Kategori: Sabang Merauke

Sabang Merauke di Kick Andy

10 Dec 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 0

Senang membaca respon banyak orang mengenai Sabang Merauke di FB dan twitter, setelah mereka menonton tayangan Sabang Merauke di Kick Andy, Jumat 29 Desember lalu. Seperti Yayan dan Teguh, dua teman saya, yang bersemangat ingin menjadi relawan Sabang Merauke, padahal mereka tidak tinggal di Jabodetabek.

@Rhenald_Kasali di akun twitternya menyampaikan:

– Saya menyaksikan @SabangMeraukeID di Kick Andy. Saya bangga dengan komunitas ini, kita rindu hal2 seperti ini.

– Selamat atas program pertukaran pelajar yg sangat indah. Perbedaan itu untuk saling mencintai dan melengkapi.

Belum tahu tentang Sabang Merauke dan kegiatannya? Ketinggalan tayangan tentang Sabang Merauke di Kick Andy? Jangan khawatir, siarannya bisa ditonton di:

Kick Andy Programs: Kreativitas Anak Muda Indonesia

dan lanjutannya di:

Kick Andy Programs: Kreativitas Anak Muda Indonesia

Sebentar lagi, Sabang Merauke akan membuka pendaftaran untuk relawan. Simak infonya di @SabangMeraukeID, FB: Sabang Merauke, dan sabangmerauke.org.

quote volunteer

Sewaktu International Volunteers Day beberapa hari lalu, Kak Aichiro menuliskan kalimat di atas. Kak Aichiro bilang pernah membacanya di suatu tempat. Setelah saya cari, ternyata kalimat tersebut ditulis oleh Sherry Anderson.

Saya bersyukur kami sekeluarga bisa menjadi Family Sabang Merauke. Salah satu pengalaman yang indah dan mengayakan.

Menjadi Relawan di Festival Gerakan Indonesia Mengajar

Sebelum menulis ini, saya iseng meluncur ke KBBI untuk mengecek arti relawan. Eh ternyata, relawan itu bukan bahasa Indonesia yang baku, lho. Yang benar adalah sukarelawan; orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).

Sewaktu Indonesia Mengajar pertama kali diluncurkan, saya tertarik, tapi sayang sudah tidak memenuhi syarat. Huhuhu.. Makanya saya senang sekali waktu tahu acara ini. Yes, akhirnya bisa terlibat secara langsung di kegiatan Indonesia Mengajar! Saya pun mengajak Cha (6 tahun) untuk bergabung di kegiatan ini. Cha yang selalu suka kegiatan ramai-ramai, langsung mengiyakan. Saya ajak Cha mendaftar via online dan melihat berbagai wahana yang dijelaskan di Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM).

 

Bergabung di Kerumunan Positif

fgim

 

Bukan hanya slogan, saya pun merasakan aura positif ini dari pertama kali tiba di Ecovention Hall, Ancol, sampai pulang. Selain panitia-panitia yang ramah dan santun dalam menjelaskan, saya juga bertemu berbagai sukarelawan yang baik. Seperti ketika Cha dan saya mengantri untuk masuk. Saya sampaikan ke Cha. “Cha, jalannya pelan-pelan aja karena ramai sekali. Kita sabar antri, ya.” Tak lama, kami diberi jalan untuk masuk oleh seorang sukarelawan. “Silakan, Bu, duluan.”

Sewaktu berada di Kelas Orientasi; kelas yang menjelaskan mengenai kegiatan FGIM ini, kami tidak kebagian tempat duduk. Sebenarnya nggak masalah jika kami berdiri, tapi seorang sukarelawan menegur saya. “Bu, silakan duduk sama adiknya di sini.”

Huwaaa, baik sekali!

Ketika bergabung dengan kelompok-kelompok dalam beberapa wahana, meski menjadi sukarelawan paling kecil, Cha selalu dilibatkan oleh sukarelawan lain. “Cha, tolong gunting ini, ya.” atau “Cha, tolong masukin karton-karton ini ke plastik ini, ya.” atau “Cha ambil buku di sini lima, ya. Pilih yang mana aja. Nanti bawa ke tempat kita tadi.” atau “Ayo, Cha, kita lipat karton ini jadi dua terus digunting.” Pun ketika Cha menggunting karton agak melenceng, seorang sukarelawan bilang, “Wah, makin seru niy, Cha. Ntar kakak-kakak yang main puzzle kita makin tertantang.” Dan ketika pekerjaan selesai, mereka mengajak Cha tos dan bilang, “Yeah, kita berhasil!”

Saya senang karena bukan hanya saya yang mengajak Cha ini dan itu. Dengan dilibatkannya Cha oleh sukarelawan lain, saya yakin Cha lebih merasa diterima dan merasa bahwa ia juga bisa turut kerja bakti. Terima kasih ya, para sukarelawan yang baik.

Ketika sudah pukul tiga sore, kami memutuskan pulang dengan menggunakan taksi. Awalnya saya pikir akan ada pul taksi di sekitar lokasi acara, namun ternyata nggak ada. Saya bertanya ke satpam. Satpam bilang kalau ada pul taksi di depan Dufan.

