Kategori: Jalan-jalan

Menyelami Sejarah Tionghoa Tangerang di Museum Benteng Heritage

25 Oct 2013 Gita Lovusa Jalan-jalan, Tangerang 4

Ada museum di Tangerang? Yang bener!

Lokasinya di Pasar Lama? Tempat aku beli kue ape, rujak buah, es cincau hijau, dan aneka makanan lain kesukaanku? Masa iya?!

Jl. Cilame? Di mana itu?

*tanya ke teman yang rumahnya di Pasar Lama.

Katanya museumnya deket Vihara Boen Tek Bio?

Oh, ya ampun, berarti di dalam pasar? Apa ada?

 

Yah, kira-kira demikianlah perbincangan batin saya ketika tahu bahwa di Tangerang ada museum. Tepatnya di Pasar Lama, tempat jajahan sejak masa kecil. Tempat beli komik Topeng Kaca pertama kali waktu SD. Harga komik waktu itu masih 2000-3000. Tempat beli makanan-makanan enak. Tempat nyuci foto, hihihi. Kalau sekarang ke sana sama Cha, main ke Tiang Art Gallery; galeri lukis milik Om Melukis (ini nama pemberian Cha) aka Om Yayat Lesmana, tempat beli aneka macam bahan prakarya, tempat beli opak manis, dll, dsb.

Karena penasaran banget, keesokan harinya Cha dan saya langsung menuju museum ini. Kami sampai di Pasar Lama sekitar pukul 10 pagi. Masuk ke dalam pasar dan ketemu dengan museum yang dimaksud. Sampai sana, ternyata museum belum dibuka. “Buka jam 11!” kata seorang ibu yang berjualan di depan museum.

Akhirnya kami keliling cari makan. Sebelum pukul 11 balik lagi ke museum dan tetap belum buka. “Bentar lagi kayanya,” ujar ibu yang sama.

mbh3

Dalam kebingungan mau ke mana, Cha mengajak saya ke tempat seorang anak yang berjualan ikan. “Mau liat ikan, Mi. Ada kura-kura juga,” sahut Cha yang bersemangat. Kami pun berkenalan dengan anak tersebut. Dika namanya. Kak Dika sangat ramah dan asyik diajak ngobrol. Selain sekolah setiap hari, Kak Dika juga mengurus lima puluh ekor kura-kura, sekian ular, ikan, kelinci, dan musang untuk dijual kembali. Kalau pagi sekolah, siang sampai sore ia berjualan di pasar. Kalau Sabtu dan Minggu, ia berangkat pukul 4 pagi dari rumah agar pukul 5 subuh sudah bisa buka lapak di pasar. Mendengar cerita sang kakak, Cha terkagum-kagum. Berkali-kali bilang, “Keren, keren. Kakaknya pinter banget ya, Mi!”

Ah, makasih ya, Kak Dika. Waktu menunggu jadi terasa bermakna sekali.

 

Masuk ke Museum

Pukul 12 siang, museum dibuka. Horeeee! Kami segera menuju ke sana dan membeli tiket. Sapaan Ibu penjaga loket membuat mata saya mengerjap-ngerjap kebingungan. Antara senang dapat diskon 50 %, pengen ketawa karena geli, sama mikir: berarti antara gue SMP sama sekarang udah jadi emak-emak nggak ada bedanya ,ya?

“Adeknya sepuluh ribu. Kakaknya masih SMP atau SMA? SMP kayanya ya? Sepuluh ribu juga. Jadi berdua, dua puluh ribu,” sahut si ibu dengan senyum yang paling cemerlang. Sepertinya ia bahagia melihat seorang kakak mengajak adik kecilnya ke museum di hari Sabtu. Kakak langka, mungkin pikirnya begitu.

Nggak lama berselang, seorang pemandu museum datang dan menerangkan bahwa sistem di Museum Benteng Heritage (MBH) adalah guided tour. Jadi jika kita datang, akan selalu didampingi oleh seorang pemandu. Saya girang karena jika ada pemandu, keliling museum jadi lebih menarik. Tahu cerita lebih banyak mengenai isi museum.

