Kategori: Cerita Hari-hari

Cha Bertanya, “Allah terbuat dari apa?”

23 Apr 2014 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

tmnTak lama setelah berbaring dan menguap, Cha balik badan dan bertanya, “Kalau Allah terbuat dari apa?” Dia diam sejenak, lalu menegaskan kembali keingintahuannya. “Kalau setan kan dari api, kalau Allah terbuat dari apa?”

Saya kaget dengan pertanyaannya dan tidak tahu jawaban yang tepat. Jawaban saya sempat simpang siur ke sana kemari sambil memikirkan jawaban yang pas. Tapi setelah sekian menit, saya masih nggak tahu harus bilang apa. Sepertinya Cha paham dengan gelagat saya, dia pun bilang, “Besok kita cari tau lagi, ya.”

Keesokan paginya, saya bertanya ke beberapa teman. Ini jawaban mereka:

1. Kak RaniwAllah itu Laisakamitslihi syai’un. Surat 42:11.

2. Mbak Moenk aka Sayyidah Murtafiah Djauhar:

Dek, Nabi kita sudah mengetahui kalau kelak, akan ada pertanyaan seperti ini. Siapa yang menciptakan Allah? Allah terbuat dari apa? 

Lalu, Nabi berpesan, kalau sudah sampai di sini pertanyaannya, maka kita wajib membaca ta’awudz. 

Kok ta’awudz? Karena pertanyaan tentang Allah, akan membawa kita pada bisikan-bisikan dari syetan. 

Tanyakan segala hal, tapi jangan bertanya tentang Allah, Yang Maha Menciptakan. 

Sedangkan disaat ibu tidak tau apa apa, Allah sudah Maha Mengetahui. Kita hanya melihat, sedangkan Allah Yang Maha melihat.

Bagaimana mungkin kita yang terbatas ini akan mencari tau tentang Dzat Yang Kehebatannya tak terbatas? 

Nah berkaitan dengan hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada kita obat mujarab ketika dihinggapi syubhat ini. 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

يَأْتِى الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Syaithon akan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu dia (syaithon) mengatakan, “Siapakah yang menciptakan ini dan itu? Hingga ia menanyakan, “Siapakah yang menciptakan Robb mu? 

Jika telah sampai pada pertanyaan itu maka jika telah sampai pada pertanyaan tersebut maka berta’awwudzlah kepada Allah dan hentikanlah fikiran itu

[HR. Bukhori no. 3276 dan Muslim no. 134]

Dalam riwayat lain disebutkan,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ

“Manusia tidak akan henti-hentinya saling bertanya hingga muncul pertanyaan Allah menciptakan mahluk. Lalu siapa yang menciptakan Allah. Maka barangsiapa yang menemui pertanyaan yang semisal maka katakanlah aku beriman kepada Allah” [HR Muslim 134].

Wallaahu A’lam bishshawaab.

3. Teh Dydy DyahCha pengen tau? Terus cari seumur hidupmu ya Cha, kayak suami tante dydy.

4. Kak Harlia Hasjim: Udah ditanya menurut Cha gimana, belum? Coba tanya deh.

5. Mbak Vienna Alifa:

Menurutku, jawaban ke anak seumur Cha, gak perlu panjang lebar dengan dalil-dalil dulu. Seperlunya saja seperti jawaban mbak Fitrani yang mengutip surat 42:11 itu. Atau setuju kata mbak Harlia, ditanya balik dulu menurut dia gimana. Setelah itu barangkali bisa ditambah dengan sedikit bermain logika, “Kalau Ummi buat sirup atau bikin masakan buat Cha, kira2 Cha tahu gak bahan-bahan yang Ummi masukkin ke dalamnya, kecuali kalau Ummi ngasih tahu Cha terlebih dulu?” Ntar kalau dia geleng, baru deh dimasukkan ke pertanyaan dia tadi. 
“Ya begitu juga penciptaan syaithan dari api, malaikat dari cahaya dan manusia dari tanah, kita tahu karena diberi tahu oleh Penciptanya, yaitu Allah. Sedangkan Allah nggak pernah kasih tahu Dia sendiri terbuat dari apa, selain menjelaskan bahwa Dia ada dengan sendirinya dan dari Dia-lah segala yang ada di depan kita tercipta.” 

Allahu’alam. 