“Cara ke sana lewat mana, Pak?” tanya saya.

“Ada ojek siy, Bu. Tapi yuk, saya anterin aja.”

“Eh, nggak usah, Pak. Nggak apa-apa saya naik ojek ke Dufan. Ojeknya di mana, Pak?”

“Nggak apa-apa, Bu. Yuk, dianterin aja.”

Akhirnya kami meluncur dengan motor Pak Satpam ke Dufan. Pas turun, saya sampaikan terima kasih ke Pak Satpam dan Cha menambahkan, “Bapak baik banget!”

Huwaaa, benar-benar ada di kerumunan positif. 

 

Wahana di FGIM

Sebelum hari-H, kami sudah membaca-baca mengenai kegiatan di wahana tersebut dan mencatat wahana yang bisa kami ikuti.

1. Kotak Cakrawala

Di sini kami bergabung dengan dua sukarelawan lain untuk mengemas buku. Kami diberikan catatan buku apa saja yang harus diambil dan jumlahnya. Kami keliling mengambil buku-buku tersebut, lalu mengemasnya di kardus. Buku-buku yang disediakan bagus-bagus dan bermutu. Ketika harus mengambil kamus, saya memilih thesaurus untuk dikirim ke daerah. Saya senang karena saya juga menemukan beberapa buku yang ditulis oleh teman saya. ^^

2. Kepingpedia

Kami kembali bergabung dengan tiga sukarelawan lain untuk menulis pesan dan menggunting karton bertema serta bergambar untuk dijadikan puzzle. Setelah digunting, potongan karton dimasukkan ke plastik dan dimasukkan ke kotak yang sesuai dengan daerah tujuan pengiriman. Membaca nama-nama daerah tersebut, saya merasa asing. Sama sekali nggak tahu daerah itu ada di pulau apa. -.-

Saya senang di wahana ini karena kakak-kakaknya interaktif menghibur sukarelawan. Mereka menyanyikan lagu yang diciptakan sendiri. Suasana jadi semakin asyik. Setelah selesai, Cha mendapat stiker Juara! dari seorang kakak panitia. Ah, makin senanglah ia.

3. Upacara Bendera di Aula Indonesia

Baru kemarin saya menghadiri upacara bendera yang dihadiri oleh ribuan peserta upacara. Baru kemarin saya mengikuti upacara bendera yang pesertanya nggak pakai seragam. Baru kemarin saya menitikkan air mata ketika bendera dinaikkan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, juga ketika mengheningkan cipta dimulai. Baru kemarin saya merinding dan terharu ketika mendengar Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila dibacakan oleh murid serta guru dari Halmehara Selatan, ditampilkan melalui video. Baru kemarin juga saya mengikuti upacara bendera sambil menggendong Cha yang ingin melihat jelas videonya.

*tarik napas

Indonesia, semangat dan optimis! Harapan itu terbentang luas.

4. Surat Semangat untuk Guru dan Kepala Sekolah

Pagi hari sebelum berangkat, saya sudah membuat surat semangat di rumah. Jadi di sana sebenarnya tinggal masukkan surat ke amplop dan kirim. Tapi ternyata Cha juga ingin berpartisipasi. Ia menggambar rumput, pohon, dino, matahari, dll di kertas yang sudah disediakan. Di surat semangat ini saya bercerita mengenai kegiatan saya sehari-hari dan pekerjaan saya. Saya senang karena panitia meminta sukarelawan mencantumkan alamat rumah, agar guru-guru di sana bisa membalas surat kami.

5. Kemas-kemas Sains

Cha suka dengan percobaan sains, jadi ia semangat sekali ke wahana ini. Kami bergabung dengan kurang lebih sepuluh sukarelawan lain dan menyiapkan bahan untuk percobaan katrol sederhana serta kompor matahari. Ternyata kit yang dibutuhkan banyak sekali. Jadi pengerjaan di wahana ini agak lama. Cha sempat bosan dan ingin ke wahana lain. Saya mengingatkan bahwa sebaiknya kita menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai. Saya juga menyemangatinya dengan mengatakan kalau paket-paket yang disiapkan ini untuk teman-teman di daerah. Alhamdulillah, Cha mampu menyelesaikan tugasnya di wahana ini.

kemassains

6. Senam Bergembira di Aula Indonesia

Sehabis mengisi perut, ke kamar mandi, dan salat Zuhur, kami mengikuti senam bergembira. Cha yang senang bergerak, sangat menikmati kegiatan ini. Kegiatan senam ini saya pikir mampu meredam keletihan yang mungkin dirasakan oleh sebagian sukarelawan dan panitia.

7. Surat Semangat untuk Adik-adik

Wah, saya pikir surat semangat hanya untuk guru dan kepala sekolah, jadi saya belum menyiapkan surat untuk adik-adik. Cha dan saya mendapat dua kertas dan dua alamat kirim yang berbeda. Cha untuk teman di Paser, saya untuk adik-adik di Fakfak. Cha seperti biasa menggambar dan saya yang menuliskan sedikit mengenai kegiatan Cha di sini. Harapannya sama, semoga ada surat balasan dari adik-adik di Paser dan Fakfak.