Pertama kami diajak menonton video mengenai sejarah Tangerang. Sesi ini dibawakan oleh Pak Udaya, pemilik museum. Sejak kecil, saya sering mendengar istilah Cina Benteng. Istilah ini ditujukan untuk warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Tangerang. Tapi orang sekitar saya nggak ada yang mengerti kenapa sampai ada istilah seperti itu. Dari sesi ini diketahui bahwa asal-usul penamaan tersebut sederhana saja, yakni karena dulu di Tangerang, di sekitar Pasar Lama, ada sebuah benteng.

mbh1

Pak Udaya juga menampilkan video dan menjelaskan kisah sebelum museum ini dibangun, selama proses pembangunan, sampai selesai. Sesi ini menarik, tapi sayang perhatian saya harus terbagi karena Cha terus memainkan gelas-gelas kecil yang ada di meja (sempet kena tegur Pak Udaya :D) dan menanyakan, “Kapan selesai? Aku mau ke atas.” Untung saja saya bawa buku dan pulpen, jadi Cha asyik menggambar burung dan naga yang menjadi ornamen di ruang tengah museum. Ketika Cha khusyuk menggambar, saya bisa menyimak paparan Pak Udaya. Dari sesi ini juga saya ketahui bahwa ternyata Tangerang mempunyai topi anyaman khas Tangerang. O ow, selama 23 tahun tinggal di Tangerang, saya nggak pernah tahu tentang keberadaan topi itu. -.-

mbh2ini adik kecil saya ^_^

Setelah sesi menonton video selesai, kami diajak ke atas dan dipandu oleh seorang pemandu muda. Sang pemandu menceritakan berbagai macam koleksi museum dan cerita yang tersimpan di baliknya. Cha senang ketika melihat golok, pedang, toya seperti yang dilihatnya ketika latihan wushu. Sang pemandu sempat bingung, “Kok adeknya tau benda-benda ini?”

Ketika di lantai atas, Cha sempat memanjat sebuah kotak agar bisa melihat ke luar melalui jendela. Lalu, kakak pemandu bertanya, “Ada yang bisa nebak itu apa?” Pas dibuka, ternyata isinya mirip dengan toilet. Yak, kotak itu ternyata WC yang bisa dibawa-bawa. Hihi..

Dari yang disampaikan pemandu, banyak info yang baru saya ketahui. Tapi di sisi lain, saya merasa, yang disampaikan pemandu seperti terlalu berdasarkan teks dan terburu-buru. Kesannya formal sekali. Tidak santai. Entah ini karena dibatasi waktu atau karena pemandu tersebut adalah pemandu baru.

Jika dari segi bangunan dan penataan koleksi museum, saya suka sekali. Tampilannya rapi dan cantik. Jika ingin tahu ciamiknya kaya apa, boleh lho, mampir ke situs Museum Benteng Heritage. Ketika acara keliling museum selesai, kami masuk ke dalam toko souvenir. Di sini dijual berbagai buku dalam bahasa Mandarin dan benda-benda lain bernuansa Tionghoa. Juga dijual Kecap Benteng. Kecap paling terkenal di Tangerang. Pabriknya di dekat museum.

Kalau ada yang mau ke sini, bisa ajak-ajak saya. Dengan senang hati kami ingin kembali ke museum ini.

 

Menikmati Little Africa di Taman Nasional Baluran

17 Oct 2013 Gita Lovusa Jalan-jalan 2

Bulan November 2012, aku pertama kali naik kereta api malam ke Surabaya bersama Ummi. Di rumah, Ummi sudah bilang kalau perjalanannya akan lama dan kami akan tidur di kereta. Tapi, begitu kereta api jalan, aku sudah menanyakan, “Kapan sampai?” Aku bertanya seperti itu terus-menerus. Akhirnya Ummi menuliskan angka satu sampai tiga belas di kertas. “Setiap satu jam, kita bulatkan angkanya, ya.” Aku mengangguk.