Semoga Cha mengerti ya. Jangan lupa sebelum berdiskusi dengan Cha, baca basmallah dan berdo’a terlebih dulu agar lisan Gita dipermudah dan akal Cha dibukakan Allah utk menerima penjelasan-penjelasan tentang ketauhidan. Aamiin.

Saya sampaikan penjelasan dari Mbak Vienna ke Cha dan Cha bertanya lagi, “Kenapa Allah nggak ngasih tau, ya?” Lalu Mbak Vienna jawab:

Cha.. Cha, bikin guemeshh deh. Tahu nggak Cha, kita aja suka punya atau nyimpen rahasia, masa Allah, yang Nyiptain manusia gak punya. Pasti dahsyat pula rahasiaNya. Dan hanya orang-orang yang udah dekeettt bangeed aja kan biasanya yang tahu rahasia kita. Begitu juga Allah. Cuma orang2 yang dekeett dan rajin berinteraksi dengan Quran aja yang bakal dikasih tahu dikit2 rahasiaNya.

Saya sampaikan juga penjelasan dari Mbak Vienna ini ke Cha dan Cha mengangguk-angguk. Lalu saya motivasi Cha untuk terus mempelajari Al-Qur’an, bersama-sama.

Ada juga putri Yunita Anggraini, Khalila, yang bertanya, “Kenapa Allah nggak bisa meninggal?”

Mbak Moenk bilang ajak anak untuk membuka Al-Qur’an dan baca surat Al-Baqarah:255. Saya baca artinya dan merinding seketika. Arti ayat tersebut pas sekali.

Terima kasih banyak untuk jawabannya, Mbak, Kakak, dan Teteh. ^^

 

Miong Tetap Hidup di Hati

09 Dec 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Enam belas hari sejak kematian Miong, anak kucing yang kami pelihara. Ia datang ke halaman rumah, mengeong dalam keadaan badan dan kaki penuh luka, serta dikerubungi lalat. Cha meminta kami, untuk menolong anak kucing tersebut. “Hatiku retak liatnya, Mi. Kasian.” Kami membantunya sebisa mungkin. Ayah membersihkan lukanya dengan air hangat, sedangkan saya menyiapkan segala keperluan untuk itu, seperti lap, kain, air, plastik, dan lain-lain. Saya pun bertanya ke beberapa teman mengenai pertolongan selanjutnya, “Bagaimana cara memberi susu atau makan? Di mana praktik dokter hewan di Tangerang?” karena kami belum pernah mengurus anak kucing sebelumnya.

Anak kucing itu diberi susu yang ada di rumah dengan menggunakan sedotan. Ia tidak menyedot susunya dengan sedotan karena sepertinya tenaganya belum sanggup untuk melakukan itu. Ayah memfungsikan sedotan seperti pipet, dengan membuka dan menutup ujung sedotan dengan jari. Setelah itu kami membawanya ke klinik dokter hewan di Kembangan, dokter menyatakan bahwa luka si anak kucing parah sekali. Dokter hewan membersihkan luka dan membekali kami dengan beberapa obat, susu kucing, pipet, dan lainnya. Keesokan harinya kami ke dokter hewan yang praktik di Cipondoh, di dekat rumah. Luka-luka Miong dijahit, badannya disuntik, dan kami kembali dibekali obat-obatan.

Kami mengurus dan mengobati lukanya sebisa mungkin atas saran dokter hewan. Di hari keempat berada di rumah, Miong belajar untuk berdiri dan jalan, meskipun awalnya terjatuh-jatuh, akhirnya ia bisa berjalan, meski dengan kondisi tiga kakinya patah. Hari ke hari keadaannya semakin membaik, jalannya semakin cepat, makannya pun banyak. Cha senang sekali mengajaknya bermain cilukba, main bola, bahkan kandang Miong pernah dihias dedaunan oleh Cha. “Biar kandangnya cantik, Mi.”

IMG-20131119-01564

 

Miong selalu antusias ketika kami bangun tidur atau pulang ke rumah. Ia akan mengeong nyaring sekali. Miong juga senang mencari kaki, berharap kami akan mengelusnya dengan kaki. Hihi.. Namun, di hari ke delapan belas Miong berada di rumah, ia mulai menunjukkan gejala yang berbeda. Makan sedikit dan terlihat lemas. Kami membawanya ke dokter hewan untuk periksa sekaligus kontrol mingguan. Dokter mengatakan kaki depan Miong sudah kaku, kemungkinan infeksi sudah menyebar ke darah. Dokter sempat mengatakan, “Kalau Miong ada kejang atau badannya panas, kemungkinan tetanus, Pak, Bu. Kalau benar tetanus, Miong harus disuntik mati agar tidak membahayakan.”