Kami belum mengikuti wahana Kartupedia, Sains Berdendang, Melodi Ceria, Video Profesi, dan Teater Dongeng. Jika FGIM diadakan lagi, semoga kami bisa bergabung di lebih banyak wahana.

 

Korps Donatur Publik

Bagi teman-teman yang ingin berdonasi untuk kegiatan Indonesia Mengajar, bisa menghubungi alamat email: kdp@indonesiamengajar.org

 

Bertemu Kakak-kakak SabangMerauke

Yihaaa, inilah salah satu yang kami nantikan.Alhamdulillah, bisa berjumpa dengan Kak Noni. Terima kasih sudah menyapa duluan ya, Kak. Bisa dadah-dadahan heboh sama Kak Rey dan Kak Putri. Soalnya kami masih di bawah, menanti gerbang dibuka, sedangkan dua kakak tersebut di atas. Lalu kami bertemu Kak Levin, kakak yang dicari-cari Cha. Haha.. Terus pas di Kotak Cakrawala, ketemu Kak Aisy. Di Surat Semangat, ketemu Kak Tika, Kak Marika, dan Kak Furi. Di Kemas-kemas Sains ketemu Kak Rosa. Pas mau makan siang, ketemu keluarga Bu Agnes dan Kak Levin (lagi). Senangnyaaa, jadi bisa duduk dan ngobrol bareng. Setelah makan, kami mau naik ke lantai 2, lalu ada yang manggil Cha. Eh ternyata ada Kak Fuad. Pas sampai di lantai 2, Kak Vietta menyapa. Senang, senang, senang! Oh ya, kami juga ketemu Mbak Hani dan Mas Adam, yang pernah sharing di acara Orientasi Awal SabangMerauke.

Semoga kita bisa bertemu di kegiatan baik lainnya ya, Kaaaak…

 

Salut buat semua yang sudah terlibat di FGIM. Semoga kegiatan baik dan keren semacam ini bisa rutin dilakukan. Ayo, nyalakan lilin!

Farewell Dinner Sabang Merauke

16 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 2

Sebenarnya, sebelum acara farewell dinner, di hari yang sama, ada acara orientasi akhir yang  diperuntukkan untuk Anak Sabang Merauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Family Sabang Merauke (FSM). Tapi sayang kami tidak bisa hadir karena Cha demam. Jadi kami hanya mengikuti farewel dinner di malam hari. Itu pun tadinya sudah mau tidak jadi karena Cha masih demam, tapi ia ingin sekali ketemu kakak-kakak.

Acara farewell dinner dibuka oleh Kak Putri sebagai MC. Lalu ada sambutan dari Bu Yani selaku tuan rumah, Pak Anies Baswedan, dan Kak Ayu Kartika Dewi sebagai perwakilan dari Sabang Merauke. Kemudian acara diisi dengan buka puasa bersama, salat Maghrib berjamaah, dan makan malam.

Sehabis makan malam, ada beberapa tampilan menyanyi dari anak-anak SLB Elsafan dan ASM. KSM pun sempat diminta berbagai pengalamannya selama mengasuh ASM.

Satu yang tak saya perkirakan adalah ada sesi para FSM berbagi cerita. Sambil mendengarkan cerita yang lain, saya pun bersiap-siap untuk berbagi pengalaman. Tapi ternyata, meski yang ingin saya sampaikan masih ada di benak, saya sudah berkali-kali menahan air mata. Jadi saya putuskan untuk tidak berbicara saat itu, cukup diwakili oleh suami, dan bertekad untuk menuliskan pengalaman saya.

 

Kemandirian Spiritual Seorang Anak 14 Tahun

Ada satu pesan dari seorang guru yang insyaAllah akan terus saya ingat. Semangatnya berjalan dan naik turun angkot untuk menyebar kebaikan, meski harus berjalan dengan menggunakan bantuan tongkat, tidak akan saya lupakan. Di sebuah kajian, ia menyampaikan dengan semangat –salah satu ciri khasnya ketika berbicara–, “Jadi seorang muslimah itu harus memiliki kemandirian spiritual. Kita nggak tahu suami seperti apa yang akan kita dapatkan nanti. Kalau ia bisa menjadi imam yang baik, alhamdulillah. Tapi kalau ia masih suka lalai dalam melaksanakan salat dan belum tergerak untuk mengaji, kita jangan lantas mengikutinya. Kita harus bisa bangkit sendiri. Menunaikan salat tepat waktu dan belajar terus tentang agama. Syukur jika nanti suami akan beriringan dengan langkah kita.”

Saat itu memang konteksnya adalah muslimah karena yang saya ikuti adalah kajian muslimah. Tapi menurut saya, pesannya itu bisa digeneralisasikan menjadi: Setiap orang, tak peduli agama, suku, dan usia, harus memiliki kemandirian spiritual.

Di hari pertama Villa (ASM asal Pasuruan) tinggal di rumah kami, saya seperti biasa bangun sekitar pukul setengah empat pagi, lalu melakukan berbagai aktivitas. Sekitar pukul enam lewat, Villa membuka pintu kamar dan saya menyambutnya, wajahnya terlihat segar. “Eh, sudah bangun?”