Aku nggak bisa mandi di kereta, jadi sebelum berangkat aku sudah mandi. Di kereta aku hanya makan, nonton, dan ngobrol sama penumpang lain. Bapak yang duduk di belakangku membawa pohon, aku bertanya tentang pohon itu.

Sudah empat angka yang dibulatkan di kertas, Ummi memintaku tidur agar ketika bangun esok hari, tinggal satu angka yang dibulatkan.

Aku pun tidur dan benar saja, begitu bangun tinggal satu angka yang harus dibulatkan. Di Stasiun Surabaya Gubeng, aku dijemput oleh temanku, Fair, dan ibunya, Tante Lyly. Kami menginap di rumah mereka. Fair seumur denganku, yaitu lima tahun dan kami sama-sama bersekolah di rumah (homeschooling). Surabaya ternyata kota yang panas. Keringatku terus mengucur, meski aku sudah mandi.

Keesokan harinya, bersama Fair, Tante Lyly, dan Oom Ahmad, kami pergi naik mobil ke Taman Nasional Baluran (selanjutnya disingkat TN Baluran). TN Baluran terletak di wilayah Situbondo, Jawa Timur. Kami berangkat sekitar pukul 10.00 dan sampai malam hari di Baluran. Kami sempat mampir ke rumah makan, Pantai Pasir Putih, dan main ke rumah teman Oom Ahmad.

Sesampainya di TN Baluran, semua gelap karena kami berada di tengah hutan. Aku sempat ketakutan, tapi Fair malah senang. Dari dalam mobil, ia mengamati pohon-pohon dan nggak lama Fair melihat seekor tupai melintas. Dari gerbang TN Baluran, kami harus menempuh empat puluh lima menit untuk sampai ke penginapan Bekol. Aku sudah lelah sekali sehingga aku tidur di mobil sebelum sampai di penginapan.

Keesokan paginya, Ummi membangunkanku dan langsung menggendongku. Saat aku melihat pemandangan di luar kamar penginapan, aku langsung bersorak, “Wow, cantiknyaaaa!” Aku melihat Gunung Baluran dan padang sabana yang luas. Pagi itu aku bertemu teman-temanku yang lain. Kami langsung naik mobil ranger dan bersiap menuju Pantai Bama.

Gunung Baluran

 Di perjalanan menuju Pantai Bama, aku melihat sekelompok kijang yang sedang duduk-duduk santai, burung merak, dan juga ayam hutan. Di sana nggak ada gajah dan kangguru seperti yang kubayangkan. Aku mencari macan tutul, tapi ternyata macan tutul adanya di dalam hutan, tidak keluar ke padang sabana.

kijang

 Di Pantai Bama, kami makan dulu sebelum berenang di pantai. Dua temanku, Hanun dan Asha, bermain di pasir. Sementara Fair dan aku berenang di pantai.

pantai bama

Setelah asyik berenang di pantai, kami keliling hutan bakau dan padang sabana. Kami diharuskan menggunakan kaos lengan panjang, celana panjang, sepatu, dan topi. Di hutan bakau aku melihat akar pohon bakau yang meliuk-liuk di atas tanah. Aku sempat memegang ranting pohonnya dan bergelantungan di sana. Teman-temanku dan aku juga sempat duduk di akar pohon bakau dan berfoto bersama.

 Ketika masuk ke padang sabana, cuaca terik sekali. Semua gersang karena sedang musim kemarau. Padang sabana yang luas yang membuat TN Baluran dikatakan sebagai Little Africa. Saat masuk ke hutan, kami mendengar suara merdu aneka burung dan melihat lutung yang asyik duduk di atas pohon. Di sini kami diganggu oleh monyet-monyet. Mereka mengambil plastik berisi makanan milik teman kami. Pak Hendri, bapak polisi hutan yang memandu kami, sudah mengatakan sebelumnya kalau jangan membawa plastik. Monyet-monyet tahu kalau plastik itu berisi makanan. Pak Hendri juga bilang kalau tingkah laku monyet yang berani disebabkan oleh ulah manusia yang suka memberi makan monyet-monyet. Padahal seharusnya monyet-monyet itu dibiarkan mencari makan secara alami di hutan.

