Kategori: Happy Ramadhan with Kids

Refleksi Ramadhan 1434 H

06 Sep 2013 Gita Lovusa Happy Ramadhan with Kids 0

Saya tahu bahwa saya tidak bisa dan tidak boleh membiarkan blog ini sepi, tanpa kabar terbaru apa-apa. Banyak cerita yang ingin disampaikan, ada perenungan yang ingin ┬ádituliskan, jadi saya akan memulainya berdasarkan dua tulisan terakhir di sini, yaitu mengenai mengenai rencana di bulan Ramadhan 1434 H –Bersahabat dengan Al-Quran

Rencana kami tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di tiga hari pertama Ramadhan, Cha berhasil sahur pukul enam sampai pukul tujuh pagi. Selanjutnya puasa selama empat jam, ini atas dasar kesepakatan dan diskusi kami. Lalu Cha berbuka dan mulai puasa lagi pukul dua siang agar bisa ikut berbuka di waktu maghrib. Konon, ikut berbuka di waktu maghrib memberikan rasa syukur dan bahagia yang berbeda. Di tiga hari ini, kami berbicara mengenai arti puasa, tata cara puasa, dan lain sebagainya. Saya menggunakan buku 101 Info Tentang Shaum dari DAR! Mizan sebagai panduan. Buku ini ditulis oleh Ayuk (panggilan untuk kakak dalam bahasa Palembang) saya yang bernama Dewi Cendika atau yang biasa dipanggil Ichen.

Di tiga hari ini juga Cha memulai kembali latihan wushu setelah dua sampai tiga bulan vakum. Latihan wushu dimulai sore hari. Ia bilang kuat latihan, meski puasa. Selesai latihan sekitar pukul lima sore, Cha mulai bilang haus dan sedikit merengek ingin minum. Alhamdulillah, tak lama Pak Kurir datang membawa pesanan buku dari tobuk online langganan kami; Halaman Moeka. Tanpa diminta, Cha langsung asyik dengan buku-buku anak yang saya pesan dan melupakan rasa hausnya.

Hari keempat Ramadhan, Cha demam. Saya memintanya untuk tidak puasa, Cha sempat menolak karena ingin sekali puasa. Saya sampaikan kalau Allah memberi keringanan bagi orang yang sakit. Jika sudah sembuh, boleh puasa lagi. Sudah tiga hari, demam Cha masih tinggi dan mulai ada ruam-ruam merah di badan, lantas kami membawanya ke dokter. Ternyata Cha terkena sakit tampek. Ia diminta untuk di rumah selama kurang lebih dua pekan. Ketika ruam sudah hilang dan demam mereda selama sehari, saya yang terkena serangan batuk pilek serta demam. Jadilah rencana kami di awal Ramadhan semakin berantakan. Saya yakinkan diri bahwa ini bagian dari pelajaran, bagian dari kenikmatan Ramadhan.

Ketika saya mulai reda demam serta batuk pileknya, Cha kembali demam dan bibirnya yang kering semakin parah, lidahnya pun berbintil-bintil merah. Kami kembali membawanya ke dokter. Alhamdulillah, beberapa hari setelah itu Cha pulih. Kami tetap beristirahat di rumah, tak main ke mana-mana selama beberapa hari ke depan.

Hampir dua minggu sisa Ramadhan kami. Yang terpikir oleh saya adalah pembaharuan semangat dan perubahan jadwal agar kami tetap antusias. Hadiah Ramadhan tetap saya berikan, tapi Pesan Ramadhan saya putuskan tidak lagi. Karena Cha belum lancar membaca sehingga rasanya kurang asyik kalau pesan itu tetap saya bacakan.

 

Keliling Masjid di Sore Hari

Saya tercetus ide untuk mengajaknya keliling masjid di sore hari untuk mengaji dan mengulang serta menambah hafalan surat di sana. Cha pun setuju. Masjid yang pertama didatangi tentu saja Masjid Quba di belakang rumah. Kami jalan sekitar sepuluh menit, lalu sampai, deh. Di sana Cha tidak hanya mengaji dan menambah/mengulang hafalan, juga bermain dengan burung dan kucing karena halaman masjid cukup luas. Rencananya sebelum maghrib kami sudah pulang ke rumah, tapi ternyata beberapa kotak nasi dan makanan berbuka yang diantarkan warga ke masjid, cukup menggoda Cha. “Kita buka di sini aja ya, Miii. Makanannya sepertinya lezat.” Hihihi, tumben Cha tertarik dengan makanan. Akhirnya saya pun meluluskan keinginannya untuk lanjut berada di masjid.

Ta’jil di Masjid Quba membuat Cha tak mau pindah ke lain masjid. Akhirnya kami tidak jadi keliling masjid, melainkan tetap di Masjid Quba setiap sore. Hanya ada satu kali kami ke Masjid At-Taqwa, itu pun karena saya ada janji dengan seorang guru. Ketika saya selesai dengan guru dan hari hampir maghrib, Cha pun celingukan mencari. “Mana makanan bukanya?” tanyanya polos dan berhasil bikin saya nyengir.