“Sudah dari tadi, Bu,” sahutnya.

“Oh.” Saya sedikit terkejut.

“Iya, tadi sekitar pukul empat sembahyang soalnya.” FYI, Villa beragama Hindu, sedangkan kami Islam.

“Terus nggak tidur lagi?” tanya saya.

Villa menggeleng.

Rasa kagum saya muncul seketika. Tadinya saya memperkirakan Villa akan bangun siang, apalagi jika mengingat bahwa ia masih SMP, biasanya masih hobi bangun siang, dan ia baru sampai wisma di Jakarta Jumat hampir tengah malam, lalu di hari Sabtu ada acara penuh dari pagi hingga malam. Ternyata meski jauh dari orang tua dan saya belum mengetahui jadwal sembahyangnya, Villa bisa mandiri bangun pagi dan sembahyang. Ingatan akan nasihat di atas pun kembali datang.

Minggu pagi pertama kami isi dengan cerita-cerita. Ketika waktu sembahyang siang tiba, Villa pun langsung izin masuk kamar untuk bersembahyang. Begitu pula di waktu malam dan hari-hari seterusnya. Selama dua minggu Villa tinggal di rumah, tidak pernah sekalipun saya mengingatkannya untuk sembahyang, ia yang selalu tepat waktu melaksanakan ibadah.

Pernah suatu ketika ia pulang lebih malam bersama Ayah. Sesampainya di rumah, saya tanyakan, “Tadi Villa sembahyang gimana?” Karena sekitar pukul enam sampai tujuh malam mereka masih terjebak macet di jalanan Ibukota. “Di dalam mobil. Berdoa saja dalam hati.”

Huaaaa, kemandirian spiritual yang dimilikinya keren menurut saya. Selain itu, Villa pun tidak pernah saya bangunkan di pagi hari. Ia selalu rutin bangun sendiri sekitar pukul empat pagi, sembahyang, dan bersiap-siap untuk berangkat pagi.

Kerap saya bertanya dalam hati, bagaimana bisa ia memiliki kemandirian dan kemandirian spiritual sebagus itu? Saya menduga ada peran penting orang tua di dalamnya. Saya pun berharap semoga suatu hari bisa belajar banyak secara langsung dari orang tua Villa.

 

Pengalaman sebagai FSM yang ikut beberapa kegiatan ASM

Setiap harinya kesepuluh ASM memiliki kegiatan dengan tema berbeda. Ternyata, Cha sebagai Saudara Sabang Merauke (SSM) pun boleh mengikuti kegiatan tersebut. Karena Cha masih mengikuti sebuah program liburan dan masih kecil, akhirnya saya mendaftarkan Cha hanya di tiga kegiatan, yaitu Fun Day, Social Day, dan Art Day. Sebenarnya si bocah ingin sekali bisa setiap hari ikut bergabung dengan kegiatan ASM. Berhubung Cha masih perlu pendampingan, maka saya pun ikut menemaninya di tiga kegiatan tersebut.

Di Fun Day, kami mengunjungi Dufan. Meski sudah berusaha sok kenal sok dekat dengan beberapa kakak, di awal-awal ternyata masih ada perasaan kikuk karena ibu-ibu sendiri. Yang lainnya ABG dan mahasiswa. Sebagian lainnya  panitia Sabang Merauke.

Tapi syukurlah, lama-lama semakin cair dan kegiatan hari itu bisa dilalui dengan ceria.

Di Social Day, ternyata saya mulai merasa baur dan nyaman, meski tetap menjadi satu-satunya FSM. Saya menikmati cerita beberapa ASM mengenai kegiatan akhir pekannya bersama FSM. Saya pun mulai lebih lebur berbincang dengan para kakak. Saat di SLB Elsafan, saya semakin menikmati kebersamaan itu. Apalagi saat bernyanyi-nyanyi bersama. Ketika seorang anak dari Elsafan menyanyikan lagu Diamonds dari Rihanna dan saya sedikit-sedikit bisa menyanyikannya, Kak Laura –salah seorang KSM– bertanya, “Wah, Tante apal lagunya, ya?” Ups, jadi malu. :D

Di Art Day, semuanya semakin terasa akrab.

sm

Di acara farewell dinner, saya duduk dekat dengan ASM, KSM, dan para relawan. Saya larut dalam keceriaan mereka. Ikut bernyanyi ketika mereka bernyanyi. Ikut bertepuk tangan ketika mereka ramai bertepuk tangan. Ikut bersorak ketika mereka bersorak. Seketika saya merasa kembali muda. :D Sempat saya sampaikan hal ini kepada Kak Ritter –salah seorang relawan SM–, Kak Ritter berkomentar, “Wah, bagus itu!” :D

 

Setitik Isi Hati

Penghujung acara farewell dinner diiringi air mata, begitu pula keesokan harinya ketika kami turut mengantarkan Villa dan beberapa ASM lain di Bandara. Hari Senin kemarin, saya menuliskan ini:

 

Mengapa Ada Air Mata?