Kejadian monyet menyerang teman kami membuat aku ketakutan. Aku nggak mau jauh-jauh dari Pak Hendri dan Ummi. Kami menyusuri Pantai Bama dan kembali ke lokasi semula. Aku main pasir bersama Fair, Hanun, dan Asha, lalu makan siang.

Setelah itu kami bersiap untuk pulang ke Surabaya. Keesokan harinya Ummi dan aku naik kereta api lagi ke Jakarta. Tapi kali ini aku sudah tidak menanyakan, “Kapan sampai?” ke Ummi. Begitu kereta jalan, aku menyantap makan malamku, dan tertidur.[]

*ditulis berdasarkan ocehan Cha Cha yang waktu itu berusia 5 tahun. dilengkapi oleh saya.

Empat Penjelajah Cilik

03 Apr 2013 Gita Lovusa Jalan-jalan 2

DSC02704

 

Empat penjelajah cilik ini sedang menikmati hutan dengan caranya. Bergelantungan di dahan, menjadikan ranting patah sebagai tongkat imajinasi, serta meninggalkan jejak dengan duduk di akar pohon bakau. Sambil beristirahat sejenak, mereka mendengarkan nyanyian burung-burung dan berlomba menemukan asal suara merdu itu.  Hutan bakau di sebelah Pantai Bama, yang ada di dalam Taman Nasional Baluran, telah menjadi saksi petualangan seru mereka. Teruslah jejaki bumi-Nya, dengan penuh kecintaan.

 

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ke 18 yang diadakan oleh Regy Kurniawan dengan tema HUTAN.

 

Mengenal Budaya Jepang di IIP Tng

12 Mar 2013 Gita Lovusa Ibu Profesional, Jalan-jalan 2

Hari Minggu kemarin saya mengajak Cha ke Kuliah Umum Institut Ibu Profesional Tangerang di Ciledug. Bersama Irma dan Dinar, kami bertiga mengadakan kelas Mengenal Budaya Jepang yang dipandu oleh Irma. Sehari-hari Irma berprofesi sebagai guru Bahasa Jepang dan kegiatan di kelasnya selalu menarik.

Agenda hari itu ada beberapa, yaitu mengenal hiragana dan katakana di sekitar kita, menyanyikan lagu Jepang, membuat origami stroberi, membuat bento, dan sesi foto dengan memakai baju yukata. Kuliah umum hari itu agak berbeda dari kulum lainnya karena melibatkan anak-anak juga. Iya, ibu dan anak berkegiatan bersama!

Seluruh peserta diberikan kertas yang berisi bagan hiragana dan katakana. Irma menjelaskan perbedaan keduanya dan menunjukkan bahwa di sekitar kita banyak sekali hiragana dan katakana. Irma memberi contoh dengan menayangkan foto-foto produk atau rumah makan yang ada katakananya. Kami berusaha membacanya. Lalu, kami diajak untuk menyanyi lagu Twinkle Twinkle Little Star, tapi dalam Bahasa Jepang. Judulnya jadi Kira Kira Boshi. Anak-anak suka dan ingin lagi, ingin lagi.

Irma pun mengadakan kuis membaca katakana. Masing-masing ibu dan anak berusaha membacanya dan yang bisa, boleh menuliskan jawabannya ke depan. Peserta yang jawabannya betul diberi hadiah oleh Irma.