Saya tidak membayangkan kalau itu terjadi dan berharap setelah diberi obat baru, keadaan Miong akan lebih baik. Keesokan harinya, pada Minggu subuh, saya keluar kamar dan menyalakan lampu, Miong tak mengeong, padahal biasanya ramai sekali. Ketika saya tengok, rupanya tubuhnya semakin tak berdaya. Ia sudah tak mampu berdiri. Sekitar pukul 8 pagi, Miong mati.

Bukan hanya Cha yang menangis, Ayah pun tertunduk dan diam, air mata saya mengalir. Kami menguburnya di halaman rumah, tempat Cha melihatnya pertama kali.

Seperti yang disampaikan Mas Alan, suami Mbak Shant, “Duka itu pendek. Yang panjang adalah rasa rindu.”

Ucapan itu betul sekali seperti yang kami rasakan. Meski hanya anak kucing, meski hanya sembilan belas hari, kami merasa sangat dekat dan menganggap Miong seperti anggota keluarga sendiri. Cha masih suka menangis tiba-tiba dan bilang, “Kangen Miong, kangen Miong.” Ayah masih menitikkan air mata jika kami bercerita tentang Miong, padahal cerita lucu tentang Miong, atau ketika Cha menirukan suara ngeong Miong.

Ketika hujan turun, Cha berteriak, “Ummi, ujaaan. Nanti Miong kebasahan nggak? Kalo Miong kena petir gimana?”

Ketika saya sampaikan bahwa Miong sudah sehat dan main-main sama Allah sekarang, Cha berkomentar, “Kalo Miong udah sehat, kita gali aja kuburnya.”

Ketika datang berita tentang meninggalnya seseorang, Cha bertanya, “Kenapa banyak yang meninggal ya, Mi?”

“Kenapa memangnya, Cha?”

“Iya, kemaren bapaknya Pak Satpam, dulu Miong. Kenapa banyak yang kembali ke Allah?”

Ketika Cha ingat kembali dengan Miong, ia bertanya, “Ummi, kalo aku meninggal kaya Miong, orang-orang bakal cari aku enggak, ya? Bakal kangen aku nggak, ya?”

Pertanyaan atau pernyataan seperti ini membuat hati menjadi gerimis. Sambil menahan air mata, saya berusaha menjawabnya. Menjelaskan sedikit mengenai roh, menjabarkan bahwa selain banyak yang meninggal, banyak juga bayi yang baru dilahirkan, sesederhana mungkin mengenalkan prinsip keseimbangan. Tanggapannya mengenai prinsip keseimbangan adalah dengan berdiri di pinggir sofa, merentangkan kedua tangan, dan berjalan pelan. “Aku seimbang,” sahutnya sambil tersenyum ceria.

Kemarin, saat kami sedang membaca surat Az-Zalzalah dan membaca arti ayat 6: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka.”

“Keluar dari kubur? Berarti Miong nanti juga keluar?” tanya Cha.

“Mungkin, Cha. Nanti Miong kalo keluar, insyaAllah dalam keadaan sehat, ya. Miong kan, baik ya. Ntar Miong keluar cari-cari Cha. ‘Mana ya, anak kecil yang baik hati, yang dulu tolong aku?'” Saya berkata seperti ini dengan maksud menyenangkan hati Cha dan menegaskan bahwa yang dilakukannya sungguh baik. Namun reaksi Cha di luar dugaan. Bibir Cha bergetar.

“Lho, kenapa Cha?”

Tangisnya pun pecah. “Kangen Miong, kangen Miong. Kalo Miong keluar dari kubur, ketemu Cha Cha, Miong harus ke sini lagi. Main lagi di rumah Cha Cha.”

Saya memeluknya. “InsyaAllah, Cha. InsyaAllah.”

Setahun yang lalu, Cha pertama kali belajar tentang kematian dari meninggalnya Abdullah [saya tulis kisahnya di Kembali ke Sang Pencipta]. Hari ini ia  bersama kami mengulangi kembali pelajaran itu.