Kala hati-hati telah terpaut

Kala sekat-sekat kekakuan sudah terkikis

Kala jari-jemari saling melengkapi

Saat itulah air mata hadir

Ia muncul mewakili rasa

Ia datang mewakili asa

Ia ada mewakili cinta

***

Sebelum kami pamit pulang dari farewell dinner, seorang bapak menghampiri kami dan memperkenalkan diri. “Bu, saya yang dulu mewawancarai Villa. Saya nggak salah pilih kan, Bu?”

Langsung saya jawab dengan mantap sambil mengacungkan jempol, “Sama sekali nggak, Pak!”

Social Day with Sabang Merauke

08 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Hari ini Villa, Cha, dan saya mengikuti kegiatan Sabang Merauke. Ya, setiap hari kerja, anak-anak Sabang Merauke memiliki kegiatan dengan tema berbeda setiap harinya. Dan Cha mendaftar di tiga kegiatan, yaitu Sport and Fun Day ke Dufan minggu kemarin, Social Day hari ini, dan Art Day insyaAllah Kamis besok.

Di pagi hari, kami mengunjungi kandang rusa UI dan bertemu dengan komunitas Garda Satwa. Komunitas Garda Satwa adalah komunitas penyayang binatang. Mereka mengurus anjing dan kucing yang dibuang atau sakit. Cha senang sekali bisa bertemu anjing jinak jenis shih tzu. Anjing kecil yang cantik ini dielus-elus dan diajak main oleh Cha. Hadeuh, saya yang pernah dikejar anjing beberapa kali waktu kecil, sampai ngeri melihat Cha asyik mengelus-elus anjing.

Yang menyenangkan lagi bagi kami semua adalah ketika diperbolehkan masuk ke kandang rusa UI yang besar dan boleh memberi makan. Kakak-kakak dari Garda Satwa membawa kangkung, wortel, dan ubi. Seluruh anak dan kakak Sabang Merauke asyik memberi makan rusa. Cha dengan bahagia keliling dari satu rusa ke rusa lainnya. Rusanya pun diusap-usap dan disayang-sayang.

Setelah dari UI kami melaju menuju SLB Elsafan di Klender. SLB Elsafan adalah sekolah untuk anak-anak tuna netra yang didirikan oleh tujuh orang yang juga tuna netra. Waduh, di tempat ini air mata saya menitik beberapa kali.

Pertama, saat kami dari Sabang Merauke dan teman-teman dari Elsafan diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rasanya kok, ya beda dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari Senin saat sekolah dulu ya? Saat menyanyi, ada perasaan haru dan bangga sebagai warga Indonesia. Hal ini juga terjadi ketika orientasi awal Sabang Merauke. Sebelum orientasi dimulai, kami diminta berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Hadeuh, merindiiiiing..

Kedua, saat mendengar Kak Mutiara dari Elsafan menyanyikan lagu Rossa. Masya Allah, suaranya baguuuuuus sekali.

Ketiga, saat anak-anak Sabang Merauke dan teman-teman dari Elsafan menyanyikan lagu Laskar Pelangi untuk persiapan farewell dinner Sabtu besok ini. Melihat wajah anak itu satu per satu, rasa sayang yang sudah ada semakin menggunung. Tapi, jika mengingat farewell dinner tinggal lima hari lagi, kok rasanya sedih ya? Kesepuluh anak itu akan kembali ke daerah masing-masing dan membawa banyak pengalaman baru serta akan menebar benih kebaikan di tempat tinggalnya. Dan rasa rindu itu pada anak-anak itu, pada kebersamaan ini, sudah terbayang di depan mata… Tapi saya juga mesti mengingat bahwa Sabang Merauke adalah Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali. Jadi, mereka memang harus kembali!

sm1

Setelah acara di Elsafan selesai, kami pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya mengecek email dan membaca undangan Farewell and Appreciation Dinner dari Sabang Merauke. Air mata yang tadinya hanya menitik, kini mengalir semakin deras. Ya, saya memang cinta pada kesepuluh anak itu, pada seluruh kakak-kakak Sabang Merauke, pada kebersamaan kami, dan pada tema yang mereka usung. Apalagi ketika mengingat bahwa anak-anak itu dan semua kakak sangat ramah sama Cha. Cha dipeluk, diusap, diajak main, diajak bercanda, dan diperhatikan.

Alhamdulillah. Terima kasih saya untuk semua.

 

Hari Pertama Bersama Villa, Anak Sabang Merauke dari Pasuruan

07 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Jika di welcoming dinner Sabang Merauke adalah pertemuan pertama kami, maka keesokan harinya menjadi hari pertama bagi kami untuk berkegiatan bersama.

Anak Sabang Merauke (ASM) yang menginap di rumah kami selama dua minggu bernama Villa; seorang anak perempuan berusia 14 tahun, beragama Hindu, dan berasal dari Desa Tosari di Pasuruan. Salah satu komponen utama dalam program Sabang Merauke adalah toleransi. Sebisa mungkin ASM akan menginap di keluarga yang berbeda suku serta agama dengannya. Villa adalah anak suku Tengger asli.

Hari Minggu pagi, Cha bangun lebih cepat daripada biasanya. Ketika bangun, hal pertama yang ditanyakan adalah “Ummi, Kak Villa udah bangun belum?” Ia tak sabar ingin bermain dengan kakak barunya.

