Kategori: Karya Tangan

Dari Stik Es Krim, Benang, Sampai Kaus Kaki

20 Oct 2013 Gita Lovusa Buku, Karya Tangan 3

Bikin-bikin atau prakarya bukan keahlian saya, tapi entah kenapa saya suka ajak Cha bikin-bikin, mencoba membuat sesuatu yang baru. Juga kalau Cha yang ajak bikin-bikin, saya pasti suka. Sore itu Cha ingin bikin-bikin, tapi belum tahu mau membuat apa. Saya ajak Cha membuka kotak prakarya dan membiarkannya memilih mau bikin-bikin dari bahan apa. Cha memilih stik es krim. Ia membuat aneka bentuk dari stik es krim dan saya juga membuat sesuatu dari stik es krim itu.

Ide dadakan pun datang. Saya susun empat stik es krim, lalu menggunting kertas sesuai ukuran. Lalu menggunting burung hantu dari kertas scrapbook yang dikasi Mbak Ing, lalu menempelnya di kertas. Tadaaa, jadilah hiasan pintu. Cha juga ingin membuat seperti itu. Saya hanya membantu mengukur kertas agar sesuai ukuran dan menggunting bagian burung hantu yang kecil-kecil. Selebihnya Cha yang mengerjakan. Jika punya saya ditempel di pintu rumah, Cha ingin memberikan hasil karyanya untuk nenek dan kakeknya.

pajangan burung hantu

 

Beberapa waktu lalu, kami membeli buku seri Childcraft  dari Mbak Ayu, Idea Bookshop. Seri Childcraft ini ada 15 buku. Ternyata buku yang diambil oleh Cha pertama kali adalah yang bertema Make and Do. Awalnya Cha suka membuat gambar funny faces seperti yang ada di buku itu. Ia juga betah membolak-balik buku tersebut. Lama-lama saya penasaran. Aiiiih, ternyata isinya menarik! Saya melihat bagian membuat boneka dari benang dan kayanya cukup mudah. Saya ajak Cha membuat itu karena kami punya cukup banyak stok benang rajut.

Saya gunting karton bungkus odol, memanjang. Lalu melilitkan benang secara memanjang di karton tersebut. Gunting benang saat dirasa sudah cukup. Ikat bagian atas untuk membuat kepala. Gunting beberapa helai benang di bagian kanan dan kiri untuk membuat tangan. Ikat bagian tengah untuk membentuk badan. Yang terakhir, bagi benang bagian bawah menjadi dua untuk membentuk kaki kanan dan kiri, lalu ikat. Jadi, deh. Yang pink punya saya, yang pink tua karya Cha.

Boneka ini sederhana, mudah membuatnya. Tapi bisa membuat imajinasi anak 6 tahun melanglang buana dan terciptalah aneka cerita.

boneka benang

 

Masih dari seri Childcraft, buku Make and Do. Ketika ada kaus kaki Ayah yang sudah tidak terpakai, saya ajak Cha membuat boneka dari kaus kaki seperti petunjuk di buku.

Gunting bagian ujung kaus kaki, lalu tempelkan karton di bagian mulutnya (saya pakai bungkus odol). Beri mata dan tanduk (pakai bungkus odol juga). Seperti biasa ketika bikin-bikin, Cha dan saya membuat prakarya masing-masing. Ketika boneka kaus kaki selesai, saya nggak puas karena menurut saya hasilnya nggak rapi dan nggak bagus. Tapi Cha tetap antusias menyelesaikan kerjaannya. Dalam hati, saya ada rasa malas main dengan boneka ini. Tapi ketika melihat Cha mengambil bonekanya dan boneka saya, lalu bermain dan bercerita dengan dua boneka barunya.. Ooh, saya jadi berubah pikiran. Rapi atau bagus itu persepsi saya. Buat Cha, bagaimana pun hasilnya, ia akan tetap bisa berimajinasi dengan boneka kaus kaki.

boneka kaus kaki

Menggambar Seru!

16 Sep 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Karya Tangan 2

Sejak kecil, Cha senang bereksplorasi dengan aneka macam peralatan menggambar. Pernah beberapa kali gambarnya terlihat ‘wow’ buat saya, terutama ketika usianya di bawah empat tahun. Seiring bertambahnya usia Cha, kadang harapan saya terhadap kemampuan menggambarnya meningkat. Saat usianya lima tahun dan masih menggambar orang dengan garis-garis [kepala bulat, badan garis satu ke bawah, tangan garis dua ke samping, dan kaki garis dua ke bawah], saya sempat khawatir. Teringat ucapan dosen saat kuliah, “Kalau anak lima tahun masih menggambar orang dengan garis, berarti ada yang salah dengan perkembangan psikologisnya.”

