Asyiknya Mengamati Hewan

28 Nov 2012 Gita Lovusa Lagu, Mengamati Hewan, Percobaan 0

Sejak dulu, saya ingin sekali mengajak Cha memelihara kecebong dan ulat. Ingin melihat secara langsung metamorfosis dua makhluk lucu itu. Ahamdulillah, saat ke toko tanaman bersama Cha di akhir Agustus, saya melihat banyak kecebong di kolam. Saya bertanya ke penjaga toko untuk meminta beberapa kecebong. Penjaga baik hati itu langsung mengizinkan dan mengambilkan beberapa kecebong.

Sampai rumah, Cha dan saya antusias. Kami segera mengambil ember kosong, memberinya sedikit air, dan menaruh kecebong-kecebong di sana. Kami juga mencari tahu mengenai makanan kecebong, yang ternyata berupa daun kering. Kami taruh beberapa helai daun kering di ember dan mengamati perilaku kecebong setiap hari. Cha tertawa saat kecebong berbalik badan dan meminum air. Terlihat mulutnya bergerak-gerak.

Selama beberapa minggu dipelihara, macam-macam hal terjadi. Ada kecebong yang mati, kalau kata Cha mungkin karena ember sempat dibersihkan dan kecebong dipindahkan ke akuarium. Saya menuruti titah Cha untuk tidak membersihkan airnya lagi. Beberapa kemudian, Cha berteriak, “Ummi, udah ada kakinya!”

Wah, saya langsung lari dan lihat ke akuarium. Jujur, ini pertama kalinya saya melihat kejadian alam yang hebat ini. Ekor kecebong masih panjang, sedangkan kaki belakang sudah bergerak-gerak. Beberapa hari kemudian, kaki kecebong lain pun mulai keluar. Lalu, ekor-ekor mereka mulai hilang dan kecebong itu telah berubah menjadi kodok kecil. Pada saat ini, kodok kecil sepertinya sudah tidak terlalu suka di air. Ia senang lompat ke atas batu yang kami taruh di dasar akuarium atau lompat ke dinding akuarium. Kalau pun masuk ke air, hanya sebentar. Ketika ia masuk ke air, kami melihat gerakan kakinya dan teringat gaya kodok di olahraga renang. ^^

Sesuai kesepakatan awal, setelah jadi kodok kecil, kami melepas mereka di halaman depan. Cha membuat upacara khusus dengan membawa bendera kodok. Kami pun sempat bersenandung:

Dari telur jadi kecebong

Kecebong jadi kodok kecil

Kodok kecil jadi kodok besar

Kodok besar bertelur lagi

[dinyanyikan pakai lagu Rasa Sayange]

dan mengucapkan salam perpisahan, “Have a nice journey, Little frogs. Till we meet again.”

Tak berapa lama, tanah di halaman depan dibongkar. Kami pun menemukan beberapa siput. Aha! Kesempatan untuk mengamati siput selama beberapa hari. Akuarium kosong tadi kami isi dengan tanah dan rumput, lalu meletakkan empat siput di sana. Berdasarkan info dari Mbak Ing, kami memberi siput-siput itu wortel yang diiris kecil. Ketika mereka makan wortel, kotorannya berwarna oranye. Ketika kami beri makan daun-daun hijau, kotorannya berwarna hijau. Hihi.. lucu! Oh ya, bagian atas akuarium ditutup dengan plastik yang sudah dibolongi agar siput tidak keluar.

Dari pengamatan, kami jadi mengetahui kalau siput lebih banyak diam di waktu pagi sampai sore. Menjelang malam mereka baru berjalan mencari makan. Siput juga mengeluarkan lendir yang sepertinya berfungsi jadi jejak mereka. Dengan asyik, Cha mengamati siput yang berjalan keliling akurium. Tertawa ketika antena siput bisa keluar masuk. Ternyata di ujung antenanya ada mata. Keren, ya! Cha sempat bertanya, “Mana siput cewek, mana siput cowok, Mi?”

Kami mencari tahu di internet, mempelajari anatomi siput, dan mengetahui kalau siput itu hermafrodit. Setelah beberapa hari diamati, kami mengembalikan siput-siput itu ke halaman depan lagi.

Tadi malam, ketika sedang santai, saya iseng bertanya ke Cha mengenai kecebong.

Saya: Cha, ingat nggak, waktu melihara kecebong?” | Cha: Ingat.

Saya: Makanan kecebong waktu itu apa? | Cha: Daun kering.

Saya: Pas mau berubah jadi kodok, apanya yang keluar? | Cha: Kakinya.

Saya: Terus? | Cha: Kakinya makin panjang, ekornya hilang.

Saya: Kaki kodok ada berapa? | Cha: Satu, dua, tiga, empat. Empat! Kaki belakangnya lebih panjang.

Saya: Kalau udah jadi kodok kecil, jadi apa? | Cha: Kodok besar.

Senang, ternyata Cha masih ingat. Pengamatan dan pengalaman langsung memang guru terbaik, ya.