Kategori: Ibu Profesional

Seminar The A Home Team

29 Mar 2013 Gita Lovusa Ibu Profesional 1

Seminar yang diisi oleh keluarga Mbak Septi Peni Wulandani dan diadakan oleh Sekolah Alam Tangerang ini sebenarnya berlangsung pada 17 Maret lalu, tapi saya belum menyempatkan diri untuk menulis hasilnya. Pagi ini saya mencoba merangkumnya agar ilmu yang didapat semakin melekat, bisa diaplikasikan, dan bermanfaat untuk yang membaca.

Di awal acara Mbak Septi (penemu Jarimatika, pendiri Institut Ibu Profesional, direktur School of Universe Lebah Putih) menceritakan pengalamannya sewaktu awal menikah. Sejak memutuskan menjadi ibu rumah tangga profesional, Mbak Septi menanggalkan baju kebesarannya di rumah alias daster. Ia mengingatkan para ibu dengan kalimat, “Yang paling berhak melihat cantik terbaik kita, mendapatkan sabar terbaik kita, kebagian harum kita adalah suami dan anak-anak.” 

Mbak Septi juga menyadari bahwa belajar adalah kewajiban, bukan sekolah yang jadi kewajiban. Meski sudah lulus dari bangku kuliah, Mbak Septi melanjutkan proses belajarnya dengan membaca buku dan mengunjungi orang-orang yang dianggap mumpuni.

Keluarga Mbak Septi memiliki empat tujuan mendidik anak yang juga dijadikan sebagai indikator, apakah proses pendidikan berjalan baik dan benar atau tidak.

1. Intellectual curiousity

2. Creative imagination

3. Art of discovery

4. Noble attitude

 

Untuk lebih memantapkan langkahnya, mereka membuat quote of the year. Misal di tahun 2012 mereka memiliki motto: Good is not enough anymore, we must be different. Di tahun 2013, More Significant!

Salah satu tips mendidik anak dari Mbak Septi, yaitu didiklah anak pertama dengan ‘keras’, artinya penuh konsistensi dan komitmen, jelas hitam-putih, benar-salah, boleh-tidaknya, berikan keteladanan [jika ibu bilang A, bapak juga bilang A, dan sebaliknya], serta latih kemandirian dengan SOP yang jelas. Orang tua jangan marah untuk hal yang belum diajarkan pada anak. Orang tua juga jangan cepat-cepat memberikan bantuan jika anak sedang dilatih kemandiriannya.

Untuk melatih pola pikir, Mbak Septi dan Mas Dodik membiasakan memberi tiga alternatif pilihan pada anak dan biarkan anak yang memilih. Ketiga alternatif pilihan itu tentu sudah disaring terlebih dahulu oleh orang tua, sehingga apapun pilihan anak, orang tua sudah pasti akan membolehkan.

Untuk menyiapkan anak akil baligh, Mbak Septi juga membiasakan menghadirkan kisah-kisah anak yang sukses ke rumah. Misal anak usia 10 tahun sudah hapal Quran atau anak usia 15 tahun sudah memiliki perusahaan. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi anak. Target apa yang akan ia capai pada usia sekian? Apa yang harus ia lakukan untuk mencapainya? Hal ini bisa disampaikan dalam sebuah Vision Board yang bisa berbentuk kata-kata atau gambar. Lalu dikuatkan dengan kartu nama. Anak-anak memiliki kartu namanya masing-masing sesuai cita-citanya.

Keluarga Mbak Septi juga membiasakan membuat proyek untuk masing-masing anggota keluarga. Menurutnya proyek keluarga ini adalah sarana belajar keluarga. Proyek ini pun mengutamakan pada proses, bukan hasil. Seperti apa proyek yang harus dijalani? Proyek yang sifatnya sederhana, menyenangkan, mudah dan menantang, serta memiliki jangka waktu yang pendek.

Ketika seorang anggota keluarga mengajukan sebuah proyek, maka ia harus memberi nama pada proyek itu. Lalu, menentukan sasaran, sarana [alat, bahan, dana], SDM [menunjuk penanggung jawab dan pelaksana yang juga anggota keluarga –> boleh mengajak orang lain jika dibutuhkan], dan menentukan waktu pelaksanaan [jadwal pelaksanaan, durasi].

Ide proyek ini bisa diambil dari:

– hobi

– keprihatinan terhadap sesuatu

– tantangan dalam keseharian

– cita-cita masa depan

 

Keluarga Mbak Septi juga menerapkan manajemen donat, yaitu siapa pun yang menjadi pimpinan proyek, anggota keluarga lain akan ikut mendukung.

Setelah proyek terlaksana, apresiasi anggota keluarga yang menjadi pimpinan proyek. Evaluasi tidak dilakukan. Hal ini bertujuan agar pimpinan proyek senang dengan ide serta kerja kerasnya dan tidak cepat merasa down.

