai metode pengajaran yang kreatif dan kontekstual, yang diterapkan para pengajar muda di berbagai daerah penempatan. Tujuannya agar metode-metode yang menarik ini dapat diterapkan juga di kelas-kelas lain di Indonesia.

Tugas relawan terbagi jadi beberapa bagian. Ada yang di bagian sosialisasi, IT, desain, dan penyuntingan artikel. Saya di bagian penyuntingan. Hehe, posisinya pas sekali. Tugasnya menyunting artikel yang dikirim oleh para pengajar muda agar keterbacaannya menjadi enak. Para relawan bekerja dari rumah masing-masing dan ada pertemuan darat setiap bulannya. Agenda pertemuan berikutnya untuk tim penyuntingan adalah mengikuti workshop penyuntingan pada tanggal 11 Mei 2014.

RB3

Seperti yang sering disampaikan oleh Pak Anies Baswedan, “Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.” Kak Shally Pristine pun mengingatkan untuk bersama ambil bagian sekecil atau sebesar apa pun untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai Ruang Belajar, silakan kunjungi portal Ruang Belajar atau add FB: Ruang Belajar  atau follow twitter: @ruangbelajarid.

 

Cha Bertanya, “Allah terbuat dari apa?”

23 Apr 2014 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

tmnTak lama setelah berbaring dan menguap, Cha balik badan dan bertanya, “Kalau Allah terbuat dari apa?” Dia diam sejenak, lalu menegaskan kembali keingintahuannya. “Kalau setan kan dari api, kalau Allah terbuat dari apa?”

Saya kaget dengan pertanyaannya dan tidak tahu jawaban yang tepat. Jawaban saya sempat simpang siur ke sana kemari sambil memikirkan jawaban yang pas. Tapi setelah sekian menit, saya masih nggak tahu harus bilang apa. Sepertinya Cha paham dengan gelagat saya, dia pun bilang, “Besok kita cari tau lagi, ya.”

Keesokan paginya, saya bertanya ke beberapa teman. Ini jawaban mereka:

1. Kak RaniwAllah itu Laisakamitslihi syai’un. Surat 42:11.

2. Mbak Moenk aka Sayyidah Murtafiah Djauhar:

Dek, Nabi kita sudah mengetahui kalau kelak, akan ada pertanyaan seperti ini. Siapa yang menciptakan Allah? Allah terbuat dari apa? 

Lalu, Nabi berpesan, kalau sudah sampai di sini pertanyaannya, maka kita wajib membaca ta’awudz. 

Kok ta’awudz? Karena pertanyaan tentang Allah, akan membawa kita pada bisikan-bisikan dari syetan. 

Tanyakan segala hal, tapi jangan bertanya tentang Allah, Yang Maha Menciptakan. 

Sedangkan disaat ibu tidak tau apa apa, Allah sudah Maha Mengetahui. Kita hanya melihat, sedangkan Allah Yang Maha melihat.

Bagaimana mungkin kita yang terbatas ini akan mencari tau tentang Dzat Yang Kehebatannya tak terbatas? 

Nah berkaitan dengan hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada kita obat mujarab ketika dihinggapi syubhat ini. 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

يَأْتِى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Syaithon akan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu dia (syaithon) mengatakan, “Siapakah yang menciptakan ini dan itu? Hingga ia menanyakan, “Siapakah yang menciptakan Robb mu? 

Jika telah sampai pada pertanyaan itu maka jika telah sampai pada pertanyaan tersebut maka berta’awwudzlah kepada Allah dan hentikanlah fikiran itu

[HR. Bukhori no. 3276 dan Muslim no. 134]

Dalam riwayat lain disebutkan,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ

“Manusia tidak akan henti-hentinya saling bertanya hingga muncul pertanyaan Allah menciptakan mahluk. Lalu siapa yang menciptakan Allah. Maka barangsiapa yang menemui pertanyaan yang semisal maka katakanlah aku beriman kepada Allah” [HR Muslim 134].

Wallaahu A’lam bishshawaab.

3. Teh Dydy DyahCha pengen tau? Terus cari seumur hidupmu ya Cha, kayak suami tante dydy.

4. Kak Harlia Hasjim: Udah ditanya menurut Cha gimana, belum? Coba tanya deh.

5. Mbak Vienna Alifa:

Menurutku, jawaban ke anak seumur Cha, gak perlu panjang lebar dengan dalil-dalil dulu. Seperlunya saja seperti jawaban mbak Fitrani yang mengutip surat 42:11 itu. Atau setuju kata mbak Harlia, ditanya balik dulu menurut dia gimana. Setelah itu barangkali bisa ditambah dengan sedikit bermain logika, “Kalau Ummi buat sirup atau bikin masakan buat Cha, kira2 Cha tahu gak bahan-bahan yang Ummi masukkin ke dalamnya, kecuali kalau Ummi ngasih tahu Cha terlebih dulu?” Ntar kalau dia geleng, baru deh dimasukkan ke pertanyaan dia tadi. 
“Ya begitu juga penciptaan syaithan dari api, malaikat dari cahaya dan manusia dari tanah, kita tahu karena diberi tahu oleh Penciptanya, yaitu Allah. Sedangkan Allah nggak pernah kasih tahu Dia sendiri terbuat dari apa, selain menjelaskan bahwa Dia ada dengan sendirinya dan dari Dia-lah segala yang ada di depan kita tercipta.” 

Allahu’alam. 

Semoga Cha mengerti ya. Jangan lupa sebelum berdiskusi dengan Cha, baca basmallah dan berdo’a terlebih dulu agar lisan Gita dipermudah dan akal Cha dibukakan Allah utk menerima penjelasan-penjelasan tentang ketauhidan. Aamiin.

Saya sampaikan penjelasan dari Mbak Vienna ke Cha dan Cha bertanya lagi, “Kenapa Allah nggak ngasih tau, ya?” Lalu Mbak Vienna jawab:

Cha.. Cha, bikin guemeshh deh. Tahu nggak Cha, kita aja suka punya atau nyimpen rahasia, masa Allah, yang Nyiptain manusia gak punya. Pasti dahsyat pula rahasiaNya. Dan hanya orang-orang yang udah dekeettt bangeed aja kan biasanya yang tahu rahasia kita. Begitu juga Allah. Cuma orang2 yang dekeett dan rajin berinteraksi dengan Quran aja yang bakal dikasih tahu dikit2 rahasiaNya.

Saya sampaikan juga penjelasan dari Mbak Vienna ini ke Cha dan Cha mengangguk-angguk. Lalu saya motivasi Cha untuk terus mempelajari Al-Qur’an, bersama-sama.

Ada juga putri Yunita Anggraini, Khalila, yang bertanya, “Kenapa Allah nggak bisa meninggal?”

Mbak Moenk bilang ajak anak untuk membuka Al-Qur’an dan baca surat Al-Baqarah:255. Saya baca artinya dan merinding seketika. Arti ayat tersebut pas sekali.

Terima kasih banyak untuk jawabannya, Mbak, Kakak, dan Teteh. ^^