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

***

Tulisan ini pernah dimuat di Leisure, Republika, di rubrik Buah Hati, 28 Januari 2014.

leisure

Kembali ke Sang Pencipta

Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Sewaktu duduk di kelas 5 SD, saya pernah menjadi takut tidur ketika mengetahui bahwa siapapun bisa meninggal. Tak peduli muda atau tua, sakit atau sehat. Sebelumnya, saya pikir hanya bayi yang baru dilahirkan dan orang lanjut usia yang sudah sakit-sakitan yang bisa meninggal. Pemahaman saya terkoreksi begitu melayat saudara sepupu yang meninggal pada usia 17 tahun. Di rumah duka, saya mendengar percakapan, “Memang ya, usia itu nggak bisa ditebak. Masih muda dan dalam keadaan sehat saja bisa meninggal.” Seketika saya diselimuti rasa takut dan pikiran bahwa ternyata saya juga bisa meninggal kapan saja.

Sejak saat itu, saya tak mau tidur. Saya ingin terus terjaga agar kemungkinan meninggal itu tidak akan datang. Ibu saya menjelaskan bahwa meninggal itu kejadian alami, tidak perlu ditakutkan, kita seperti pergi ke tempat lain dalam waktu lama. Perlahan, saya mulai kembali berani tidur.

Peristiwa itu merupakan salah satu kejadian masa kecil yang lekat di ingatan. Setelah menjadi ibu, saya memikirkan cara untuk menjelaskan pada anak kelak jika ia bertanya soal tutup usia. Saya tak ingin ananda merasakan ketakutan akan kematian, seperti yang pernah saya rasakan.

Allah SWT memang Mahabaik. Saya diberi kesempatan untuk mengenalkan makna meninggal dengan cara tersendiri. Beberapa bulan lalu, putri saya yang biasa dipanggil Cha Cha kenal seorang anak bernama Abdullah (6 tahun), putra teman baik saya. Saat itu Abdullah masuk rumah sakit dan ditempatkan di ICU anak-anak. Cha Cha mulai bertanya tentang Abdullah. “Abdullah kenapa? Sakit apa?” Meluncurlah cerita saya tentang yang dialami Abdullah. Saya pun mengajak Cha Cha berdoa untuk Abdullah.

Beberapa hari setelahnya, saya dapat kabar Abdullah berpulang. Dengan polosnya, Cha Cha bertanya, “Abdullah meninggal? Berarti Abdullah sudah disembuhin sama Allah?” Saya yang tadinya bercucuran air mata mendadak diam beberapa detik, berusaha mencerna pertanyaannya. Saya akhirnya bisa menjawab, “Benar, Cha. Benar. Abdullah sudahdisembuhin Allah.”

Ternyata kejadian itu membuat Cha Cha banyak bertanya. Akhirnya kami berdiskusi mengenai aneka tema, mulai dari sakitnya seseorang, doa, tentang kasih sayang dan kuasa Allah, soal perasaan, meninggal, alasan orang meninggal dimasukkan ke tanah, mengenai makhluk hidup, dan lainnya.

Beberapa hari setelah meninggalnya Abdullah, Cha Cha tiba-tiba bilang, “Ummi, aku mau ke langit dulu, ya.”

Saya yang lagi mencuci piring, terkejut mendengarnya, “Mau ngapain, Cha?”

“Aku mau ketemu Abdullah di langit. Abis Abdullah mainnya lama sama Allah.”

Beberapa detik kemudian. “Ummi, kayanya Allah suka deh, main sama Abdullah,” sahut Cha Cha sambil tersenyum.

Di lain waktu, Cha Cha menatap langit, lalu berteriak, “Abdullaaaaahh…”

“Cha, kenapa?” tanya saya.

“Aku ingin main sama Abdullah, Mi. Gimana caranya aku ketemu Abdullah? Aku naik ke langit? Naiknya gimana?”

Saat kami sedang di kendaraan, Cha Cha kembali bertanya. “Kenapa Abdullah meninggal ya, Mi? Padahal kan, ibunya sayang sekali sama Abdullah.”

Pertanyaannya tak terjawab spontan oleh saya. “Betul, Cha. Ibunya memang sayang sekali sama Abdullah, tapi Allah jauh lebih sayang.”

Cha Cha diam beberapa saat, lalu mengangguk. “Oh, Allah juga sayang sekali ya, sama Abdullah.” Saya mengiyakan pernyataannya.