Minggu pagi pertama diisi dengan obrolan seputar daerah Villa berasal. Saya terkejut ketika Villa cerita bahwa rumahnya hanya setengah jam dari Bromo. Waaaw, asyiiiik! Kami jadi makin semangat mengadakan kunjungan balik ke rumah Villa. Apalagi ternyata Ayah bilang kalau September, kantornya akan jalan-jalan ke Bromo.

Obrolan selanjutnya adalah seputar tata cara sembahyang Villa. Villa cerita kalau ia sembahyang tiga kali sehari. Pagi hari sekitar pukul empat sampai pukul lima, pukul dua belas siang, dan antara pukul enam sampai pukul tujuh malam. Ia sudah membawa semua perlengkapan sembahyang dan sembahyang bisa dilakukan di kamar. Kami juga berdiskusi mengenai pantangan makanan dalam agama Hindu. Sepengetahuan Ayah,  umat Hindu tidak boleh makan daging sapi, ternyata itu terjadi jika si anak sudah diberkati di usia tujuh belas tahun. Jadi saat ini Villa tidak ada pantangan makanan apa pun.

Selaku Family Sabang Merauke (FSM), sudah sepatutnya kami memperlakukan ASM seperti anak sendiri. Hal-hal penting seperti ini harus dibicarakan agar kami bisa menyiapkan segala sesuatu dengan baik agar Villa pun merasa nyaman.

Pagi itu, Cha asyik mengajak Villa bercerita, menggambar, lalu bermain kartu domino. Villa pun selalu menanggapi Cha dengan baik. Saya senang melihat mereka asyik bermain bersama, meski usianya terpaut delapan tahun. Sekitar pukul dua belas, setelah makan siang, kami masing-masing beribadah dan beristirahat.

Sekitar pukul dua siang, kami pergi karena Cha ingin sekali mengajak Villa menonton film Leher Angsa di bioskop. Leher Angsa adalah film besutan Alenia Pictures. Film-filmnya saya rekomendasikan untuk ditonton bersama keluarga karena biasanya bercerita tentang anak dan daerah di Indonesia. Film Alenia Pictures sebelumnya yang Cha dan saya tonton adalah Di Timur Matahari, film yang berkisah mengenai anak dan daerah Papua.

IMG_20130706_122641

Sambil menunggu pintu teater dibuka, Villa berujar ke saya, “Cha Cha anaknya aktif banget ya, Bu. Suka nanya juga.” Hihi, saya tertawa mendengarnya. Sewaktu welcoming dinner, saya sudah sampaikan hal ini biar Villa tidak kaget dan Villa pun menyampaikan bahwa ia suka anak seperti itu. Hubungan antara Cha dan kakak barunya ini pun perlu dijaga dan dikomunikasikan agar semua pihak bisa merasa nyaman.

Sebelum menonton Leher Angsa, saya hanya tahu kalau film ini bercerita tentang suatu desa yang tidak memiliki jamban sehingga warganya buang hajat di sungai. Awal film, kami disuguhi adegan perkenalan tokoh yang disajikan dengan unik. Melihatnya kami sudah tertawa-tawa. Ternyata sampai akhir film, kami selalu tertawa. “Filmnya lucu banget ya, Cha,” ujar Villa yang duduk bersebelahan dengan Cha, di tengah film.

Setelah film selesai, kami langsung pulang karena besok pagi Villa akan mengikuti kegiatan pertama bersama Sabang Merauke. Agar Villa tidak terlalu lelah dan cukup istirahat. Cha yang tadinya masih ingin mengajak Villa main di playground, alhamdulillah bisa mengerti kebutuhan kakaknya. Terima kasih, Cha. ^^

 

Welcoming Dinner Sabang Merauke

01 Jul 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 1

Sabtu kemarin menjadi hari penting untuk kami. Sejak pagi Cha sudah melonjak-lonjak riang karena akan menjemput Anak Sabang Merauke (ASM) yang akan menginap di rumah. Saya pun selalu mengecek timeline @SabangMeraukeID di twitter untuk mengetahui kegiatan para ASM. Kami berangkat sore hari, tak lupa Cha membawa dua hasil gambarnya untuk ASM yang dipanggil Kak Villa. Di sepanjang perjalanan Tangerang – Bendungan Hilir, Cha selalu bertanya, “Kok kita belum sampe? Kenapa jauh? Aku mau ketemu kakakku.”

Sesampainya di Restoran E*** F****, restoran makanan laut, ternyata kami menjadi orang yang pertama hadir. Sambil menunggu, kami asyik keliling melihat ikan-ikan hidup dan ikan segar yang dijual di sana. Nah, ketika sedang keliling sama Ayah, Cha melihat ada ikan hiu dijual. Cha langsung lari menghampiri saya. “Ummi, ada ikan hiu dijual. Ikannya masih kecil-kecil. Kasihan kan, Mi? Ayo, kita bilang bapaknya supaya nggak jual ikan hiu.” Jiwa aktivitis dan peduli lingkungannya pun keluar.  Cha menarik-narik tangan saya agar mau menemaninya memberi pesan ke bapak agar tidak lagi menjual ikan hiu. Sayang, bapak yang bertugas di sana tidak menggubris kami.

