Miong Tetap Hidup di Hati

09 Dec 2013 Gita Lovusa Cerita Hari-hari, Kematian 1

Enam belas hari sejak kematian Miong, anak kucing yang kami pelihara. Ia datang ke halaman rumah, mengeong dalam keadaan badan dan kaki penuh luka, serta dikerubungi lalat. Cha meminta kami, untuk menolong anak kucing tersebut. “Hatiku retak liatnya, Mi. Kasian.” Kami membantunya sebisa mungkin. Ayah membersihkan lukanya dengan air hangat, sedangkan saya menyiapkan segala keperluan untuk itu, seperti lap, kain, air, plastik, dan lain-lain. Saya pun bertanya ke beberapa teman mengenai pertolongan selanjutnya, “Bagaimana cara memberi susu atau makan? Di mana praktik dokter hewan di Tangerang?” karena kami belum pernah mengurus anak kucing sebelumnya.

Anak kucing itu diberi susu yang ada di rumah dengan menggunakan sedotan. Ia tidak menyedot susunya dengan sedotan karena sepertinya tenaganya belum sanggup untuk melakukan itu. Ayah memfungsikan sedotan seperti pipet, dengan membuka dan menutup ujung sedotan dengan jari. Setelah itu kami membawanya ke klinik dokter hewan di Kembangan, dokter menyatakan bahwa luka si anak kucing parah sekali. Dokter hewan membersihkan luka dan membekali kami dengan beberapa obat, susu kucing, pipet, dan lainnya. Keesokan harinya kami ke dokter hewan yang praktik di Cipondoh, di dekat rumah. Luka-luka Miong dijahit, badannya disuntik, dan kami kembali dibekali obat-obatan.

Kami mengurus dan mengobati lukanya sebisa mungkin atas saran dokter hewan. Di hari keempat berada di rumah, Miong belajar untuk berdiri dan jalan, meskipun awalnya terjatuh-jatuh, akhirnya ia bisa berjalan, meski dengan kondisi tiga kakinya patah. Hari ke hari keadaannya semakin membaik, jalannya semakin cepat, makannya pun banyak. Cha senang sekali mengajaknya bermain cilukba, main bola, bahkan kandang Miong pernah dihias dedaunan oleh Cha. “Biar kandangnya cantik, Mi.”

IMG-20131119-01564

 

Miong selalu antusias ketika kami bangun tidur atau pulang ke rumah. Ia akan mengeong nyaring sekali. Miong juga senang mencari kaki, berharap kami akan mengelusnya dengan kaki. Hihi.. Namun, di hari ke delapan belas Miong berada di rumah, ia mulai menunjukkan gejala yang berbeda. Makan sedikit dan terlihat lemas. Kami membawanya ke dokter hewan untuk periksa sekaligus kontrol mingguan. Dokter mengatakan kaki depan Miong sudah kaku, kemungkinan infeksi sudah menyebar ke darah. Dokter sempat mengatakan, “Kalau Miong ada kejang atau badannya panas, kemungkinan tetanus, Pak, Bu. Kalau benar tetanus, Miong harus disuntik mati agar tidak membahayakan.”

Saya tidak membayangkan kalau itu terjadi dan berharap setelah diberi obat baru, keadaan Miong akan lebih baik. Keesokan harinya, pada Minggu subuh, saya keluar kamar dan menyalakan lampu, Miong tak mengeong, padahal biasanya ramai sekali. Ketika saya tengok, rupanya tubuhnya semakin tak berdaya. Ia sudah tak mampu berdiri. Sekitar pukul 8 pagi, Miong mati.

Bukan hanya Cha yang menangis, Ayah pun tertunduk dan diam, air mata saya mengalir. Kami menguburnya di halaman rumah, tempat Cha melihatnya pertama kali.

Seperti yang disampaikan Mas Alan, suami Mbak Shant, “Duka itu pendek. Yang panjang adalah rasa rindu.”

Ucapan itu betul sekali seperti yang kami rasakan. Meski hanya anak kucing, meski hanya sembilan belas hari, kami merasa sangat dekat dan menganggap Miong seperti anggota keluarga sendiri. Cha masih suka menangis tiba-tiba dan bilang, “Kangen Miong, kangen Miong.” Ayah masih menitikkan air mata jika kami bercerita tentang Miong, padahal cerita lucu tentang Miong, atau ketika Cha menirukan suara ngeong Miong.

Ketika hujan turun, Cha berteriak, “Ummi, ujaaan. Nanti Miong kebasahan nggak? Kalo Miong kena petir gimana?”

Ketika saya sampaikan bahwa Miong sudah sehat dan main-main sama Allah sekarang, Cha berkomentar, “Kalo Miong udah sehat, kita gali aja kuburnya.”

Ketika datang berita tentang meninggalnya seseorang, Cha bertanya, “Kenapa banyak yang meninggal ya, Mi?”

“Kenapa memangnya, Cha?”

“Iya, kemaren bapaknya Pak Satpam, dulu Miong. Kenapa banyak yang kembali ke Allah?”

Ketika Cha ingat kembali dengan Miong, ia bertanya, “Ummi, kalo aku meninggal kaya Miong, orang-orang bakal cari aku enggak, ya? Bakal kangen aku nggak, ya?”

Pertanyaan atau pernyataan seperti ini membuat hati menjadi gerimis. Sambil menahan air mata, saya berusaha menjawabnya. Menjelaskan sedikit mengenai roh, menjabarkan bahwa selain banyak yang meninggal, banyak juga bayi yang baru dilahirkan, sesederhana mungkin mengenalkan prinsip keseimbangan. Tanggapannya mengenai prinsip keseimbangan adalah dengan berdiri di pinggir sofa, merentangkan kedua tangan, dan berjalan pelan. “Aku seimbang,” sahutnya sambil tersenyum ceria.

Kemarin, saat kami sedang membaca surat Az-Zalzalah dan membaca arti ayat 6: “Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka.”

“Keluar dari kubur? Berarti Miong nanti juga keluar?” tanya Cha.

“Mungkin, Cha. Nanti Miong kalo keluar, insyaAllah dalam keadaan sehat, ya. Miong kan, baik ya. Ntar Miong keluar cari-cari Cha. ‘Mana ya, anak kecil yang baik hati, yang dulu tolong aku?'” Saya berkata seperti ini dengan maksud menyenangkan hati Cha dan menegaskan bahwa yang dilakukannya sungguh baik. Namun reaksi Cha di luar dugaan. Bibir Cha bergetar.

“Lho, kenapa Cha?”

Tangisnya pun pecah. “Kangen Miong, kangen Miong. Kalo Miong keluar dari kubur, ketemu Cha Cha, Miong harus ke sini lagi. Main lagi di rumah Cha Cha.”

Saya memeluknya. “InsyaAllah, Cha. InsyaAllah.”

Setahun yang lalu, Cha pertama kali belajar tentang kematian dari meninggalnya Abdullah [saya tulis kisahnya di Kembali ke Sang Pencipta]. Hari ini ia  bersama kami mengulangi kembali pelajaran itu.

“Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!” (HR. Tirmidzi)

***

Tulisan ini pernah dimuat di Leisure, Republika, di rubrik Buah Hati, 28 Januari 2014.

leisure