Keinginan untuk bertemu Abdullah dan pertanyaan seputar meninggalnya Abdullah terus keluar dari mulut mungilnya. Meski Abdullah dan Cha Cha tidak pernah bertemu, Cha Cha pun hanya mengenal Abdullah melalui cerita saya, saya tak ragu untuk menyebut mereka sebagai sahabat hati. Dua sahabat yang dipertemukan Allah dalam rangka untuk semakin mengenal-Nya.[]

 

[Tulisan ini pernah dimuat di Leisure Republika Selasa 11 Desember 2012]

leisure

Menggambar Seru!

16 Sep 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Karya Tangan 2

Sejak kecil, Cha senang bereksplorasi dengan aneka macam peralatan menggambar. Pernah beberapa kali gambarnya terlihat ‘wow’ buat saya, terutama ketika usianya di bawah empat tahun. Seiring bertambahnya usia Cha, kadang harapan saya terhadap kemampuan menggambarnya meningkat. Saat usianya lima tahun dan masih menggambar orang dengan garis-garis [kepala bulat, badan garis satu ke bawah, tangan garis dua ke samping, dan kaki garis dua ke bawah], saya sempat khawatir. Teringat ucapan dosen saat kuliah, “Kalau anak lima tahun masih menggambar orang dengan garis, berarti ada yang salah dengan perkembangan psikologisnya.”

Hasyah, entah kenapa ucapan ini terekam banget. Ada kalanya saya juga terintimidasi dengan gambar anak lain yang lebih kecil daripada Cha, tapi sudah tidak garis-garis dan lebih bagus serta berbentuk.

Huuft, karena kekhawatiran-kekhawatiran itu, saya jadi berusaha mengajari Cha menggambar orang dengan menggunakan berbagai bentuk, misal kepala lingkaran, badan segitiga, kaki agak persegi panjang, dan seterusnya. Beberapa kali berhasil, tapi Cha nggak suka. Ia kembali ke kesukaannya dalam menggambar, yaitu garis-garis.

Untung angin ‘eling’ menghampiri. Ini karena suatu ketika saya melihat logo dengan garis-garis seperti yang Cha dan anak-anak pada umumnya suka buat. Logonya lucu dan saya tahu bahwa yang menggambar itu adalah orang dewasa.

“Apakah itu artinya orang tersebut terganggu perkembangan psikologisnya?”

Ah, saya nggak yakin iya.

“Nah, kalau begitu, kenapa anakmu yang lima tahun nggak boleh menggambar seperti itu?”

Sejak saat itu, saya singkirkan jauh-jauh ucapan dosen tersebut dan membiarkan Cha asyik menggambar serta coret-coret.

Saya kembali mengajaknya berkolaborasi dalam menggambar, lalu kami bercerita dan tertawa.

Saya kembali mengajaknya coret-coret di mana saja; di tembok rumah, di kertas besar, di kertas kecil, di kardus, dll.

Lalu Cha menjadikan sebuah agenda sebagai buku gambarnya. Ia menggambar yang diamati. Menggambar dino. Menggambar hal yang sudah dilakukannya hari itu. Menggambar imajinasinya juga.

Saya berikan spidol warna-warni satu per satu, tidak sekaligus banyak. Hal ini ternyata membuat semangat menggambarnya semakin tinggi.

Kadang saya suka menuliskan pesan di buku gambarnya itu, “Terus semangat menggambar ya, Cha. Love, Ummi.” atau “Ummi sukaaaa sekali gambar Cha. Bagus! Lucu!” Pesan-pesan ini berbalas pelukan erat dan gambar yang semakin banyak.

 

gambar

Gambar Cha ketika sedang mengamati tukang AC bersihin AC di rumah. Iya, ada dinonya juga. :D

 

gambar1

Gambar Cha sebagai salah satu bentuk narasi setelah berkeliling ke beberapa tempat di TMII; Taman Burung, Taman Reptil, Taman Kupu-kupu, Dunia Ikan Air Tawar, dan Keong Mas.

Saya berusaha kembali menyadari bahwa menggambar adalah salah satu sarana anak dalam menuangkan segala macam emosi, pikiran, dan imajinasinya. Bukan harus bagus, harus begini, dan harus begitu.

Bermain Kata dan Liukkan dengan Rima

11 Jun 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

caca2

Dua minggu lalu, di grup Komunitas Penulis-Bacaan-Anak saya mengikuti kuis yang diadakan oleh Mbak Agnes Bemoe. Kuisnya sederhana, tapi menarik. Para peserta diminta membuat ajakan atau larangan dengan menggunakan kalimat berima, seperti ini Nice to see nice to hold. Once it’s broken consider sold.” Mbak Agnes membaca kalimat tersebut di sebuah toko pernak-pernik di Singapura.