Sekitar pukul enam malam lewat, dua Family Sabang Merauke (FSM) bergabung bersama kami. Kami pun duduk bersama dan berbincang-bincang. Tak lama kemudian, dari pintu masuk, terlihat ASM dan Kakak Sabang Merauke (KSM) masuk ke restoran. Cha berteriak, “Kakaaak!” Kami pun menyambut mereka dan bersalaman serta berkenalan. Rasanya ketika bertatap muka dengan mereka.. tak terkatakan!

Cha langsung mengambil duduk di sebelah Kak Villa dan memberi dua hasil gambarnya. Keinginannya pun langsung dilaksanakan: Cha berpelukan dengan Kak Villa. Seperti layaknya Cha, ia pun dengan semangat bercerita aneka macam ke kakaknya. Yang seru adalah ketika beberapa KSM dan panitia Sabang Merauke mengetahui kalau Cha amat sangat menyukai dinosaurus. Mereka menegur Cha dan berbincang mengenai dinosaurus. Nggak lupa juga mengikuti gaya Cha ketika menjadi dino. :D

Acara welcoming dinner dibuka oleh Mas Victor selaku fasilitator dari Sabang Merauke. Mas Victor inilah yang mengisi orientasi awal para ASM, KSM, serta FSM. Saya merinding ketika Mas Victor meminta para bapak FSM, para ibu FSM, para Saudara Sabang Merauke (SSM), donatur SM, dan panitia SM berdiri secara bergantian. Terutama saat Mas Victor meminta para pendiri dan perumus SM berdiri, lalu berkata, “ASM nggak akan ada di sini tanpa mereka.” Saya dengan semangat berkata, “Betuuuuuul!” sambil bertepuk tangan dengan keras.

Setelah selesai perkenalan, acara makan malam pun dimulai. Sambil menikmati hidangan, FSM, KSM, ASM yang duduk di sekitar saya berbincang aneka macam. Seorang bapak FSM yang menerima ASM Apipa menyampaikan salut atas keberanian Apipa berangkat sendiri dari sebuah desa di Pontianak menuju Jakarta. Tentu saja itu bukan perjalanan mudah, menurutnya. Karena dia pun belum pernah merasakan perjalanan seperti itu. Saya pun salut jika membaca catatan perjalanan para ASM yang disampaikan Kak Ayu setiap harinya melalui email. ASM yang berasal dari Papua dan Sabah bahkan berangkat hari Senin agar bisa tiba hari Kamis atau Jumat di Jakarta. Kesepuluh ASM tak hanya melewati perjalanan udara, tapi juga darat dan laut. Keren!!

sm

Setelah sesi foto-foto dan bincang-bincang lagi, sekitar pukul delapan malam, kami berpamitan pulang karena masih perlu waktu lumayan untuk sampai ke rumah. Di sepanjang perjalanan ke rumah, Cha masih asyik bercerita ke Kak Villa. Saya pun mengingatkan Cha bahwa ketika sampai rumah, semua langsung siap-siap tidur dan menjelaskan bahwa Kak Villa capek karena dua hari ini kegiatannya lumayan padat. Alhamdulillah, Cha mengerti.

Selamat datang di rumah, Kak Villa. ^_^

***

 Merantaulah…

Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.

Pergilah kau, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena dia tertahan.

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak ‘kan keruh menggenang.

Singa takkan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang.

Anak panah jika tidak tinggalkan busur takkan kena sasaran.

~ Imam Syafi’i ~

Jadi Family Sabang Merauke

28 Jun 2013 Gita Lovusa Sabang Merauke 6

Sabang Merauke.

Dua kata yang memenuhi benak saya selama beberapa minggu ini. Awal perkenalan saya dengan Sabang Merauke adalah saat Lalu Abdul Fatah yang biasa dipanggil Fatah mengunggah foto Sabang Merauke di facebook. Di foto tersebut disebutkan kalau Sabang Merauke sedang mencari Anak Sabang Merauke (ASM), Kakak Sabang Merauke (KSM), dan Family Sabang Merauke (FSM).  Membaca deskripsinya, saya tertarik! Fatah pun menawarkan untuk mengirim formulir ke saya via email. Yay, saya senang banget! Setelah berdiskusi dengan suami mengenai hal ini, kami pun sepakat untuk mendaftar sebagai FSM. Iyalah, daftar sebagai anak dan kakak sudah nggak mungkin soalnya. Mungkin nanti Cha yang akan jadi ASM dan dikirim ke daerah lain di Indonesia. Aamiiin.

Beberapa minggu kemudian, sebuah email dari Sabang Merauke datang. Mereka mengabarkan kalau kami lulus seleksi berkas dan akan dikunjungi oleh salah satu Tim Seleksi. Saya pun berjanjian dengan Kak Tidar karena beliau yang akan ke rumah kami. Kak Tidar bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas keluarga dan yang utama adalah apakah kami bersedia jika ASM yang menginap di rumah kami berasal dari suku dan agama yang berbeda? Alhamdulillah, kami sepakat untuk menerima dari mana pun mereka berasal.