Hasyah, entah kenapa ucapan ini terekam banget. Ada kalanya saya juga terintimidasi dengan gambar anak lain yang lebih kecil daripada Cha, tapi sudah tidak garis-garis dan lebih bagus serta berbentuk.

Huuft, karena kekhawatiran-kekhawatiran itu, saya jadi berusaha mengajari Cha menggambar orang dengan menggunakan berbagai bentuk, misal kepala lingkaran, badan segitiga, kaki agak persegi panjang, dan seterusnya. Beberapa kali berhasil, tapi Cha nggak suka. Ia kembali ke kesukaannya dalam menggambar, yaitu garis-garis.

Untung angin ‘eling’ menghampiri. Ini karena suatu ketika saya melihat logo dengan garis-garis seperti yang Cha dan anak-anak pada umumnya suka buat. Logonya lucu dan saya tahu bahwa yang menggambar itu adalah orang dewasa.

“Apakah itu artinya orang tersebut terganggu perkembangan psikologisnya?”

Ah, saya nggak yakin iya.

“Nah, kalau begitu, kenapa anakmu yang lima tahun nggak boleh menggambar seperti itu?”

Sejak saat itu, saya singkirkan jauh-jauh ucapan dosen tersebut dan membiarkan Cha asyik menggambar serta coret-coret.

Saya kembali mengajaknya berkolaborasi dalam menggambar, lalu kami bercerita dan tertawa.

Saya kembali mengajaknya coret-coret di mana saja; di tembok rumah, di kertas besar, di kertas kecil, di kardus, dll.

Lalu Cha menjadikan sebuah agenda sebagai buku gambarnya. Ia menggambar yang diamati. Menggambar dino. Menggambar hal yang sudah dilakukannya hari itu. Menggambar imajinasinya juga.

Saya berikan spidol warna-warni satu per satu, tidak sekaligus banyak. Hal ini ternyata membuat semangat menggambarnya semakin tinggi.

Kadang saya suka menuliskan pesan di buku gambarnya itu, “Terus semangat menggambar ya, Cha. Love, Ummi.” atau “Ummi sukaaaa sekali gambar Cha. Bagus! Lucu!” Pesan-pesan ini berbalas pelukan erat dan gambar yang semakin banyak.

 

gambar

Gambar Cha ketika sedang mengamati tukang AC bersihin AC di rumah. Iya, ada dinonya juga. :D

 

gambar1

Gambar Cha sebagai salah satu bentuk narasi setelah berkeliling ke beberapa tempat di TMII; Taman Burung, Taman Reptil, Taman Kupu-kupu, Dunia Ikan Air Tawar, dan Keong Mas.

Saya berusaha kembali menyadari bahwa menggambar adalah salah satu sarana anak dalam menuangkan segala macam emosi, pikiran, dan imajinasinya. Bukan harus bagus, harus begini, dan harus begitu.

Main Wayang

11 Sep 2013 Gita Lovusa Karya Tangan 0

Beberapa bulan lalu, kami lagi senang membaca buku Clara Ng yang berjudul Wayang Sebelum Tidur. Buku ini adalah buku cerita bergambar untuk anak-anak. Saat itu saya ingin sekali membuat wayang serupa agar kami bisa memainkannya. Cha menyambut antusias keinginan saya.

Kami pun mengambil bahan-bahan yang ada di rumah, yaitu kertas, gagang es krim, pensil, dan lem. Cha dan saya berusaha mengikuti gambar punakawan yang ada di buku. Lalu Cha bertugas menggunting dan menempelkan kertas yang sudah di gunting ke gagang es krim.

Malam harinya, kami mematikan lampu kamar dan menyalakan senter. Setelah letak senter diatur sedemikian rupa, Cha mengambil wayangnya dan mulai berperan menjadi dalang cilik.

 

wayang

 

 

Permainan ini sederhana, tapi bisa mengasah kreativitas dan daya imajinasi si kecil. Juga mengenalkannya pada wayang punakawan. Ada yang tahu siapa saja nama wayang yang ada di foto?

Mencoba Paper Quilling

16 Apr 2013 Gita Lovusa Karya Tangan 0

Saya kenal paper quilling kira-kira empat tahun lalu, waktu masih ngeblog di multiply. Waktu itu ada beberapa teman yang hobi paper quilling dan saya sempat dikirimi hasil karyanya. Lihat-lihat hasil jadinya, belum muncul rasa penasaran. Beberapa minggu lalu, Dinar dan saya merencanakan kegiatan craft untuk ibu-anak IIP Tangerang. Tiba-tiba saya jadi teringat lagi dengan paper quilling dan sempat bertanya ke beberapa teman yang mendalami prakarya kertas.