Sambil menemani Cha makan siang, saya bercerita mengenai kuis menarik ini. “Apa ya, Cha?” tanya saya sambil memikirkan membuat kalimat dengan rima. Lalu, muncullah kalimat ini, “Taruh rokok, ambil permen. Bikin badanmu berotot, tampilan makin keren!” Kalimat ini terinspirasi dari kesukaan Cha untuk mengampanyekan anti-rokok ke orang-orang yang ditemuinya dan artikel yang saya baca agar mengganti rokok dengan permen bagi orang-orang yang ingin berhenti merokok. Cha tertawa mendengar kalimat itu. “Bagus, Mi!”

Saya mencoba membuat kalimat lain lagi. “Masuk masjid kaki kanan, keluar kaki kiri. Berdoa yang tenang, jangan ribut sendiri.” Cha mengangguk-angguk sambil mengunyah makanan.

Ternyata Cha pun ingin ikut mencoba. “Dino lagi makan, terus teriak roooar!” Saya pun menyahut, “Caca ayo makan, habis itu kita ke mal!” Wahaha, kami tertawa bersamaan.

Sahut-sahutan kalimat berima di antara kami terus berlanjut. “Anak cantik nggak usah takut disuntik. Sakitnya.. cuma sedikit.” Hihihi, Cha melipir mendengar kalimat ini. “Tapi, aku masih takut disuntik,” sahutnya lucu.

“Tak perlu malu kalau kau pakai baju. Tapi kau perlu malu kalau tak punya ilmu,” sahut saya.

Cha pun masih semangat bermain kata. “Genteng bocor, ambil permen. Jadilah hujan permen.” Saya tertawa mendengarnya. Meski belum berima, kalimatnya tetap lucu.

“Naik mobil, bisa terbang. Jadilah mobil terbang.” Hihihihi, perut saya semakin sakit mendengar ocehan sekaligus khayalan Cha yang ingin punya mobil terbang. :D

Keesokan harinya saat sedang jalan-jalan ke sekitar rumah, Cha menemukan mainan baru, lalu berkata, “Besok mainan ini akan kubawa. Biar teman-temanku pada tertawa.” Spontan saya berteriak, “Waaah, itu rima, Cha.”

Kesukaan Cha membaca buku Dr. Seuss terutama yang Fox in Socks membawa kami pada kalimat-kalimat rima yang lain. Apalagi di buku ini, sampul depannya bertuliskan, “This book is DANGEROUS!” Rimanya ampun-ampun kreatifnya. Sepertinya semakin berbahaya, Cha semakin suka. Tinggal lidah saya yang rasanya sepertinya terlilit dan pipi pegal setelah membaca buku itu.

“Cha, kalau fox, socks, box, knox di buku Dr. Seuss itu berima. Apa kata yang serima sama kotak, ya?”

Cha menyebutkan kata-kata yang sebenarnya tidak berima dengan kotak. Saya memberi contoh. “Seperti ini, Cha. Kotak, pitak, botak.”

Hahaha, Cha tertawa dan mengulang-ulang kalimat tersebut. “Kotak, pitak, botak. Kotak, pitak, botak.”

Sesuatu di dalam otak masih bertanya-tanya, “Gimana cara Dr. Seuss bisa menulis cerita berima dengan rima yang sedemikian kreatifnya, ya?” Dulu saya pernah baca kalau Dr. Seuss mencari ratusan bahkan ribuan kata berima, baru menuliskannya. Hmm, kalau saya membuat cerita berima, paling hanya mengumpulkan belasan kata berima. >.<

Kemarin sore, sehabis main hujan-hujanan, Cha mandi dengan air hangat. “Ayo, mandi dengan air hangat. Kakak pintar tetap semangat.” Kalimat ini spontan saja keluar dari mulut saya. “Wah, rima lagi,” sahut saya sambil tersenyum.

Semoga besok, besoknya lagi, dan besok besoknya lagi, kami akan terus menikmati permainan ini: bermain kata dan liukkan dengan rima. Yuk, main bersama!