Membuat origami sepertinya sudah umum, tapi jika dilakukan bersama-sama ternyata tetap menyenangkan. Dengan dibimbing Dinar, kami membuat origami stroberi tiup. Saya terpukau dengan cerita Niken, peserta Kulum IIP Tng, yang mengatakan bahwa anaknya, Mahija, jadi keranjingan origami. Malam harinya mereka membuat empat origami sampai pukul setengah sebelas malam. Whoaaa, keren, Niken dan Mahija!

origami stroberi

tahapan membuat origami stroberi tiup

Sesi selanjutnya adalah membuat bento. Bento adalah kotak bekal khas Jepang. Setelah semua peserta memperhatikan slide mengenai bento yang diberikan Irma dan menerima bahan bento, mereka diminta untuk membuat bento sesuka hati. Saya tidak ikut membuat karena ternyata Cha lebih ingin berkreasi sendiri. Hasil bento teman-teman bagus-bagus.

bento

 

Ada beberapa anak yang sudah mencomot nori, keju, atau sosis saat membuat bento. Hihihi, nggak sabar untuk makan. Setelah bento selesai dibuat, waktu makan pun tiba. Lalu, Irma mengeluarkan baju yukata dan beberapa ibu memakainya, termasuk saya. :D

Beberapa anak-anak yang tadinya makan di luar ruangan, ketika masuk  melihat para dewasa memakai yukata, jadi ingin ikut pakai yukata. Meski kebesaran, anak-anak tetap dipakaikan yukata. Melihat dan menggunakan sesuatu yang baru diketahui memang menyenangkan. Beberapa anak bahkan nggak mau melepas yukatanya.

yukata

 

Pukul satu siang, acara usai. Beberapa teman sudah pulang terlebih dahulu, beberapa teman lagi masih ada di ruangan. Kami pulang bersama Najmi dan bundanya. Cha mengajak Najmi main ke rumah. Mereka main face painting dan main yang lainnya. Sekitar setengah empat sore Najmi pulang.

Terima kasih, IIP. Terima kasih, teman-teman.

Sampai bertemu di acara selanjutnya.

 

 

Education Fair di Sekolah Alam Tangerang

05 Mar 2013 Gita Lovusa Bermain, Jalan-jalan, Mengamati Hewan 0

Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Pertanyaannya mengenai ular muncul beberapa waktu lalu, maka kami pun mencari tahu berbagai macam info tentang ular. Kemudian timbullah keinginan Cha untuk memegang ular. Kami mencari komunitas pencinta ular di daerah Tangerang dan bertemu dengan SIOUX – Lembaga Studi Ular Indonesia. Saat itu SIOUX hendak mengadakan gathering di Ragunan, sayangnya ketika saya tanya, di acara itu mereka tidak mengadakan sesi pengenalan ular. Jadilah kami tidak ikut acara gathering tersebut.

Kira-kira seminggu lalu, saya melihat pengumuman bahwa Sekolah Alam Tangerang (SAT) mengadakan Education Fair dan salah satu acaranya adalah temu reptil. Saya sampaikan ke Cha dan ia melonjak-lonjak senang ingin ikut.

Hari Minggu, 3 Maret 2013 kami pun ke SAT yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah, menggunakan angkutan umum. Dari sekian banyak acara yang digelar SAT, stand pertama yang Cha kunjungi adalah stand Pet Lovers Tangerang Community. Selain ular, di sana ada juga hewan-hewan lain, seperti musang, possum, biawak, serta burung hantu.

DSC03052

 

Cha betah sekali berada di stand PLTC. Usap-usap binatang, sekaligus tanya-tanya ke kakak-kakaknya. Wajahnya sumringah ketika diizinkan untuk memegang burung hantu di tangannya. Tentu saja menggunakan sarung tangan.

SAT juga mengadakan outbound untuk anak-anak, permainan tradisional [congklak, bola bekel, tapak gunung], percobaan sains, berkreasi dengan bahan daur ulang, workshop mendongeng, dan berbagai pojok permainan lainnya. Meski Cha juga menikmati kegiatan lainnya, tetap saja akan kembali dan kembali lagi ke stand PLTC. Sampai acara Education Fair ditutup pukul 12 siang, Cha tetap nongkrong di stand PLTC. Pegang-pegang ular, biawak, dan berbincang dengan para kakak.

Terima kasih, SAT. Terima kasih, PLTC.