Kategori: Mengamati Hewan

Hadiah Pagi Bernama Seida

13 May 2013 Gita Lovusa Mengamati Hewan 0

Kita ketahui bahwa hadiah tidak hanya berupa benda atau uang yang diberikan, tapi bisa juga dalam bentuk aneka rupa. Bagi anak-anak, hadiah sering dianggap sebagai mainan, kue, cokelat, permen, atau apa pun yang mereka sukai. Cha senang sekali jika diberi hadiah [hihihi, siapa juga yang nggak suka, ya?], tapi saya ingin sekali memberi pemahaman bahwa hadiah tak hanya berupa benda-benda yang saya sebutkan di atas. Jadi ketika kemarin pagi saya sedang menyiram tanaman, saya melihat seekor belalang yang sepertinya sedang asyik melamun di dedaunan, saya pun menangkapnya. Karena sudah lama rumah kami tidak kedatangan belalang dan kami belum pernah mengamati belalang dari dekat.

Setelah Cha bangun, saya katakan bahwa ada hadiah untuknya. Matanya berbinar. “Apa hadiahnya, Mi?”

“Kecil, hijau, dan bisa lompat.”

“Kodok?” Cha bersorak senang.

Saya tersenyum dan mengajaknya ke halaman belakang.

Belalang tadi saya simpan di bawah kotak yang bolong-bolong sehingga si belalang nggak bisa pergi ke mana-mana, tapi tetap bisa bernapas dan menikmati udara pagi yang segar serta rintik hujan.

Saya buka kotak tersebut dan “Arrgggh!” Cha teriak. Hihi, dia memang agak takut dengan belalang karena seekor belalang besar pernah terbang ke arahnya. Cha ngumpet di belakang saya. Tak lama, Cha sudah bisa menikmati hadiah paginya itu. Apalagi setelah saya ambil kamera dan memotret belalang. Si belalang menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kala saya sodorkan kamera ke arahnya. Kakinya terangkat dan menggaruk antenanya. Lucu! Lalu si belalang membelakangi saya dan berjalan ke arah yang berlawanan. Saya mengejarnya dan ia membelakangi saya lagi. Begitu terus sampai beberapa kali. Cha tertawa dan berkata, “Nama belalangnya Seida, Mi.”

“Waah, nama yang bagus, Cha!” ujar saya.

 

seida

 

“Sekarang Outra [kodok kami] punya teman ya, Mi. Nanti mereka main bareng, ya?” Cha pun sibuk mencari Outra dan mengajaknya berkenalan dengan Seida. Cha tertawa ketika melihat Seida melompat. Cha mencari ketika Seida tak tertangkap oleh matanya. Cha berharap Seida tetap mau tinggal di halaman belakang kami.

“Allah kasih hadiah karena kemarin aku salat dan berdoa ya, Mi?”

Hati saya tersenyum mendengarnya.

Ah iya, seperti biasa, setelah mengamati belalang, kami suka mencari informasi lebih banyak mengenai belalang. Ada satu web yang asyik karena dilengkapi dengan banyak foto belalang. Kami membacanya di Metamorfosis Belalang.

 

Education Fair di Sekolah Alam Tangerang

05 Mar 2013 Gita Lovusa Bermain, Jalan-jalan, Mengamati Hewan 0

Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Pertanyaannya mengenai ular muncul beberapa waktu lalu, maka kami pun mencari tahu berbagai macam info tentang ular. Kemudian timbullah keinginan Cha untuk memegang ular. Kami mencari komunitas pencinta ular di daerah Tangerang dan bertemu dengan SIOUX – Lembaga Studi Ular Indonesia. Saat itu SIOUX hendak mengadakan gathering di Ragunan, sayangnya ketika saya tanya, di acara itu mereka tidak mengadakan sesi pengenalan ular. Jadilah kami tidak ikut acara gathering tersebut.

Kira-kira seminggu lalu, saya melihat pengumuman bahwa Sekolah Alam Tangerang (SAT) mengadakan Education Fair dan salah satu acaranya adalah temu reptil. Saya sampaikan ke Cha dan ia melonjak-lonjak senang ingin ikut.

Hari Minggu, 3 Maret 2013 kami pun ke SAT yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah, menggunakan angkutan umum. Dari sekian banyak acara yang digelar SAT, stand pertama yang Cha kunjungi adalah stand Pet Lovers Tangerang Community. Selain ular, di sana ada juga hewan-hewan lain, seperti musang, possum, biawak, serta burung hantu.

DSC03052

 

Cha betah sekali berada di stand PLTC. Usap-usap binatang, sekaligus tanya-tanya ke kakak-kakaknya. Wajahnya sumringah ketika diizinkan untuk memegang burung hantu di tangannya. Tentu saja menggunakan sarung tangan.

SAT juga mengadakan outbound untuk anak-anak, permainan tradisional [congklak, bola bekel, tapak gunung], percobaan sains, berkreasi dengan bahan daur ulang, workshop mendongeng, dan berbagai pojok permainan lainnya. Meski Cha juga menikmati kegiatan lainnya, tetap saja akan kembali dan kembali lagi ke stand PLTC. Sampai acara Education Fair ditutup pukul 12 siang, Cha tetap nongkrong di stand PLTC. Pegang-pegang ular, biawak, dan berbincang dengan para kakak.