 

 

 

Konflik Bocah dan Penyelesaiannya

10 Jun 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari 0

caca1

Sudah beberapa lama Cha dan saya heran dengan tingkah laku tetangga kecil yang berinisial N, 5 tahun. Ketika kami sedang jalan, dia sering melotot ke arah Cha, bahkan kadang membentak Cha dengan tiba-tiba. Kejadian seperti ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Cha menjadi ketakutan dan setiap kami berpapasan lagi dengan N, saya meminta Cha untuk tidak melihat ke arah N.

Suatu siang, kami lagi berada di kamar depan karena mau tidur. Tiba-tiba terdengar suara N bersama temannya. Dia memanggil-manggil tetangga depan rumah. Tapi ternyata tetangga itu tidak sedang di rumah. Lalu terdengar N berkata ke temannya, “Ini rumahnya Cha Cha. Tapi, aku nggak suka sama dia.”

Deg! Buat saya, perkataan itu cukup menyakitkan, tapi namanya anak-anak, ya. Saya pun berusaha eling alias diam saja menunggu reaksi Cha. Apakah dia sedih, marah, atau …? Ternyata respon Cha agak di luar dugaan. Sambil santai berbaring, Cha bilang, “N kenapa ya, sekarang nggak suka sama Cha Cha? Padahal dulu kan, N baik.”

Saya ikut bertanya. “Iya ya, kenapa ya? Apa Cha pernah berbuat nggak baik ke N, jadi N marah?”

“Nggak,” katanya pasti.

“Oke, kalau N nggak suka nggak apa-apa, yang penting kita tetap baik. Sip?” Dalam hati saya bersyukur bisa berkata seperti ini, meski dalam hati ada saja gangguan untuk bilang, ‘Udah, Cha, ngapain main sama N? Suka ngebentak, teriak-teriak, melotot, kadang gedor-gedor pagar lagi. Udaaah, cari temen lain aja.

“Sip!” sahut Cha sambil mengerlingkan mata.

Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, Cha masih takut kalau ketemu N. Dia memilih lari masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di kamar, lalu bilang, “Ummi, ada N. Tutup pintunya, Mi.”

Kemarin sore, di rumah kami lagi ada beberapa tukang. Tiba-tiba N berteriak memanggil Cha, tapi Cha sedang di kamar mandi. Saat Cha selesai mandi dan mengintip ke luar, N sudah nggak ada. Cha melihat beberapa temannya sedang asyik main bola. Cha pun izin ingin ikut main.

Ketika hampir maghrib, Cha pamit ke temannya mau pulang. Lalu temannya itu menawarkan agar Cha main ke rumahnya. Cha jawab, “Besok lagi aja, ya. Udah mau maghrib. Aku mau salat.” Ahiiiiy, alhamdulillah, dari dalam rumah, saya senyum lebar mendengarnya. Soalnya dulu-dulu Cha kalau main ke rumah kawan, meski sudah maghrib, ogah diajak pulang.

Sesampainya di rumah, Cha cerita. “Mi, tadi ada N, tapi kayanya wajahnya sedih. Dia nggak ada temen main.”

“Oh iya? Terus gimana dong, Cha?”

Cha diam sebentar, lalu bilang, “Ah, aku tau!” Belum sempat Cha melanjutkan ucapannya, N memanggil dari depan rumah. Entah kenapa, kali ini Cha berani keluar.

“Cha, aku mau main boleh nggak?” tanya N. Tuh kan, bocah ya. Kemarin membentak dan bilang nggak suka, tapi tahu-tahu ngajak main.

“Tapi ini udah mau maghrib.”

“Oh, kalo gitu, besok ya.”

“Oke, besok ya.” Cha sudah mau masuk rumah, tapi terus berbalik. “O iya, N. Kalo main sama temen, yang baik, ya. Jangan suka marah-marah, teriak-teriak.”

Glek! Saya kaget campur senang mendengar Cha bicara seperti itu.

“Hmmm… Oke,” jawab N sambil lari ke rumahnya.

Masuk ke rumah, Cha senyum ceria sekali. “Nah gitu, Mi, caranya. Aku tau sekarang. Kalo N marah-marah lagi, aku bilang aja, “N, kalo sama temen yang baik.””

Cha pun mengajak saya tos.

Aaaah, senangnya. Saya bersyukur sekali bisa nggak terlalu banyak bicara dan mengatur, meski godaan itu terus hadir. Membiarkan Cha menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya.

Jika biasanya Cha suka bertanya, “Jadi, gimana masalahnya?” mungkin nanti pertanyaannya akan diubah menjadi, “Jadi, gimana penyelesaiannya?”

