Kembali ke Sang Pencipta

09 Dec 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Sewaktu duduk di kelas 5 SD, saya pernah menjadi takut tidur ketika mengetahui bahwa siapapun bisa meninggal. Tak peduli muda atau tua, sakit atau sehat. Sebelumnya, saya pikir hanya bayi yang baru dilahirkan dan orang lanjut usia yang sudah sakit-sakitan yang bisa meninggal. Pemahaman saya terkoreksi begitu melayat saudara sepupu yang meninggal pada usia 17 tahun. Di rumah duka, saya mendengar percakapan, “Memang ya, usia itu nggak bisa ditebak. Masih muda dan dalam keadaan sehat saja bisa meninggal.” Seketika saya diselimuti rasa takut dan pikiran bahwa ternyata saya juga bisa meninggal kapan saja.

Sejak saat itu, saya tak mau tidur. Saya ingin terus terjaga agar kemungkinan meninggal itu tidak akan datang. Ibu saya menjelaskan bahwa meninggal itu kejadian alami, tidak perlu ditakutkan, kita seperti pergi ke tempat lain dalam waktu lama. Perlahan, saya mulai kembali berani tidur.

Peristiwa itu merupakan salah satu kejadian masa kecil yang lekat di ingatan. Setelah menjadi ibu, saya memikirkan cara untuk menjelaskan pada anak kelak jika ia bertanya soal tutup usia. Saya tak ingin ananda merasakan ketakutan akan kematian, seperti yang pernah saya rasakan.

Allah SWT memang Mahabaik. Saya diberi kesempatan untuk mengenalkan makna meninggal dengan cara tersendiri. Beberapa bulan lalu, putri saya yang biasa dipanggil Cha Cha kenal seorang anak bernama Abdullah (6 tahun), putra teman baik saya. Saat itu Abdullah masuk rumah sakit dan ditempatkan di ICU anak-anak. Cha Cha mulai bertanya tentang Abdullah. “Abdullah kenapa? Sakit apa?” Meluncurlah cerita saya tentang yang dialami Abdullah. Saya pun mengajak Cha Cha berdoa untuk Abdullah.

Beberapa hari setelahnya, saya dapat kabar Abdullah berpulang. Dengan polosnya, Cha Cha bertanya, “Abdullah meninggal? Berarti Abdullah sudah disembuhin sama Allah?” Saya yang tadinya bercucuran air mata mendadak diam beberapa detik, berusaha mencerna pertanyaannya. Saya akhirnya bisa menjawab, “Benar, Cha. Benar. Abdullah sudahdisembuhin Allah.”

Ternyata kejadian itu membuat Cha Cha banyak bertanya. Akhirnya kami berdiskusi mengenai aneka tema, mulai dari sakitnya seseorang, doa, tentang kasih sayang dan kuasa Allah, soal perasaan, meninggal, alasan orang meninggal dimasukkan ke tanah, mengenai makhluk hidup, dan lainnya.

Beberapa hari setelah meninggalnya Abdullah, Cha Cha tiba-tiba bilang, “Ummi, aku mau ke langit dulu, ya.”

Saya yang lagi mencuci piring, terkejut mendengarnya, “Mau ngapain, Cha?”

“Aku mau ketemu Abdullah di langit. Abis Abdullah mainnya lama sama Allah.”

Beberapa detik kemudian. “Ummi, kayanya Allah suka deh, main sama Abdullah,” sahut Cha Cha sambil tersenyum.

Di lain waktu, Cha Cha menatap langit, lalu berteriak, “Abdullaaaaahh…”

“Cha, kenapa?” tanya saya.

“Aku ingin main sama Abdullah, Mi. Gimana caranya aku ketemu Abdullah? Aku naik ke langit? Naiknya gimana?”

Saat kami sedang di kendaraan, Cha Cha kembali bertanya. “Kenapa Abdullah meninggal ya, Mi? Padahal kan, ibunya sayang sekali sama Abdullah.”

Pertanyaannya tak terjawab spontan oleh saya. “Betul, Cha. Ibunya memang sayang sekali sama Abdullah, tapi Allah jauh lebih sayang.”

Cha Cha diam beberapa saat, lalu mengangguk. “Oh, Allah juga sayang sekali ya, sama Abdullah.” Saya mengiyakan pernyataannya.

Keinginan untuk bertemu Abdullah dan pertanyaan seputar meninggalnya Abdullah terus keluar dari mulut mungilnya. Meski Abdullah dan Cha Cha tidak pernah bertemu, Cha Cha pun hanya mengenal Abdullah melalui cerita saya, saya tak ragu untuk menyebut mereka sebagai sahabat hati. Dua sahabat yang dipertemukan Allah dalam rangka untuk semakin mengenal-Nya.[]

 

[Tulisan ini pernah dimuat di Leisure Republika Selasa 11 Desember 2012]

leisure