Lalu setiap minggu, saat sedang santai minum teh atau makan kue, mereka kumpul untuk melakukan master mind dengan mengajukan pertanyaan: Sudah sukses apa kalian minggu kemarin? Apresiasi sukses dilakukan dan evaluasi dilakukan dengan cara: anggota keluarga lain menuliskan evaluasi di kertas dan kertas tersebut dibuka di minggu berikutnya. Kemudian mereka membahas juga: Apa yang mau dilakukan minggu depan?

Banyak hal yang saya pelajari dari semua yang disampaikan Mbak Septi, Mas Dodik, serta Mbak Ara. Seperti yang disampaikan Mas Dodik di tengah acara, “It’s ok to make mistakes, as long as we learn from it.

Yuk, sama-sama belajar, benahi, dan lakukan!

new

 Bersama Mbak Septi, Mas Dodik, Bu Tik, Dinar, dan teman-teman lain

Mengenal Budaya Jepang di IIP Tng

12 Mar 2013 Gita Lovusa Ibu Profesional, Jalan-jalan 2

Hari Minggu kemarin saya mengajak Cha ke Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Tangerang di Ciledug. Bersama Irma dan Dinar, kami bertiga mengadakan kelas Mengenal Budaya Jepang yang dipandu oleh Irma. Sehari-hari Irma berprofesi sebagai guru Bahasa Jepang dan kegiatan di kelasnya selalu menarik.

Agenda hari itu ada beberapa, yaitu mengenal hiragana dan katakana di sekitar kita, menyanyikan lagu Jepang, membuat origami stroberi, membuat bento, dan sesi foto dengan memakai baju yukata. Kuliah umum hari itu agak berbeda dari kulum lainnya karena melibatkan anak-anak juga. Iya, ibu dan anak berkegiatan bersama!

Seluruh peserta diberikan kertas yang berisi bagan hiragana dan katakana. Irma menjelaskan perbedaan keduanya dan menunjukkan bahwa di sekitar kita banyak sekali hiragana dan katakana. Irma memberi contoh dengan menayangkan foto-foto produk atau rumah makan yang ada katakananya. Kami berusaha membacanya. Lalu, kami diajak untuk menyanyi lagu Twinkle Twinkle Little Star, tapi dalam Bahasa Jepang. Judulnya jadi Kira Kira Boshi. Anak-anak suka dan ingin lagi, ingin lagi.

Irma pun mengadakan kuis membaca katakana. Masing-masing ibu dan anak berusaha membacanya dan yang bisa, boleh menuliskan jawabannya ke depan. Peserta yang jawabannya betul diberi hadiah oleh Irma.

Membuat origami sepertinya sudah umum, tapi jika dilakukan bersama-sama ternyata tetap menyenangkan. Dengan dibimbing Dinar, kami membuat origami stroberi tiup. Saya terpukau dengan cerita Niken, peserta Kulum IIP Tng, yang mengatakan bahwa anaknya, Mahija, jadi keranjingan origami. Malam harinya mereka membuat empat origami sampai pukul setengah sebelas malam. Whoaaa, keren, Niken dan Mahija!

origami stroberi

tahapan membuat origami stroberi tiup

Sesi selanjutnya adalah membuat bento. Bento adalah kotak bekal khas Jepang. Setelah semua peserta memperhatikan slide mengenai bento yang diberikan Irma dan menerima bahan bento, mereka diminta untuk membuat bento sesuka hati. Saya tidak ikut membuat karena ternyata Cha lebih ingin berkreasi sendiri. Hasil bento teman-teman bagus-bagus.

bento

 

Ada beberapa anak yang sudah mencomot nori, keju, atau sosis saat membuat bento. Hihihi, nggak sabar untuk makan. Setelah bento selesai dibuat, waktu makan pun tiba. Lalu, Irma mengeluarkan baju yukata dan beberapa ibu memakainya, termasuk saya. :D

Beberapa anak-anak yang tadinya makan di luar ruangan, ketika masuk  melihat para dewasa memakai yukata, jadi ingin ikut pakai yukata. Meski kebesaran, anak-anak tetap dipakaikan yukata. Melihat dan menggunakan sesuatu yang baru diketahui memang menyenangkan. Beberapa anak bahkan nggak mau melepas yukatanya.

yukata

 

Pukul satu siang, acara usai. Beberapa teman sudah pulang terlebih dahulu, beberapa teman lagi masih ada di ruangan. Kami pulang bersama Najmi dan bundanya. Cha mengajak Najmi main ke rumah. Mereka main face painting dan main yang lainnya. Sekitar setengah empat sore Najmi pulang.

Terima kasih, IIP. Terima kasih, teman-teman.

Sampai bertemu di acara selanjutnya.