 

 

Kunjungan Teman-teman HS

03 Mar 2013 Gita Lovusa Bermain, Cerita Hari-hari, Dinosaurus 0

Jumat kemarin rumah kami ramai, kedatangan teman-teman sesama homeschoolers. Ada Mbak Vera yang tinggal dekat rumah saya, ada Irma dan Dinar yang datang dari Ciledug. Apa yang kami lakukan?

Dinar dan Mbak Vera masak jamur goreng tepung. Makasih ya, Dinar, yang sudah bawa jamur putih. Irma mengantar anak-anaknya salat Jumat di Masjid, sedangkan saya menemani Adriana, Cha, serta Alma main. Faiz, putra Mbak Vera, pun ikut bermain bersama Alma dan Cha.

Setelah Irma dan krucilnya kembali dari masjid, anak-anak bermain panahan di halaman belakang. Difi, sebagai anak paling besar, mengatur Dilan, Alma, dan Cha untuk bergantian memanah. Setiap anak memegang anak panah masing-masing. Pas sekali anak panah yang kami miliki hanya empat. Mereka bersorak ketika anak panah mendarat di sasaran.

Selain bermain, para ibu-ibu juga merencanakan kegiatan rutin untuk anak-anak. Semoga bisa berjalan dengan baik.

Saat Dinar dan Mbak Vera selesai masak, dapur kami berceceran oatmeal. Tanpa diminta, Cha mengambil sapu dan menyapu remahan itu. Aaaaah, makasih ya, Nak! Lalu, ketika teman-teman pulang, kami membagi tugas membereskan rumah. Saya mengurus makanan dan piring, Cha merapikan mainan yang berserakan. Makasih tuk kerja samanya, Cha.

Kunjungan teman-teman kali ini menyisakan kenangan manis buat Cha, salah satunya adalah gambar dino bikinan Alma yang langsung dipajang di ruang tengah. Makasih ya, Alma.. Kata Cha, “Alma pinter gambar ya, Mi. Gambarnya Alma bagus banget.”

 

DSC03049

 

Ember Berputar

14 Dec 2012 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Percobaan 0

Minggu dan Senin kemarin, teman-teman praktisi HS berbicara mengenai gaya belajar anak HS di sosmed twitter.  Saya nggak ikutan karena sedang riweuh beberapa urusan, antara lain Cha yang sedang sakit.

 

Kalau saya perhatikan, Cha akan lebih berinisiatif dan imajinatif kalau saya biarkan. Kalau saya banyak ajak ini-itu atau koreksi ini-itu, biasanya dia langsung jadi nggak berminat.

 

Seperti kemarin, ketika badannya masih panas, Cha main dengan mainan dinonya. Tiba-tiba.. “Ummi, lihat!” teriaknya.

Cha memegang ember plastik berukuran kecil dan memutarkannya kencang-kencang. “Dinonya nggak jatuh, lho!”

Saya bingung maksudnya. “Ini. Dinonya ada di dalam ember..” Ada beberapa mainan dino di sana.

Cha memutar ember berisi mainan dino kecil sekali lagi. Mainan dino kecil tetap nggak jatuh.

 

“Kok bisa nggak jatuh, ya?” tanya saya.

“Iya, kok bisa, ya?” Cha balik nanya.

 

Keesokan harinya, Cha seperti teringat sesuatu. “Kayanya ada di buku Tante Lessy, deh.”

“Hah? Buku yang mana?” Yang saya ingat saat itu adalah buku xenophobia atau novel berbahasa Inggris. Masa itu, sih? Nggak mungkin banget! :D

Cha manjat sofa dan ambil buku Crayon Shinchan: Keajaiban Ilmu Pengetahuan di rak buku. “Ini lho, Mi!”

“Oalaaah, itu tho! Emang di situ ada?”

Cha asyik menekuri halaman demi halaman buku itu sampai.. “Ini, Mi!’

 

Iyes, ternyata beneran ada penjelasan penyebab mainan-mainan dino di dalam ember nggak jatuh kala diputar dan si ember menghadap ke bawah. Ternyata penyebabnya adalah gaya sentrifugal. “Sentrifugal? Apaan tuh?” tanya Cha dengan mimik lucu.

Mari, Cha, kita undang Oom Prof NUS ke rumah. Minta penjelasan. :D

 

Makasih ya, Oom dan Tante, tuk bukunya. Cha suka! ^^