Terima kasih, SAT. Terima kasih, PLTC.

 

Asyiknya Mengamati Hewan

28 Nov 2012 Gita Lovusa Lagu, Mengamati Hewan, Percobaan 0

Sejak dulu, saya ingin sekali mengajak Cha memelihara kecebong dan ulat. Ingin melihat secara langsung metamorfosis dua makhluk lucu itu. Ahamdulillah, saat ke toko tanaman bersama Cha di akhir Agustus, saya melihat banyak kecebong di kolam. Saya bertanya ke penjaga toko untuk meminta beberapa kecebong. Penjaga baik hati itu langsung mengizinkan dan mengambilkan beberapa kecebong.

Sampai rumah, Cha dan saya antusias. Kami segera mengambil ember kosong, memberinya sedikit air, dan menaruh kecebong-kecebong di sana. Kami juga mencari tahu mengenai makanan kecebong, yang ternyata berupa daun kering. Kami taruh beberapa helai daun kering di ember dan mengamati perilaku kecebong setiap hari. Cha tertawa saat kecebong berbalik badan dan meminum air. Terlihat mulutnya bergerak-gerak.

Selama beberapa minggu dipelihara, macam-macam hal terjadi. Ada kecebong yang mati, kalau kata Cha mungkin karena ember sempat dibersihkan dan kecebong dipindahkan ke akuarium. Saya menuruti titah Cha untuk tidak membersihkan airnya lagi. Beberapa kemudian, Cha berteriak, “Ummi, udah ada kakinya!”

Wah, saya langsung lari dan lihat ke akuarium. Jujur, ini pertama kalinya saya melihat kejadian alam yang hebat ini. Ekor kecebong masih panjang, sedangkan kaki belakang sudah bergerak-gerak. Beberapa hari kemudian, kaki kecebong lain pun mulai keluar. Lalu, ekor-ekor mereka mulai hilang dan kecebong itu telah berubah menjadi kodok kecil. Pada saat ini, kodok kecil sepertinya sudah tidak terlalu suka di air. Ia senang lompat ke atas batu yang kami taruh di dasar akuarium atau lompat ke dinding akuarium. Kalau pun masuk ke air, hanya sebentar. Ketika ia masuk ke air, kami melihat gerakan kakinya dan teringat gaya kodok di olahraga renang. ^^

Sesuai kesepakatan awal, setelah jadi kodok kecil, kami melepas mereka di halaman depan. Cha membuat upacara khusus dengan membawa bendera kodok. Kami pun sempat bersenandung:

Dari telur jadi kecebong

Kecebong jadi kodok kecil

Kodok kecil jadi kodok besar

Kodok besar bertelur lagi

[dinyanyikan pakai lagu Rasa Sayange]

dan mengucapkan salam perpisahan, “Have a nice journey, Little frogs. Till we meet again.”

Tak berapa lama, tanah di halaman depan dibongkar. Kami pun menemukan beberapa siput. Aha! Kesempatan untuk mengamati siput selama beberapa hari. Akuarium kosong tadi kami isi dengan tanah dan rumput, lalu meletakkan empat siput di sana. Berdasarkan info dari Mbak Ing, kami memberi siput-siput itu wortel yang diiris kecil. Ketika mereka makan wortel, kotorannya berwarna oranye. Ketika kami beri makan daun-daun hijau, kotorannya berwarna hijau. Hihi.. lucu! Oh ya, bagian atas akuarium ditutup dengan plastik yang sudah dibolongi agar siput tidak keluar.

Dari pengamatan, kami jadi mengetahui kalau siput lebih banyak diam di waktu pagi sampai sore. Menjelang malam mereka baru berjalan mencari makan. Siput juga mengeluarkan lendir yang sepertinya berfungsi jadi jejak mereka. Dengan asyik, Cha mengamati siput yang berjalan keliling akurium. Tertawa ketika antena siput bisa keluar masuk. Ternyata di ujung antenanya ada mata. Keren, ya! Cha sempat bertanya, “Mana siput cewek, mana siput cowok, Mi?”

Kami mencari tahu di internet, mempelajari anatomi siput, dan mengetahui kalau siput itu hermafrodit. Setelah beberapa hari diamati, kami mengembalikan siput-siput itu ke halaman depan lagi.

Tadi malam, ketika sedang santai, saya iseng bertanya ke Cha mengenai kecebong.

Saya: Cha, ingat nggak, waktu melihara kecebong?” | Cha: Ingat.

Saya: Makanan kecebong waktu itu apa? | Cha: Daun kering.

Saya: Pas mau berubah jadi kodok, apanya yang keluar? | Cha: Kakinya.

Saya: Terus? | Cha: Kakinya makin panjang, ekornya hilang.

Saya: Kaki kodok ada berapa? | Cha: Satu, dua, tiga, empat. Empat! Kaki belakangnya lebih panjang.

Saya: Kalau udah jadi kodok kecil, jadi apa? | Cha: Kodok besar.

Senang, ternyata Cha masih ingat. Pengamatan dan pengalaman langsung memang guru terbaik, ya.