Mungkin karena diomongin terus, lama-lama saya jadi penasaran dengan paper quilling. Cari-cari tutorialnya dan ternyata bisa dikerjakan dengan kertas apa saja, asal tidak terlalu tipis. Karena di rumah kertas yang berwarna hanya kertas origami, jadilah saya pakai itu. Melihat saya asyik main menggulung kertas-kertas kecil, rupanya Cha juga tertarik dan ikut mencoba.

 

b

iseng

-Menghias kotak origami dan botol susu-

a

-Atap berhiaskan paper quilling ini bikinan Cha-

Ini beberapa tutorial paper quilling yang saya pakai:

1. Tutorial: An Introduction to Paper Quilling

2. Pinterest: Paper Quilling Tutorial

Ayo, kita gulung-gulung kertas bersama! ^^

Berkenalan dengan Tangram

03 Apr 2013 Gita Lovusa Bermain, Karya Tangan 1

Saat minggu lalu ke toko buku, saya melihat buku mengenai tangram. Wah, saya jadi teringat seorang kawan yang pernah memainkannya. Saya ambil buku tersebut dan membacanya sekilas. “Ooh, kertasnya dipotong-potong lalu disusun, tho.”

Saya menunjukkan buku itu pada Cha, tapi ia sepertinya belum tertarik. Saya pun memutuskan tidak membeli buku itu. Entah kenapa, di rumah saya terus teringat dengan tangram dan ingin coba memainkannya. Jadilah dua hari lalu saya ajak Cha untuk menggunting dua lembar kertas origami menjadi bentuk segitiga dan bujur sangkar. Iya, hanya dua bentuk ini. Masih belum ngeh dengan arti tangram yang sebenarnya. Lalu saya mengajak Cha untuk menyusun segitiga dan bujur sangkar itu menjadi aneka rupa. Dari gelagatnya, sepertinya Cha suka.

Hari ini, saya semakin penasaran dengan tangram. Saya coba cari di internet dan ternyata tangram itu puzzle dari Cina! Cha yang tertarik dengan hal-hal yang berkaitan Cina dan suka puzzle, jadi ikutan semangat main tangram. Wikipedia bilang, “Tangram is a dissection puzzle consisting of seven flat shapes, called tans, which are put together to form shapes. The objective of the puzzle is to form a specific shape (given only an outline or silhouette) using all seven pieces, which may not overlap.”

“Oooh, harus dengan pola tertentu, ya,” gumam saya sambil nyengir.

Saya ikuti pola memotongnya dan mencetak  dua lembar aneka bentuk hewan serta orang yang bisa disusun dari tangram. Banyak sekali pola yang tersedia di internet mengenai tangram ini. Cha dan saya asyik menyusun tangram mengikuti pola yang sudah dicetak. Setelah itu kami mencoba membuat kreasi kami sendiri. Saya membuat orang memakai baju Cina, sementara Cha seperti biasa, membuat dinosaurus. :D

 

DSC03180

 

 

Kalender Hitung Mundur Menuju Ramadhan

02 Apr 2013 Gita Lovusa Karya Tangan 3

Setelah kemarin membaca sebuah info kalau ternyata seratus hari lagi Ramadhan, saya mengajak Cha untuk membuat kalender hitung mundur. Saya tanya Cha, “Mau bagaimana bentuknya? Mau ketik komputer atau gambar tangan?” Cha memilih menggunakan media kertas A4 yang dipotong menjadi empat bagian dan membuatnya dengan gambar tangan. Lalu, saya tanya lagi, “Mau pake cat, krayon, spidol?” Cha pun memilih menggunakan crayon.

Sebelum mulai membuat, kami berbincang mengenai Ramadhan dan Cha meminta untuk latihan puasa. Sip, insyaAllah!

Saya ajak Cha untuk menghitung berapa hari lagi tepatnya kita sampai ke Ramadhan. Jika diperkirakan hari pertama Ramadhan jatuh pada tanggal 9 Juli 2013, maka dari tanggal hari ini, 98 hari lagi Ramadhan.

Proses pembuatan kalender ini saya perkirakan hanya menjadi ajang Cha latihan menulis angka, tapi ternyata di setiap kertas, setelah menggambar angka, Cha menambahkan dengan gambar-gambar yang ia inginkan dan ada ceritanya. ^^

 

DSC03179

 

Karena rentangnya dalam menulis belum terlalu panjang, saya hanya menyediakan 20 lembar kertas yang sudah dipotong untuk ditulis angka dan digambar. Angka-angka berikutnya akan ditulis menyusul, secara berkala.

Bulan Ramadhan, semoga menjadi bulan yang selalu dinanti dan melekat di hati.