Hari-hari seterusnya agenda ini terus berjalan sampai kedatangan para sepupu Cha dari Malaysia. Cha lebih memilih main bersama sepupunya. :D

Sore hari sampai sebelum Isya di masjid memang terasa menyenangkan. Kenapa tidak lanjut sampai tarawih? Karena sebenarnya saya pun sedang halangan saat itu, jadi kami memutuskan sebelum Isya sudah jalan pulang ke rumah. Cha bertemu beberapa teman baru dan juga memberi roti buat burung serta kucing di sana. Saya pun sempat berbincang dengan pengurus masjid atau warga yang datang ke masjid. Melihat lalu-lalang orang yang keluar masuk masjid, kami pun berdoa agar hati kami selalu didekatkan pada masjid.

Banyak hal yang harus kami perbaiki di Ramadhan ini, semoga Ramadhan berikutnya menjadi Ramadhan yang lebih baik.

 

Bersahabat dengan Al-Quran

10 Jul 2013 Gita Lovusa Happy Ramadhan with Kids 5

Itulah tema yang kami pilih untuk Ramadhan kali ini. Tema ini saya ambil karena terinspirasi tulisan Mbak Vienna Alifa yang berjudul Bersabar Bersama Al-Quran.

Mengapa harus bersabar bersama Al-Quran?

Mengapa harus bersahabat dengan Al-Quran?

Karena Allah menjadikan manusia yang gemar belajar dan mengajarkan Al-Quran menjadi sebaik-baik manusia. Amat sangat nyaman sepertinya jika bisa bersahabat dengan Al-Quran. Lagi senang, lari ke Al-Quran. Lagi sedih, segera baca Al-Quran. Setiap waktu diisi dengan kemesraan bersama Al-Quran.

Sejak mengikuti kelas tahsin dan tahfiz saat kuliah hingga saat ini, pertanyaan mengenai, “Bagaimana cara mudah membaca Al-Quran? Bagaimana cara cepat menghafal Al-Qur’an?” selalu terdengar. Dan jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah harus rajin belajar ilmu membaca Al-Quran dan membaca ayat Al-Quran. Jika ingin menghafal harus rajin mengulang hafalan Al-Quran. Sependek pengalaman saya, guru atau pembimbing berperan penting dalam memperbaiki bacaan atau mendengarkan hafalan surat kita.

Bukan hanya cepat dan mudahnya yang ingin diraih, tapi juga kebersamaan terus menerus bersama Al-Quran yang mesti dijaga.

Saat saya mengusulkan tema Bersahabat dengan Al-Quran, Cha setuju dan kami pun menyusun agenda kegiatan yang berkaitan dengan Al-Quran.

Cha

1. Saya bertugas untuk mengenalkan makhraj dan sifat huruf hijaiyah melalui salah satu ‘lagu’ yang saya suka. ‘Lagu’nya seperti ini: a i u ba’, u an ani a’na minal mu’ni maian a ni a. Sehabis me’lagu’, kami belajar menuliskan huruf a, i, dan u. Rencana kami sehari satu huruf hijaiyah. Misal hari ini a i u, keesokan harinya ba bi bu, keesokan harinya lagi ta ti tu, dan seterusnya.

2. Dalam menghafal ayat Al-Quran, kami menggunakan metode one day one ayat [metode Ust. Yusuf Mansyur] atau yang biasa kami sebut ODOA. Jadi kalau tiba saat menghafal, saya akan berujar, “Cha, yuk, kita ODOA.” Sambil mengulang hafalan surat yang sudah-sudah agar tidak lupa [intinya menghafal Al-Quran adalah pengulangan].

 

Begitu untuk Cha, bagaimana dengan saya?

1. Saya harus memperdalam makhraj dan sifat huruf agar pelafalan pun semakin baik.

2. Jika Cha ODOA, maka saya ODFA [One Day Five Ayat]. Lima ayat ini minimal, mohon doa agar bisa lebih. Juga harus mengulang hafalan di pagi dan sore hari.

3. Di Ramadhan kali ini saya ingin sekali selain memberikan 30 hadiah Ramadhan juga memberi 30 Pesan Cinta Ramadhan. Pesan ini saya tulis dan berikan ke Cha di waktu Zuhur. Karena temanya Bersahabat dengan Al-Quran, saya ingin pesannya juga berkaitan dengan Al-Quran, puasa, dan atau nilai-nilai kebaikan lainnya.

4. Mengaji lebih banyak dari hari-hari sebelum Ramadhan. Semoga bisa konsisten dan terus meningkat jumlah halaman per harinya.

Di hari pertama ini, alhamdulillah berjalan lancar. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan memberi keberkahan di hari-hari selanjutnya.