Selain itu, kami juga mengobrol banyak hal mengenai Sabang Merauke. Saya tak henti-hentinya terperangah mendengar cerita Kak Tidar. Saya kaget ketika tahu bahwa orang-orang yang ada di Sabang Merauke adalah para pekerja penuh waktu dan menggunakan waktu setelah bekerja untuk mengurus Sabang Merauke. Soalnya tadinya saya mengira mereka memang bekerja di Sabang Merauke. Kak Tidar juga bercerita pengalaman serunya sewaktu menjadi pengajar muda di Indonesia Mengajar dan ketika menyeleksi anak-anak Sabang Merauke.

Tak lupa Cha juga memeriahkan wawancara malam itu dengan aksi dinonya. Maaf ya, Kak Tidar. Baru pertama kali ketemu, langsung disambut oleh dinosaurus. ^_^

Tak lama setelah kunjungan Kak Tidar ke rumah, saya menerima email kalau kami terpilih menjadi Family Sabang Merauke. Waaah, alhamdulillah, tak terkira senangnya. Kalau kata Fatah, “Bakal jadi pengalaman kece banget, Mbak!”

 

Orientasi Awal

Hari Minggu kemarin, KSM dan FSM diundang Sabang Merauke untuk menghadiri orientasi awal. Saya dan suami menyesal banget datang ke acara ini. Menyesal karena nggak membawa Cha. Bayangan saya acara ini akan resmi sekali, jadi saya pun menitipkan Cha ke nenek dan kakeknya. Ternyata oh ternyata, acaranya seru!

Setelah acara pembukaan, kami semua diajak berkenalan dengan permainan. Membuat lingkaran, lalu setiap orang menghitung satu dua, satu dua, sampai selesai. Instruktur akan memberi aba-aba yang harus diikuti. Kami harus melompat, balik kanan/kiri sesuai nomor, miringkan kepala sambil senyum, berjabat tangan, dan bertanya, “Halo, apa kabar? Saya baik-baik banget.” sambil melompat-lompat. Di sesi ini pipi rasanya pegal karena tertawa.

Belum hilang pegalnya, kami harus menulis nama hewan atau tumbuhan di sebuah kertas dan minta tolong teman untuk menempelkan kertas tersebut ke punggung. Lalu setiap orang akan memperkenalkan diri sesuai nama hewan atau tumbuhan yang ditulis. Ada yang mengatakan “Saya kutu!” “Saya hamster” “Saya beringin!” “Saya melati!” Pipi pun semakin pegal karena tertawa melihat aksi yang lucu-lucu.

Dari awal sampai akhir acara, permainan terus ada. Namun ada juga sesi serius tapi santai. Terutama saat kami diminta membuat kelompok dan membahas mengenai pendidikan, keIndonesiaan, dan toleransi. Juga saat kami diminta untuk membuat daftar peran sebagai KSM, FSM, dan SSM (Saudara Sabang Merauke). Sehabis makan siang, ada Mas Adam dan Mbak Hani yang bercerita mengenai pengalamannya sebagai host family. Di sesi ini Kak Tidar kembali membuat terharu dengan ceritanya mengenai pengalamannya menangani anak-anak di daerah.

Di hari itu saya belajar banyaaaaak sekali. Belajar mengenai kepedulian para pendiri, perumus, dan pendukung Sabang Merauke pada anak-anak Indonesia. Mereka tak ingin kebencian hadir hanya karena sesuatu hal yang turun-temurun. Seperti cerita Kak Ayu yang pernah mengajar di suatu daerah yang 100% Islam. Penduduk di sana takut pada orang dari satu agama tertentu, padahal mereka belum pernah ketemu dengan orang dari agama tertentu itu. Orang-orang hebat di balik Sabang Merauke berpikir bahwa toleransi itu tidak hanya diajarkan, tapi harus dirasakan. Saya sangat setuju dengan hal ini. Filosofi ini pun sejalan dengan lomba menulis mengenai xenophobia yang saya ikuti beberapa waktu lalu.

Saya belajar untuk mengenal anak-anak Indonesia dari cerita-cerita Kak Tidar.

Saya belajar mengenai keseriusan Sabang Merauke dalam mengorganisir sesuatu. Mereka rapi serta detil dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Di hari itu, kami mendapat nama ASM yang akan tinggal di rumah kami selama dua minggu. Ia seorang anak perempuan aktif dan cerdas yang berbeda suku serta agama dengan kami. Semoga, semoga, semoga, kami bisa menjadi keluarga yang baik untuknya. Dari kemarin Cha sudah sibuk bertanya, “Kapan kakakku datang?” dan tadi sore Cha menggambar sesuatu untuk kakaknya itu serta bertekad, “Besok kalau ketemu, mau aku peluk, ya.”

Malam ini, anak kami tersebut, kakak Cha, sedang dalam perjalanan menuju Jakarta. Ia akan bertemu ASM lain dan bertemu panitia dari Sabang Merauke. Menumpuk sekali rasa salut saya untuk kakak-kakak panitia Sabang Merauke. Semoga semua yang direncanakan akan berjalan dengan indah dan memberi kebaikan serta manfaat bagi banyak pihak.

 

orientasi SM